Jawa Pos Radar Lawu - Fenomena langit berwarna-warni yang muncul di wilayah Bogor, Jawa Barat, mendadak viral dan menyita perhatian publik.
Warga di kawasan Sentul City, Jonggol, hingga Cileungsi dibuat takjub saat melihat awan dengan gradasi warna merah muda, hijau, hingga ungu pada Jumat (1/5/2026) siang.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 14.00 WIB, saat kondisi langit awalnya cerah sebelum berubah dengan kemunculan awan tipis berwarna pelangi.
Keindahan langit ini berlangsung sekitar 30 menit sebelum akhirnya hujan turun di beberapa wilayah.
Fenomena ini pun memicu beragam spekulasi di masyarakat, termasuk anggapan sebagai pertanda bencana atau kejadian alam besar.
Viral Awan Pelangi di Bogor, Warga Takjub
Sejumlah warga mengaku terkejut saat melihat fenomena tersebut. Banyak di antara mereka spontan mengabadikan momen langka itu dan membagikannya di media sosial.
Visual langit yang tampak seperti “berfilter” bahkan disebut sebagai keajaiban alam oleh netizen.
Warna-warni yang muncul terlihat menyebar mengikuti bentuk awan, bukan membentuk busur seperti pelangi pada umumnya.
Baca Juga: Viral Video Kolaborasi Penari Nasional Indonesia, Tampil Sinematik Kelas Dunia dan Bikin Merinding
Penjelasan BMKG: Bukan Pertanda Bencana
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa fenomena tersebut bukanlah tanda bahaya.
Pelaksana Harian Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, menjelaskan bahwa kejadian ini merupakan fenomena optik atmosfer yang dikenal sebagai awan iridesensi atau cloud iridescence.
“Fenomena ini tidak berbahaya dan bukan pertanda badai atau bencana. Ini murni proses pembiasan cahaya matahari oleh partikel kecil di atmosfer,” jelasnya.
Apa Itu Cloud Iridescence?
Cloud iridescence adalah fenomena ketika awan tampak berwarna-warni akibat proses difraksi cahaya matahari.
Berbeda dengan pelangi biasa, warna pada iridesensi tidak membentuk busur, melainkan menyebar mengikuti bentuk awan.
Fenomena ini biasanya muncul pada awan tipis seperti cirrus atau altocumulus yang berada di ketinggian menengah hingga tinggi.
Baca Juga: Pelangi: Fenomena Langit yang Penuh Mitos dan Cerita Mistis dari Berbagai Daerah
Bagaimana Proses Terjadinya?
Secara ilmiah, warna-warni tersebut terbentuk karena:
- Cahaya matahari melewati partikel kecil di dalam awan
- Terjadi difraksi atau pembelokan cahaya
- Cahaya terpecah menjadi spektrum warna
Partikel yang berperan umumnya berupa tetesan air atau kristal es berukuran sekitar 1–10 mikron.
Ukuran yang relatif seragam menjadi kunci munculnya warna yang jelas dan indah.
Jika ukuran partikel tidak seragam, efek warna biasanya tidak akan terlihat.
Apakah Fenomena Ini Berbahaya?
BMKG menegaskan bahwa fenomena ini tidak berbahaya dan tidak berkaitan dengan hal mistis maupun supranatural.
Namun, masyarakat tetap diimbau untuk berhati-hati saat mengamati fenomena tersebut.
Hindari menatap langsung ke arah matahari karena dapat berisiko merusak retina mata akibat paparan cahaya yang kuat.
Berkaitan dengan Perubahan Cuaca?
Meski tidak berbahaya, kemunculan awan iridesensi kerap bertepatan dengan perubahan cuaca.
Fenomena ini sering muncul saat atmosfer dalam kondisi tidak stabil, yang dapat memicu:
- Hujan lokal
- Peningkatan kelembapan udara
- Pembentukan awan konvektif
Hal ini sejalan dengan kondisi di Bogor, di mana sebagian wilayah tetap cerah sementara daerah lain mengalami hujan ringan.
Baca Juga: Fenomena Pelangi: Keindahan Langit yang Bikin Hidup Makin Colorful
Fenomena Langka yang Memukau
Kemunculan awan iridesensi tergolong jarang karena membutuhkan kombinasi kondisi atmosfer yang spesifik, seperti:
- Awan tipis dengan partikel homogen
- Sudut datang cahaya matahari yang tepat
- Kondisi langit yang relatif cerah
Meski demikian, fenomena serupa pernah terjadi di berbagai wilayah, termasuk di Indonesia.
Bagi warga Bogor, peristiwa ini menjadi pengalaman langka yang menunjukkan bagaimana proses fisika sederhana di atmosfer mampu menghadirkan pemandangan alam yang luar biasa indah.(*)
*Nizaria Kusumastuti, Universitas Negeri Suarabaya
Editor : Mizan Ahsani