Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Cerpen Penjual Kesedihan

R
Penulis: Redaksi❯
Cerpen Penjual Kesedihan.
Cerpen Penjual Kesedihan.

Cerpen Penjual Kesedihan (Karya Rusmin Sopian) 


Advertisement

LELAKI itu datang ke kampung kami. Aroma kesedihan mulai hadir menghiasi kehidupan Kampung Kami yang damai dan tenteram. Menyusup dalam nurani para penghuninya.

Siang dan malam. Menggerogoti rongga terdalam para warga. Menenggelamkan mereka ke dalam kesedihan pula.

Para penduduk seolah-olah larut dalam kesedihan yang amat menyayat jiwa. Kesedihan yang amat menusuk kalbu. Kesedihan kini menjadi bagian dari para warga. Kesedihan harus mereka rasakan walaupun mereka sendiri belum pernah menikmati sesuatu yang bernama kesedihan.

Advertisement

Kesedihan itu baru hilang ketika lelaki itu menikmati nasi padang dengan lahapnya di warung milik Mbak Tri dipinggir Kampung.

Lelaki itu amat menikmati setiap butir nasi padang dengan lauk rendang yang tersusun rapi di meja bersama lauk lainnya. Ada senyum bahagia yang terpancar dari wajahnya usai meninggalkan warung nasi Padang yang amat kesohor itu.

Aroma kesedihan kali ini menjangkiti kehidupan warga di kecamatan. Tiap hari mereka dirundung kesedihan yang amat menyayat hati.

Advertisement

Di tiap sudut jalanan kecamatan, kesedihan menjadi bahan pembicaraan. Disetiap pertemuan para warga kesedihan menjadi tema pembicaraan. Kesedihan sudah mengepung hidup para warga. Tak terkecuali tukang becak, ojek hingga petinggi Kecamatan. Mereka diserang syndrome kesedihan tanpa ampun.

" Siapa sih yang membawa kesedihan ke tempat tinggal kita ini," tanya seorang warga yang sudah merasa kesal dengan aroma kesedihan itu.

" Paling mereka yang sedih ditinggalkan istri tercinta," jawab warga yang lain.

" Heran. kesedihan kok tak pernah habisnya,' sambung yang lain.

" Tukang becak di sudut Kantor Kecamatan saja nggak pernah bersedih. Padahal hidupnya amat menyedihkan," sergah seorang warga.

Sejumlah warga akhirnya, datang ke rumah Pak Camat. Mereka kesal dan ingin mengadu kegelisahan warga yang terus menerus dirundung kesedihan yang datangnya tak jelas.

Kesedihan seolah menjadi virus menular baru yang amat menakutkan. Padahal mereka sendiri sebagai warga Kecamatan tak pernah bersedih walaupun hidup mereka sangat menyedihkan sekali.

Pak Camat ternyata sudah mendengar berita tentang kesedihan yang melanda warganya.

Pemimpin Kecamatan ini amat tenang dalam menanggapi keluhan warganya. Tak ada rasa kesal di raut wajah. Tak ada sama sekali.

Yang terlihat di raut wajah Flamboyan petinggi Kecamatan itu hanyalah seutas senyuman yang terus diumbarnya di hadapan warga yang datang mengadu kepadanya.

" Nanti akan saya perintahkan staff saya untuk mengurusnya. Bapak-bapak tenang saja. Insya Allah akan teratasi," ungkap Pak Camat dengan nada penuh optimis.

" Kami minta kesedihan itu segera enyah dari Kecamatan kita Pak Camat. Jangan sampai kesedihan menjadi virus yang menjelma menjadi epidemi bagi warga kita," pinta Warga sembari meninggalkan kediaman Pak Camat.

Kesedihan tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi. Dan kesedihan memang menghilang di kecamatan usai lelaki itu menikmati hidangan soto di warung terkenal di Kecamatan.

lelaki itu amat lahap menghirup kuah soto ayam milik Mbok Darmi yang memang amat terkenal di Kecamatan. Hanya kalangan tertentu saja yang bisa menikmati soto di warung yang harganya melangit.

lelaki itu tampaknya amat menikmati setiap asupan soto yang masuk ke dalam perutnya. Nikmatnya sangat terasa hingga ke ubun-ubun penikmatnya.


Kini warga Kota Kabupaten yang dilanda epidemi kesedihan. kesedihan itu datang menyasar rumah-rumah warga seiring datangnya seorang lelaki ke Kota ini. kesedihan itu mengapung di udara bebas. Merobek jantung warga. Menjilat nurani warga. Menusuk kalbu para penghuni Kota tak pernah merasakan kesedihan.

Kesedihan kini menjadi frasa baru bagi para warga Kota. Tiap hari mereka bercerita tentang kesedihan dan kesedihan yang sangat asing bagi mereka. Kesedihan kini merajai Kota dan otak warga. Semua warga Kota menceritakan tentang kesedihan.

" Saya heran kok kita terjangkit penyakit kesedihan,' ungkap seorang warga .

" Kita saja tak pernah merasakan kesedihan seperti ini," sahut warga yang lain.

" Kita harus waspada dengan serangan virus kesedihan ini. Virus ini sangat berbahaya. Sangat berbahaya,' ujar seorang warga Kota yang berprofesi sebagai dokter.

" Ayo, kita laporkan ke Bapak Walikota. Sebagai pemimpin, beliau harus tahu dan jangan diam seribu bahasa atas persoalan yang menimpa warga Kota. Bukankah dulu kita memilih beliau untuk membahagiakan kita, warganya," usul seorang warga.

Mereka akhirnya bersepakat. Melaporkan kondisi Kota kepada Pak Walikota. Melaporkan soal kehadiran virus kesedihan yang mulai melanda nurani para penghuninya.

" Kondisi ini tak bisa dibiarkan. Bisa menjadi virus Kota. Bisa merusak tatanan kehidupan warga Kota," pikir warga.

Ternyata Pak Walikota sudah mendengar virus kesedihan yang melanda warganya. Yang mengusik nurani warganya. Dan membuat seluruh Kota kehilangan energi membangunnya karena diserang virus kesedihan datang menyergap nurani warga tanpa malu.

" Saya sudah mendengar dan merasakan virus kesedihan ini. Insya Allah nanti saya akan perintahkan staff saya bagian sosial mengurusnya," janji Pak Walikota dengan suara penuh wibawa.

" Mohon secepatnya Pak Walikota laporan kami ini ditindaklanjuti. Jangan sampai virus kesedihan ini melemahkan semangat kami warga Kota," ungkap seorang warga dengan nada suara amat kesal.

" Dan kami tak mau Kota ini terjangkit virus kesedihan yang justru tak pernah kami rasakan sebagai penghuni Kota ," sambung warga yang lain.

Kesedihan itu tiba-tiba menghilang bak hantu, usai lelaki itu sedang menikmati secangkir kopi di kedai kopi ternama.

Lelaki itu amat menikmati sekali kopi dari cangkirnya yang terbuat dari airmata kesedihan warga Kota.

Kedai kopi itu memang kedai kopi termahal yang ada di Kota Kabupaten itu. Hanya kasta tertentu yang bisa menikmati aroma kopi di kedai kopi ternama itu.

Tukang becak, tukang ojek atau klas menengah ke bawah Kota, jangan berharap bisa duduk di kedai kopi itu. Mencium bau aroma kopi saja sudah kegembiraan bagi warga Kota.


Menjelang lebaran tiba, kesedihan itu kembali datang menerjang nurani warga. Mengapung di udara bebas Kampung, Kecamatan dan Kota.

Kesedihan itu amat menoreh jiwa para warga. Mencabik-cabik dinding hati warga dan penghuni Kota. Mencakar-cakar dinding hati warga Kampung. Mencakar-cakar nurani warga Kota.

Dan sungguh aneh bin ajaib, kali ini kesedihan itu tak mendapat respon di hati warga. Mereka, para warga Kampung, Kecamatan dan Kota seolah sudah imun dan kebal dengan suara kesedihan yang kembali datang menyergap nurani warga tanpa malu. Para warga seolah-olah sudah paham tentang kesedihan yang kembali menyerang Kota mereka.

Warga seolah cuek dan seakan-akan sudah kebal dengan suara kesedihan yang kembali beraksi itu.

Para warga sudah tak memperdulikannya lagi. Tak memperdulikan lagi suara kesedihan yang datang menerpa gendang telinga mereka.

Para penghuni seolah sudah menulikan telinga mereka terhadap suara kesedihan yang kembali bergaung kencang.

Warga seolah membiarkan suara kesedihan itu mengapung dengan sendirinya di udara bebas kampung dan Kota mereka.

Tak ada lagi respon cepat dari warga terhadap epidemi kesedihan ini yang kembali menyerang nurani warga. Tak ada lagi gerak cepat dari warga saat kesedihan itu kembali mengepung Kota mereka. Tak ada sama sekali.

Mereka seolah membiarkan kesedihan itu terapung dalam kesendiriannya.

Ya, para warga membiarkan kesedihan itu sebatang kara terapung dalam udara bebas kehidupan mereka.

Toboali, Mei 2025


BIODATA SINGKAT: Rusmin Sopian adalah pegiat dan penulis yang tinggal di Toboali Bangka Selatan. Cerpennya tersebar diberbagai media massa lokal dan luar Bangka Belitung. Saat ini tinggal di Toboali Bangka Selatan bersama istri dan dua putrinya yang cantik serta kakek satu orang cucu yang bernama Nayyara Aghnia Yuna.

Advertisement

Artikel Terkait

Ditendang Malaikat

Ditendang Malaikat

Cerpen Ditendang Malaikat karya Masuki M Astro, redaktur senior LKBN Antara asal Bondowoso, Jawa Timur.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer