Jawa Pos Radar Lawu - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan ternyata tidak berhenti di wilayah Indonesia. Asap terbawa angin melintasi perbatasan hingga mencapai Sarawak, Malaysia, yang berada di Pulau Kalimantan.
Dampaknya cukup serius. Aktivitas sekolah di sejumlah wilayah Malaysia ikut terganggu karena kualitas udara memburuk dan masuk kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.
Awalnya 108 Sekolah di Serian Ditutup
Pada 12 Agustus 2026, sebanyak 108 sekolah di Divisi Serian, Sarawak, untuk sementara ditutup setelah indeks pencemaran udara atau API mencapai lebih dari 200. Pemerintah setempat menerapkan pembelajaran dari rumah agar kegiatan belajar siswa tetap berjalan.
Pada saat itu, wilayah Serian mencatat API 202, sementara Tebedu bahkan mencapai 212. Dalam sistem penilaian kualitas udara Malaysia, angka 201-300 masuk kategori sangat tidak sehat.
Penutupan sekolah bukan dilakukan tanpa alasan. Anak-anak termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak buruk polusi udara, sehingga kegiatan belajar tatap muka dihentikan sementara ketika kondisi udara mencapai ambang yang berbahaya.
Baca Juga: Pray for Kalimantan, Kabut Asap Kembali Menguji Borneo
Asap dari Kalimantan Menyeberangi Perbatasan
Kabut asap tersebut berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di berbagai wilayah Kalimantan. Kondisi cuaca yang kering membuat api lebih mudah menyebar, sementara angin muson barat daya turut membawa asap menuju wilayah Sarawak.
Pada periode 1-11 Agustus, otoritas Sarawak mencatat 75 titik panas di Sarawak, sementara jumlah titik panas yang terdeteksi di Kalimantan mencapai 3.853 titik. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kabut asap lintas batas.
Reuters juga melaporkan bahwa kabut asap dari kebakaran di Indonesia telah menyebar ke Sarawak dan menyebabkan kualitas udara di sejumlah wilayah memburuk.
Dampaknya Makin Meluas
Kasus 108 sekolah di Serian ternyata bukan akhir dari persoalan. Dalam perkembangan terbaru pada 21 Agustus 2026, hampir 600 sekolah di Sarawak dilaporkan ditutup dan sekitar 200.000 siswa terdampak akibat memburuknya kualitas udara.
Di sisi Indonesia, kebakaran juga masih menjadi perhatian serius. Pemerintah memprioritaskan penanganan karhutla di Kalimantan karena peningkatan titik panas dan dampaknya terhadap kualitas udara serta kesehatan masyarakat.
Kabut asap yang menyeberang ke Malaysia menjadi pengingat bahwa karhutla bukan hanya persoalan satu daerah atau satu negara. Ketika hutan dan lahan terbakar di Kalimantan, dampaknya dapat ikut dirasakan masyarakat di seberang perbatasan.
Dari aktivitas sekolah hingga kesehatan masyarakat, asap yang terbawa angin menunjukkan bagaimana satu kebakaran dapat berubah menjadi persoalan lintas negara. (*)
(Magang, Anggie Putri Wijayanti - Universitas Negeri Surabaya)
Editor : Tim Content Writer Radar LawuSumber : The Vibes, Nadma, AP News, Reuters