Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Tradisi Unik Masyarakat Jawa Menyambut Ramadan, Dari Padusan hingga Dugderan

Ockta Prana Lagawira • Sabtu, 15 Februari 2025 | 15:05 WIB
Ilustrasi tradisi nyekar menjelang bulan puasa.
Ilustrasi tradisi nyekar menjelang bulan puasa.

Jawa Pos Radar Lawu – Menjelang bulan suci Ramadan, masyarakat Jawa memiliki berbagai tradisi unik yang dilakukan secara turun-temurun.

Tradisi-tradisi ini bukan sekadar ritual, tetapi juga menjadi bentuk persiapan spiritual dan sosial dalam menyambut datangnya bulan penuh berkah.

Mulai dari tradisi padusan yang melambangkan penyucian diri hingga dugderan sebagai pengumuman awal puasa.

Setiap daerah di Jawa memiliki cara tersendiri dalam mempersiapkan diri menghadapi Ramadan.

Bukan hanya sebagai warisan budaya, tradisi-tradisi ini juga mempererat hubungan sosial dan menumbuhkan rasa kebersamaan dalam masyarakat.

Lantas, apa saja tradisi yang masih lestari hingga kini? Simak ulasan berikut. 

1. Padusan: Mensucikan Diri Sebelum Ramadan

Padusan berasal dari kata "adus" yang berarti mandi dalam bahasa Jawa.

Tradisi ini dilakukan dengan mandi bersama di sumber air seperti sungai atau mata air, sebagai simbol penyucian diri sebelum memasuki Ramadan.

Masyarakat di daerah Klaten, Boyolali, dan sekitarnya masih rutin melakukan padusan, terutama di hari terakhir bulan Syaban.

2. Nyadran: Ziarah Kubur untuk Menghormati Leluhur

Tradisi nyadran merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur dengan melakukan ziarah ke makam keluarga.

Kegiatan ini biasanya melibatkan pembersihan makam, tabur bunga, dan pembacaan doa. Nyadran masih menjadi tradisi yang kuat di Jawa Tengah dan Yogyakarta, terutama menjelang Ramadan.

3. Megengan: Tradisi Makan Bersama dan Berbagi Kue Apem

Megengan adalah tradisi masyarakat Jawa yang dilakukan sehari sebelum puasa dengan berkumpul di masjid atau musala.

Mereka membawa makanan khas seperti kue apem yang melambangkan permintaan maaf dan simbol kesiapan menghadapi Ramadan.

Tradisi ini diyakini berasal dari ajaran Wali Songo dalam menyebarkan Islam di Jawa.

4. Ruwahan: Mengenang dan Mendoakan Arwah Leluhur

Dilakukan pada bulan Ruwah (Syakban), ruwahan bertujuan untuk mengenang leluhur dengan menggelar doa bersama.

Masyarakat juga melakukan sedekah makanan kepada tetangga dan fakir miskin.

Tradisi ini menjadi momen bagi keluarga untuk berkumpul dan menguatkan ikatan sosial sebelum memasuki Ramadan.

5. Dugderan: Festival Khas Semarang Menyambut Puasa

Dugderan merupakan tradisi khas Semarang yang menjadi simbol dimulainya bulan Ramadan.

Tradisi ini ditandai dengan pemukulan bedug (dug) dan dentuman meriam (der), yang menjadi penanda awal puasa.

Acara ini semakin meriah dengan pasar malam dan arak-arakan, yang membuat masyarakat berbondong-bondong mengikuti perayaan ini.

6. Munggahan: Silaturahmi Sebelum Puasa

Munggahan adalah tradisi berkumpul bersama keluarga dan kerabat sebelum Ramadan, yang populer di Jawa Barat.

Masyarakat biasanya mengadakan makan bersama, saling meminta maaf, dan berdoa untuk kelancaran ibadah puasa.

Tradisi ini juga menjadi momen mempererat hubungan sosial di masyarakat.

7. Nyekar: Ziarah Kubur dan Doa Bersama
Nyekar mirip dengan nyadran, tetapi lebih umum dilakukan di Jawa Timur.

Masyarakat mengunjungi makam keluarga untuk membersihkan area makam, menabur bunga, dan membacakan doa untuk arwah leluhur.

Tradisi ini bertujuan untuk mengenang jasa para leluhur dan memohon berkah di bulan Ramadan. (ota)

Editor : Ockta Prana Lagawira
#padusan #sosial #ruwah #nyadran #ramadan #Dugderan #nyekar #jawa #tradisi