Kabut Asap Kembali Selimuti Kalimantan Barat Aktivitas Warga Mulai Terdampak

Tim Content Writer Radar Lawu • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 14:00 WIB
Source: Tempo.co
Source: Tempo.co

Jawa Pos Radar Lawu - Kalimantan Barat kembali menghadapi persoalan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi ini terlihat di sejumlah wilayah, termasuk Kota Pontianak, dengan jarak pandang yang menurun akibat asap yang berada dekat permukaan.

Pemerintah Kota Pontianak bahkan sempat menghentikan sementara pembelajaran tatap muka bagi siswa TK, PAUD, SD, dan SMP karena kualitas udara terdampak kabut asap. Kebijakan tersebut diberlakukan setelah hasil pemantauan menunjukkan kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat pada malam hingga pagi hari.

Kualitas Udara Sempat Tidak Sehat

Menurut Pemerintah Kota Pontianak, konsentrasi partikel udara di salah satu alat pemantau di Pontianak Tenggara sempat berada di atas 200 mikrogram per meter kubik sekitar pukul 21.00-23.00 WIB. Kondisi kemudian membaik menjadi kategori sedang pada pagi hari, tetapi kabut asap belum menunjukkan penurunan yang signifikan.

Asap cenderung lebih terasa pada malam hingga pagi karena partikelnya berada lebih dekat dengan permukaan. Kondisi tersebut juga dapat mengganggu aktivitas masyarakat, terutama kelompok yang sensitif terhadap paparan asap.

Ribuan Titik Panas Terdeteksi

Kondisi ini terjadi ketika aktivitas karhutla di Kalimantan Barat kembali meningkat. Data yang diberitakan pada 11 Agustus 2026 mencatat 4.041 titik panas terdeteksi di berbagai wilayah Kalbar, dengan sejumlah titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi yang berpotensi memicu kebakaran.

Sebelumnya, BPBD Kalbar juga telah menetapkan status siaga darurat bencana asap hingga 15 November 2026. Pada akhir Juli, BPBD mencatat 200 titik panas yang tersebar di 12 kabupaten, dengan Kubu Raya, Ketapang, dan Kayong Utara menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak.

Asap Bahkan Terbawa ke Sarawak

Dampak karhutla Kalimantan Barat tidak hanya dirasakan di dalam wilayah Indonesia. Asap dari kebakaran juga dilaporkan terbawa angin menuju Sarawak, Malaysia, sehingga menimbulkan persoalan kualitas udara lintas batas. Pemerintah kemudian memperkuat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu mengurangi risiko penyebaran asap.

BMKG Kalimantan Barat sendiri menyediakan pemantauan sebaran asap melalui citra satelit yang diperbarui secara berkala. Data tersebut digunakan untuk melihat wilayah yang terdampak sebaran asap serta pergerakan asap berdasarkan arah angin.

Warga Diminta Kurangi Aktivitas di Luar

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kabut asap sedang tebal. Pemerintah Kota Pontianak juga meminta masyarakat menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar dan segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala ISPA.

Kabut asap akibat karhutla bukan hanya persoalan jarak pandang. Jika berlangsung lama, kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan, pendidikan, transportasi, hingga aktivitas ekonomi masyarakat. Karena itu, penanganan kebakaran dan pencegahan titik api menjadi hal penting selama kondisi kemarau masih berlangsung. (*)

(Magang, Anggie Putri Wijayanti - Universitas Negeri Surabaya)

Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
Sumber : Pontianak Post, Antara News Kalbar, BMKG Kalimantan Barat, prokal.co
kabut asap kebakaran kalimantan bmkg