Jawa Pos Radar Lawu - Di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah, hidup sebuah tradisi sakral yang masih lestari hingga kini: ruwatan rambut gimbal. Lebih dari sekadar potong rambut, ritual ini diyakini sebagai proses pembebasan dari kesialan dan kutukan leluhur yang melekat pada anak-anak berambut gimbal.
Asal-Usul Anak Gimbal di Dieng
Anak-anak yang tumbuh dengan rambut gimbal dianggap sebagai keturunan spiritual tokoh sakti Kyai Kolodete atau titipan Kanjeng Ratu Kidul. Rambut mereka tidak bisa dipotong sembarangan—hanya bisa dilakukan jika mereka sendiri yang meminta.
Rambut gimbal biasanya muncul setelah anak mengalami demam aneh yang tak kunjung sembuh. Setelah sembuh, rambut mulai menggimbal dengan sendirinya. Anak juga kerap terlihat menyendiri dan seperti berbicara dengan “teman gaib.”
Baca Juga: Mitos atau Fakta: Potong Rambut saat Hamil Bisa Bikin Bayi Rewel dan Sial?
Makna dan Tujuan Ruwatan
Dalam tradisi Jawa, ruwatan berarti “melepaskan diri dari nasib buruk.” Ruwatan rambut gimbal bertujuan menyucikan anak dan membuang energi negatif. Jika prosesi dilakukan tanpa izin anak, dipercaya rambut akan tumbuh gimbal kembali, bahkan bisa membawa penyakit.
Bebana: Permintaan Sakral Sang Anak
Sebelum rambut dipotong, anak akan mengajukan permintaan unik yang disebut bebana. Ini bisa berupa permen, mainan, sepeda, bahkan kambing atau perhiasan. Permintaan ini harus dipenuhi sebagai syarat ruwatan.
Ruwatan rambut gimbal bukan sekadar warisan budaya, tapi juga wujud penghormatan terhadap alam, leluhur, dan kekuatan gaib yang diyakini mengiringi kehidupan anak-anak istimewa di tanah Dieng. (fin)
Editor : AA Arsyadani