
PACITAN, Jawa Pos Radar lawu – Tradisi rontek menjadi salah satu warisan budaya yang khas dan melekat kuat di masyarakat Pacitan, khususnya saat bulan suci Ramadan.
Rontek dikenal sebagai kegiatan membangunkan sahur dengan cara berkeliling kampung sambil menabuh berbagai alat musik sederhana.
Asal usul rontek sendiri berawal dari kebiasaan masyarakat tempo dulu yang menggunakan alat seadanya seperti kentongan, bambu, hingga peralatan dapur untuk membangunkan warga agar tidak melewatkan waktu sahur.
Baca Juga: Resep Siomay Ayam Sambal Tauco Gurih untuk Menu Lebaran, Keponakan Auto Ketagihan!
Tradisi ini kemudian berkembang menjadi lebih meriah dengan tambahan alat musik seperti drum, gong, dan hiasan lampu warna-warni.
Kata “rontek” diyakini berasal dari bunyi alat yang ditabuh secara berulang-ulang, menciptakan irama khas yang menggema di malam hari. Seiring waktu, kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana membangunkan sahur, tetapi juga menjadi ajang kreativitas dan kebersamaan warga.
Baca Juga: Sambut Lebaran 2026, Ini 7 Tren Gaya Rambut Pria yang Diprediksi Bakal Populer
Kini, rontek telah bertransformasi menjadi festival budaya yang rutin digelar setiap tahun. Pemerintah daerah bersama masyarakat sering mengadakan lomba rontek, yang dinilai dari kekompakan, kreativitas, serta keindahan aransemen musik dan kostum peserta.
Meski mengalami modernisasi, nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan semangat berbagi tetap menjadi inti dari tradisi ini. Generasi muda pun turut dilibatkan agar rontek tetap lestari dan tidak tergerus zaman.
Dengan keunikan dan kekayaan maknanya, rontek bukan sekadar tradisi membangunkan sahur, tetapi juga simbol identitas budaya masyarakat Pacitan yang patut dijaga dan dilestarikan.
Editor : Nur Wachid