Pray for Kalimantan, Kabut Asap Kembali Menguji Borneo

Tim Content Writer Radar Lawu • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 21:13 WIB
Source: Tirto.id
Source: Tirto.id

Jawa Pos Radar Lawu - Kalimantan kembali menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah kondisi kemarau yang cukup kering. Asap dari sejumlah titik kebakaran bahkan berpotensi terbawa angin menuju wilayah perkotaan dan negara tetangga.

Kondisi ini menjadi perhatian karena musim kemarau 2026 dipengaruhi oleh El Niño kuat. BMKG menyebut kondisi tersebut meningkatkan risiko kekeringan sekaligus potensi munculnya titik panas di sejumlah wilayah rawan karhutla.

Kalimantan Barat Jadi Salah Satu Wilayah yang Perlu Diwaspadai

Berdasarkan pemantauan BMKG, hingga 29 Juli 2026 terdapat 5.019 titik panas di Indonesia, dengan konsentrasi yang cukup dominan berada di Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau. BMKG juga memperingatkan bahwa risiko karhutla diperkirakan meningkat pada puncak kemarau sekitar Agustus–September.

Memasuki Agustus, kondisi di Kalimantan Barat semakin mendapat perhatian. Data BPBD Kalimantan Barat mencatat luas lahan yang terbakar sejak Januari hingga Agustus 2026 telah mencapai 38.310,86 hektare.

Asap yang dihasilkan tidak hanya menjadi persoalan di sekitar lokasi kebakaran. BMKG Kalimantan Barat memperingatkan asap dari wilayah Ketapang dan Kayong Utara berpotensi terbawa angin menuju Pontianak, bahkan dapat bergerak hingga ke negara tetangga. Kondisi ini dipengaruhi arah angin dominan dari tenggara hingga selatan serta rendahnya peluang hujan yang diperkirakan masih berlangsung hingga akhir September.

Pemerintah Kerahkan Modifikasi Cuaca

Berbagai upaya dilakukan untuk menekan meluasnya kebakaran. Salah satunya melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah rawan.

Di Kalimantan Barat, OMC telah dilakukan pada 13-17 Agustus 2026 melalui Posko Pontianak. Dalam periode tersebut, terdapat sembilan sorti penerbangan dengan estimasi volume curah hujan di wilayah penyemaian mencapai 10,92 juta meter kubik. Pemerintah juga membuka peluang pelaksanaan OMC kembali pada 23-27 Agustus apabila kondisi atmosfer mendukung.

Sementara di Kalimantan Tengah, OMC telah dilakukan dalam dua periode, yakni 27 Juli-4 Agustus dan 11-15 Agustus 2026. Pemerintah juga mengerahkan pemadaman darat, patroli, pendinginan lokasi, hingga dukungan armada udara untuk menangani titik api yang sulit dijangkau.

Bukan Cuma Soal Api, Asapnya Juga Mengancam

Karhutla bukan hanya meninggalkan lahan terbakar. Kabut asap yang dihasilkan dapat mengganggu aktivitas masyarakat, jarak pandang, transportasi, hingga kualitas udara.

BMKG sendiri menyediakan pemantauan kualitas udara dan peringatan dini berdasarkan konsentrasi PM2.5. Level kualitas udara dapat berubah mengikuti perkembangan asap dan kondisi atmosfer.

Ancaman ini juga berdampak pada satwa. Di Ketapang, tim Manggala Agni bahkan menemukan seekor trenggiling mati di lokasi karhutla saat melakukan penanganan kebakaran. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa dampak kebakaran tidak berhenti pada kerusakan vegetasi, tetapi juga mengancam satwa yang kehilangan habitatnya.

Karhutla di Kalimantan pada akhirnya menjadi persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar titik api. Ketika hutan terbakar, asap dapat bergerak melintasi wilayah, aktivitas masyarakat terganggu, satwa kehilangan habitat, dan kualitas udara ikut menurun.

Dengan puncak kemarau yang masih berlangsung, kewaspadaan masyarakat dan upaya pemadaman menjadi semakin penting agar kebakaran tidak terus meluas. (*)

(Magang, Anggie Putri Wijayanti - Universitas Negeri Surabaya)

Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
Sumber : Antaranews.com, BMKG
pray for kalimantan karhutla kebakaran kalimantan