Source : Wikipedia
Jawa Pos Radar Madiun - Di saat industri perfilman masih mempertanyakan apakah generasi muda tetap tertarik datang ke bioskop, dua film horor justru membalikkan anggapan tersebut.
Backrooms dan Obsession berhasil mencuri perhatian penonton sekaligus mencatat pendapatan yang melampaui ekspektasi.
Kesamaan keduanya bukan hanya berasal dari genre horor, tetapi juga dari sosok kreatornya.
Film-film ini lahir dari sineas muda yang tumbuh bersama internet, YouTube, dan budaya digital, membuktikan bahwa ide-ide dari dunia maya kini mampu bersaing di layar lebar.
Baca Juga: Mahiru, Aida, dan Seni Menyimpan Luka dengan Anggun
Backrooms, Urban Legend Internet yang Menjadi Film
Backrooms berawal dari fenomena internet yang muncul pada 2019 melalui unggahan anonim di forum 4chan.
Konsepnya sederhana, tetapi mampu memicu rasa tidak nyaman: lorong-lorong kosong dengan dinding kuning kusam, karpet usang, dan lampu neon yang terus berdengung tanpa henti.
Ide tersebut kemudian dikembangkan oleh Kane Parsons, sutradara berusia 20 tahun yang sebelumnya dikenal lewat serial pendeknya di YouTube.
Setelah videonya viral dan melahirkan serial web populer, kisah Backrooms akhirnya diadaptasi menjadi film layar lebar.
Kisah Ruang Misterius Tanpa Akhir
Film ini mengikuti perjalanan Clark yang terjebak dalam labirin misterius yang seolah tidak memiliki ujung.
Alih-alih mencari jalan keluar, ia justru semakin terobsesi menjelajahi setiap sudut ruang tersebut.
Semakin jauh langkahnya, semakin banyak misteri dan ancaman yang menantinya.
Kekuatan utama Backrooms tidak hanya terletak pada kemunculan makhluk mengerikan, tetapi juga pada atmosfer mencekam yang dibangun melalui ruang-ruang kosong yang tampak biasa namun menyimpan bahaya yang sulit dijelaskan.
Obsession Tawarkan Horor Psikologis
Jika Backrooms mengandalkan rasa takut terhadap ruang dan ketidakpastian, Obsession memilih jalur horor psikologis.
Film garapan Curry Barker berpusat pada Bear, seorang pegawai toko musik yang diam-diam menyimpan perasaan terhadap rekan kerjanya, Nikki.
Segalanya berubah ketika Bear menemukan benda misterius yang mampu mengabulkan satu keinginannya.
Alih-alih menjadi kisah romantis, keinginan tersebut justru berkembang menjadi mimpi buruk.
Nikki berusaha melawan kendali yang memengaruhi dirinya, sementara cerita perlahan mengupas sisi gelap obsesi, rasa memiliki, dan egoisme yang kerap bersembunyi di balik dalih cinta.
Baca Juga: Jantung dan Stroke Kini Serang Usia 20-an, Dokter Ungkap Cara Simpel Mencegahnya Sejak Dini
Raup Pendapatan Melampaui Prediksi
Kedua film ini berhasil mencatat performa impresif di box office.
Backrooms diproyeksikan meraih pendapatan sekitar 70 juta dolar AS pada akhir pekan perdananya.
Obsession bahkan mencatat pendapatan global lebih dari 100 juta dolar AS, jauh melampaui biaya produksinya.
Pencapaian tersebut memperlihatkan bahwa karya kreator independen dari era internet mampu bersaing dengan produksi studio besar.
Awal Kebangkitan Horor Generasi Digital
Keberhasilan Backrooms dan Obsession menunjukkan perubahan arah dalam industri film horor Hollywood.
Jika sebelumnya banyak film horor diadaptasi dari novel, kisah klasik, atau legenda lama, kini inspirasi datang dari budaya internet, komunitas digital, hingga pengalaman generasi yang tumbuh bersama media sosial.
Pendekatan visual yang modern, tema yang dekat dengan kehidupan saat ini, serta cara bercerita yang berbeda membuat kedua film tersebut terasa relevan bagi penonton masa kini.
Kesuksesan Backrooms dan Obsession pun memunculkan anggapan bahwa Hollywood tengah memasuki era baru yang sering disebut sebagai "Horor Zoomer", yakni gelombang film horor yang lahir dari kreativitas generasi digital dan budaya internet.
Auliya Nur Aisyah - Politeknik Negeri Madiun
Editor : Tim Content Writer Radar Lawu