Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Siswa SMA Kolese De Britto Rayakan Kelulusan Tanpa Konvoi, Longmarch

Mizan Ahsani • Jumat, 15 Mei 2026 | 11:55 WIB
Ratusan siswa SMA Kolese De Britto berfoto bersama usai menjalani longmarch sejauh 3,7 km dari lingkungan sekolah menuju Tugu Jogja.(dok. Tribun Jogja)
Ratusan siswa SMA Kolese De Britto berfoto bersama usai menjalani longmarch sejauh 3,7 km dari lingkungan sekolah menuju Tugu Jogja.(dok. Tribun Jogja)

Jawa Pos Radar Lawu - Perayaan kelulusan tak selalu identik dengan konvoi kendaraan dan corat-coret seragam.

Hal berbeda justru ditunjukkan oleh para siswa SMA Kolese De Britto Yogyakarta yang memilih merayakan kelulusan dengan cara lebih bermakna.

Sebanyak 288 siswa kelas XII menggelar aksi longmarch sejauh 3,7 kilometer dari lingkungan sekolah menuju Tugu Pal Putih, Senin (11/5/2026).

Kegiatan ini menjadi simbol syukur sekaligus kritik terhadap tradisi kelulusan yang kerap meresahkan masyarakat.

Baca Juga: Viral! Dugaan Kecurangan Juri LCC 4 Pilar MPR 2026, Jawaban Siswi SMAN 1 Pontianak Diperdebatkan

Longmarch Jadi Alternatif Perayaan Kelulusan

Sebelum memulai perjalanan, para siswa terlebih dahulu mengikuti prosesi pengukuhan dan pelepasan di sekolah.

Setelah resmi dikembalikan kepada orang tua, mereka berjalan kaki bersama menuju pusat Kota Yogyakarta.

Aksi ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk alternatif dari perayaan kelulusan yang lebih tertib dan positif.

Tradisi ini juga menjadi respons atas fenomena konvoi kendaraan bermotor yang sering memicu kemacetan hingga pelanggaran lalu lintas.

Wakil Kepala Urusan Humas De Britto, Christophorus Danang Wahyu Prasetio, menjelaskan bahwa kegiatan ini telah berlangsung sejak akhir 1990-an hingga awal 2000-an.

“Awalnya karena banyak perayaan kelulusan yang diwarnai corat-coret dan konvoi yang mengganggu masyarakat.

Maka sekolah mencoba cara lain yang lebih positif,” jelasnya.

Sarat Nilai Filosofis dan Keberagaman

Perjalanan menuju Tugu Jogja bukan tanpa makna. Tradisi ini mencerminkan keberagaman siswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Sekolah ini bahkan sering disebut sebagai “Indonesia Mini” karena latar belakang siswanya yang beragam.

Longmarch menjadi simbol perjalanan mereka selama menempuh pendidikan di Yogyakarta.

“Ada ungkapan syukur bahwa mereka diterima, berkembang, dan menjadi bagian dari Jogja,” tambah Danang.

Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bentuk nazar atau janji syukur para siswa atas kelulusan yang diraih.

Baca Juga: Viral Pelari Jogja 10K Run 2026 Dipukul OTK, Pelaku Sampaikan Alasan dan Minta Maaf

Bagikan Sembako di Sepanjang Jalan

Tak hanya berjalan kaki, para siswa juga melakukan aksi sosial selama perjalanan.

Sebanyak 200 paket sembako dibagikan kepada warga, pekerja jalanan, dan masyarakat yang membutuhkan.

Isi paket tersebut meliputi beras, minyak goreng, gula, telur, dan kecap.

Aksi ini menjadi wujud kepedulian sosial sekaligus implementasi nilai pendidikan yang diajarkan di sekolah.

Tema kegiatan tahun ini adalah “Mabur Dhuwur Tumindak Ing Luhur” yang bermakna meraih cita-cita tinggi dengan tetap menjunjung nilai luhur.

Tolak Konvoi, Utamakan Ketertiban

SMA Kolese De Britto secara konsisten menolak praktik konvoi dan corat-coret seragam.

Tradisi ini bahkan hanya dilakukan jika seluruh siswa dalam satu angkatan lulus 100 persen.

Jika ada siswa yang tidak lulus, maka kegiatan longmarch ditiadakan sebagai bentuk solidaritas.

Selain itu, kegiatan berlangsung tertib dengan pengawasan dari guru, orang tua, serta dukungan pengamanan dari kepolisian dan Dinas Perhubungan setempat.

Setibanya di Tugu Pal Putih, para siswa menyanyikan mars sekolah dan melakukan dokumentasi sebagai penutup rangkaian acara.

Baca Juga: Gubernur Sulawesi Barat Terapkan Aturan Wajib Baca 20 Buku bagi Siswa SMA/SMK sebagai Syarat Kelulusan

Jadi Inspirasi Sekolah Lain

Tradisi unik ini mendapat apresiasi luas dari masyarakat. Tidak hanya menghindari dampak negatif perayaan kelulusan, kegiatan ini juga membawa nilai edukatif dan sosial.

Bahkan, beberapa sekolah di Yogyakarta mulai mengadopsi konsep serupa, meski belum dilakukan secara konsisten seperti De Britto.

Perayaan kelulusan pun kini tidak lagi harus identik dengan euforia berlebihan, melainkan bisa menjadi momen refleksi, syukur, dan berbagi kepada sesama.(*)

*Nizaria Kusumastuti, Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya

Editor : Mizan Ahsani
#Longmarch #perayaan kelulusan siswa #SMA Kolese De Britto Yogyakarta #sma #siswa