Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Lelaki Bersarung dan Secangkir Kopi Senja 

Nur Wachid • Senin, 4 Maret 2024 | 16:30 WIB
(GRAFIS: DOK. JAWA POS RADAR MADIUN)
(GRAFIS: DOK. JAWA POS RADAR MADIUN)

Di kejauhan rombongan burung camar terbang berkejaran dengan awan yang biru. Sementara diorama pelangi menambah keindahan senja itu. 

Karya: Rusmin Sopian

SAAT matahari mulai menuruni langit, lelaki muda yang bersarung itu selalu mampir sebentar di warkop yang terletak di dekat Kantor Desa. 

Diorama pelangi yang berwarna warni seolah ikut mengantarnya ke warung kopi untuk sekedar menikmati kopi terbaik yang ada di Desa itu sebelum menuju ke Masjid. 

Kepak sayap rombongan camar yang mengangkasa diatas awan yang biru, seakan-akan ikut mengiringi perjalanannya ke warkop itu.

" Kopi, Mas?," tawar sang penjaga warung depan suara santun.

" Oh, ya. Mumpung azan magrib belum berbunyi," jawabnya.

Dan seperti biasanya menjelang senja, hanya dirinya dan penjaga warkop yang ada di warkop itu sehingga lelaki bersarung itu bisa menikmati wajah sang penjaga warung kopi dengan leluasa tanpa harus dibaluti dengan kesibukan melayani para penikmat kopi yang biasanya ramai pada pagi dan siang hari.

Menikmati kopi seduhan sang penjaga warung yang cantik di setiap senja, mengukir memori lamanya.

Penjaga warung kopi yang biasa dipanggil Asih oleh para penikmat kopi,  membangkitkan impiannya tentang masa lalunya. 

Ya, masa lalunya.

Wajah Asih mirip dengan wanita cantik yang pernah singgah di hatinya beberapa tahun lalu. Seorang perempuan berwajah keibuan yang sangat dijaganya kehormatannya sebagai perempuan. 

Seorang wanita cantik anak seorang petinggi Desa yang membuatnya bercita-cita tinggi sebagai seorang berpengetahuan tinggi.

 " Aku akan melamar mu, kalau aku sudah bertitel," ucapnya kepada wanita anak petinggi Desa itu saat bulan purnama.

Wanita anak petinggi Desa itu tersenyum. 

Sinar rembulan malam pun  ikut tersenyum mendengar narasi lelaki muda itu. Seolah-olah ikut berbahagia. Kelap kelip bintang di langit  menambah keindahan malam itu. Cahaya purnama pun tiba dengan senyumnya yang khas.

Asih, sang penjaga warung hanya menunduk. Tak ada kata yang terucap dari bibirnya. Tak ada. Seakan-akan terkunci dengan sangat rapat.

Lelaki muda itu mendekat Asih. Sebuah bisikan dilontarkannya. Terdengar kencang di gendang telinga wanita Desa itu. Jantungnya berdegup kencang. Tidak beraturan.Nafasnya terengah-engah. 

" Aku ingin melamar mu, dik Asih," ucapnya pelan. Seolah malu dengan desis angin senja yang menghampiri dirinya.

Perempuan itu terdiam sejenak. Wajahnya seketika merona bak bunga mawar yang mekar.

Asih tiba-tiba mengangguk kepalanya. 

BIODATA SINGKAT: Rusmin Sopian, Ketua Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Kabupaten Bangka Selatan. Cerpennya tersiar di berbagai media massa lokal dan nasional. Saat ini tinggal di Toboali, Bangka Selatan, bersama istri dan dua putrinya yang cantik.


MAKLUMAT

Jawa Pos Radar Lawu menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, opini, esai dan resensi di kolom Sosial-Budaya pada portal radarlawu.jawapos.com. Naskah berupa file Microsoft Word, khusus puisi maksimal lima judul.

Adapun kiriman merupakan karya orisinal, bukan hasil plagiasi karya orang lain, serta belum pernah dipublikasikan. Karya menjadi tanggung jawab penulis. Cantumkan uraian singkat identitas diri, karya dapat dikirim melalui surel ke alamat wachidradarmadiun@gmail.com. Kunjungi juga Instagram @jawapos.radarlawu. Salam.

 

 

Editor : Nur Wachid
#cerpen #Lelaki Bersarung #Rusmin Sopian #Secangkir Kopi Senja #GPMB #bangka selatan