Profil The 1975, Band Inggris yang Menjadikan Eksperimen sebagai Identitas

Tim Content Writer Radar Lawu • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 11:55 WIB
Potret Penyanyi The 1975
Potret Penyanyi The 1975

Jawa Pos Radar Lawu - Bayangkan sebuah band yang dapat berpindah dari synth-pop bernuansa retro ke indie-rock, kemudian memasukkan funk, R&B, ambient, bahkan elemen elektronik dalam satu perjalanan musik. Itulah The 1975, kelompok asal Inggris yang sejak awal kariernya menjadikan perubahan sebagai bagian dari identitas.

Dibentuk ketika para personelnya masih remaja, The 1975 berkembang dari sebuah proyek musik lokal menjadi salah satu band paling diperhitungkan di panggung internasional. Musik mereka tidak hanya berbicara mengenai percintaan, tetapi juga kesepian, teknologi, kehidupan digital, politik, hingga keresahan manusia modern.

Awal Terbentuk dan Identitas The 1975

The 1975 berawal dari pertemanan Matty Healy, Adam Hann, Ross MacDonald, dan George Daniel. Mereka mulai bermusik bersama sejak remaja di wilayah Cheshire, Inggris.

Formasi tersebut kemudian berkembang menjadi kelompok yang dikenal publik sebagai The 1975.

Nama "The 1975" memiliki cerita yang cukup unik. Matty Healy mengaku mendapatkan inspirasi nama tersebut setelah menemukan tulisan bertanggal "1 June, The 1975" pada bagian belakang sebuah buku puisi yang ia temukan.

Nama yang terdengar sederhana tersebut kemudian menjadi identitas salah satu band paling khas dalam musik alternatif modern.

Debut yang Langsung Menggebrak

Perjalanan menuju popularitas global semakin terbuka ketika The 1975 merilis album debut bertajuk The 1975 pada 2013.

Album tersebut memperkenalkan karakter musik mereka melalui perpaduan gitar, synthesizer, elektronik, dan pop-rock. Lagu seperti "Chocolate", "Sex", dan "Robbers" menjadi bagian penting dari fase awal karier mereka.

Baca Juga: Profil LANY, Band Indie-Pop Asal Amerika yang Mencuri Hati Pendengar Dunia

Kesuksesan album debut juga menjadi fondasi bagi eksplorasi musikal yang semakin berani pada rilisan berikutnya.

Era Eksperimen yang Semakin Luas

Salah satu daya tarik terbesar The 1975 adalah keberanian mereka untuk tidak terjebak dalam satu genre.

I Like It When You Sleep...

Album I Like It When You Sleep, for You Are So Beautiful yet So Unaware of It (2016) membawa perubahan besar dari sisi musikal maupun visual.

Nuansa synth-pop, funk, R&B, dan musik elektronik semakin dominan. Lagu seperti "Somebody Else" memperlihatkan sisi The 1975 yang lebih emosional, sementara "The Sound" menawarkan energi pop yang lebih cerah.

Era ini juga memperkuat identitas visual mereka melalui penggunaan warna pink dan neon yang kemudian sangat melekat dengan citra band.

A Brief Inquiry into Online Relationships

Pada 2018, The 1975 kembali memperluas cakupan musiknya melalui A Brief Inquiry into Online Relationships.

Album tersebut banyak mengeksplorasi hubungan manusia dengan internet, media sosial, teknologi, serta kecemasan kehidupan modern.

Lagu seperti "Love It If We Made It" dan "It's Not Living (If It's Not With You)" memperlihatkan bagaimana Matty Healy menggunakan musik untuk merefleksikan persoalan personal sekaligus sosial.

Notes on a Conditional Form dan Being Funny in a Foreign Language

Eksplorasi tersebut berlanjut melalui Notes on a Conditional Form (2020). Album ini memiliki cakupan musikal yang luas, mulai dari eksperimentasi elektronik hingga pendekatan yang lebih akustik.

Sementara itu, Being Funny in a Foreign Language (2022) menghadirkan pendekatan yang lebih ringkas dan romantis. Lagu seperti "About You" dan "I'm in Love with You" menjadi dua karya yang memperlihatkan sisi emosional The 1975.

Konser Teatrikal dan Identitas Visual

The 1975 tidak hanya mengandalkan musik ketika tampil di atas panggung. Mereka membangun pertunjukan dengan konsep visual yang kuat.

Salah satu elemen paling ikonik adalah kotak neon yang menjadi bagian dari identitas visual mereka. Pada tur tertentu, konsep panggung bahkan dikembangkan menyerupai sebuah instalasi rumah sehingga pertunjukan terasa seperti perpaduan konser, teater, dan karya seni visual.

Pendekatan tersebut membuat penampilan The 1975 tidak sekadar menjadi sesi menyanyikan lagu, tetapi juga pengalaman audiovisual.

Matty Healy dan Sisi Kontroversial The 1975

Sosok Matty Healy menjadi salah satu elemen yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan The 1975.

Sebagai vokalis dan penulis lagu utama, Healy dikenal memiliki gaya komunikasi yang spontan, ekspresif, dan terkadang kontroversial. Pernyataan maupun aksinya di atas panggung kerap memunculkan perdebatan publik, terutama ketika ia menyentuh isu politik, sosial, dan hak-hak sipil.

Namun, karakter tersebut juga menjadi bagian dari daya tarik The 1975. Ia membuat band ini tidak hanya dikenal karena musiknya, tetapi juga karena keberanian mereka membicarakan berbagai persoalan yang dianggap sensitif.

The 1975 dan Potret Generasi Digital

Jika ada satu benang merah dalam perjalanan The 1975, hal tersebut adalah kemampuan mereka membaca perubahan zaman.

Musik mereka menggambarkan generasi yang tumbuh bersama internet, menghadapi hubungan yang semakin kompleks, mencari validasi di media sosial, sekaligus berusaha memahami dirinya sendiri.

Karena itulah, karya The 1975 terasa relevan bagi banyak pendengar muda. Lagu-lagu mereka dapat terdengar romantis pada satu waktu, kemudian berubah menjadi refleksi mengenai kecemasan sosial dan kehidupan digital pada kesempatan berikutnya.

Warisan The 1975 di Musik Modern

The 1975 telah membuktikan bahwa sebuah band tidak harus memilih satu identitas musik untuk dapat memiliki karakter yang kuat. Justru melalui keberanian berpindah genre, bereksperimen dengan produksi, serta menggabungkan musik dan visual, mereka berhasil menciptakan dunia artistik sendiri.

Dari "Chocolate", "Somebody Else", hingga "About You", perjalanan The 1975 memperlihatkan bagaimana musik pop dapat menjadi ruang untuk membicarakan cinta, kesepian, teknologi, dan berbagai kegelisahan manusia modern.

Bagi Anda yang ingin menikmati kembali eksplorasi musik The 1975, seluruh album dan single resmi mereka tersedia melalui berbagai platform streaming digital seperti Spotify, Apple Music, dan YouTube Music.

(Magang Fadisca Zahra Prasetya, Universitas Negeri Surabaya)

Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
Musik Internasional The1975 Profil The1975 Indie Pop