Jawa Pos Radar Lawu — Aneh tapi nyata. Seorang pemuda berusia 21 tahun di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, tega merudapaksa seorang nenek berusia 85 tahun. Diduga bahwa pelaku adalah tetangga dan sekaligus masih kerabat korban.
Peristiwa mengejutkan itu terjadi di Kecamatan Bantarkalong, Sabtu (25/10/2025) dini hari, dan kini viral di media sosial, terutama TikTok.
Pelaku berinisial AA (21) ditangkap polisi tak lama setelah perbuatannya diketahui warga. Berdasarkan keterangan Kapolres Tasikmalaya AKBP Rimsyahtono, pelaku diduga melakukan aksinya dalam keadaan mabuk berat setelah pesta miras bersama teman-temannya.
“Pelaku sudah kami amankan. Ia mengaku dalam keadaan mabuk dan tidak sadar melakukan perbuatan itu,” ujarnya.
Menurut penyelidikan polisi, malam kejadian pelaku melintas di depan rumah korban sekitar pukul 01.00 WIB. Dalam kondisi mabuk, ia masuk ke rumah korban yang tinggal sendirian.
Korban sempat melawan dan berteriak minta tolong. Warga sekitar yang mendengar segera datang dan menangkap pelaku di lokasi. AA pun digiring ke kantor polisi dalam keadaan babak belur akibat amarah massa.
Kapolres menegaskan korban kini menjalani perawatan dan pendampingan psikologis. “Korban trauma berat, tapi kondisinya mulai stabil,” katanya.
Tak lama setelah kejadian, beredar video berdurasi 30 detik yang memperlihatkan pelaku ditangkap warga dengan tangan diikat tali. Video itu langsung viral di TikTok dan ditonton lebih dari dua juta kali dalam waktu singkat.
Komentar warganet pun membanjiri unggahan tersebut. Banyak yang tak percaya kejadian seaneh itu benar-benar terjadi. Tagar #AnehTapiNyata #Tasikmalaya #RudapaksaLansia mendadak jadi trending di platform tersebut.
Polisi menegaskan tidak akan memberi ampun. Pelaku dijerat Pasal 285 KUHP tentang pemerkosaan dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara.
“Tidak ada alasan. Mabuk bukan pembenaran. Kami proses hukum seadil-adilnya,” tegas AKBP Rimsyahtono.
Korban kini mendapatkan perlindungan dari Dinas Sosial dan akan terus didampingi sampai pulih dari trauma.
Peristiwa ini menambah daftar panjang kekerasan seksual yang dipicu oleh minuman keras di pedesaan. Para tokoh masyarakat menyebut kasus ini sebagai “tamparan sosial” bagi generasi muda.
“Ini bukan cuma kejahatan, tapi tanda rusaknya moral. Harus ada peran keluarga dan desa untuk membina anak muda,” kata salah satu tokoh masyarakat setempat. (hamid-mg-uinpo/kid)
Editor : Nur Wachid