Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Kelir Cerita di Balik Persembunyian Ilyas Hussein

Nur Wachid • Minggu, 7 Januari 2024 | 23:17 WIB

(JAWA POS-GRAFIS: HABIB/JAWA POS RADAR PONOROGO)
(JAWA POS-GRAFIS: HABIB/JAWA POS RADAR PONOROGO)

 

Kepiawaian Nanda dalam mengemas pelbagai cerita, mulai dari lokalitas asalnya sendiri hingga mengimpor lokalitas lainnya yang ia eksplor dengan ciamik, menumbuhkan daya pikat pembaca ketika menginginkan sebuah kumcer yang kompleks.

Peresensi: Solu Erika Herwanda

Dibuka dengan cerita sejarah Nanda Fauzan bak mengelabui pembaca dengan cerita satu napas, yakni sejarah itu sendiri. Akan tetapi, sangat tidak tepat apabila buku ini dirumuskan sebagai kumcer sejarah sebab ada banyak kelir yang Nanda bubuhkan pada setiap cerpennya.

Kumcer Persembunyian Terakhir Ilyas Hussein dan cerita-cerita lainnya dibuka dengan cerpen “Ia Menyeret Diri Dalam Lumpur”, ialah sebuah cerita kolosal yang menyorot sebuah kerajaan di Banten. Nanda tak pernah menyebut nama kerajaan yang dibalutnya dengan cerita yang mencengangkan itu, melainkan ia memberi petunjuk pembaca soal latar cerita melalui tradisi Pati Obong, yang setelah ditelusuri merupakan sebuah tradisi di Banten.

Cerpen-cerpen dalam buku ini terdiri dari berbagai kelir yang disembunyikan pengarangdan disusun secara acak. Memang juga tak bisa disebut dengan kumpulan cerpen berbagai tema, hanya saja cerpen ini memiliki nada tersendiri yang membuatnya bersinambungan. Meskipun, tiap cerita tak ubahnya berangkat dari tema dan aspek yang berbeda. Kekuatan atau daya tarik cerpen ini ada pada pemberian nama-nama tokoh yang diulang dalam beberapa cerita sehingga tak heran bila rasanya tokoh dalam beberapa cerita itu layaknya memiliki lebih dari satu nyawa.

Baca Juga: Jembatan Mbah Guru

Ini salah satu kelir yang diberikan Nanda. Dalam hal ini, Nanda layaknya memberistrategi agar tokohnya mudah diingat. Memberikan nama tokoh yang mirip dengan beberapa cerita lain adalah jalur yang dipilih Nanda.

Strategi ini memang cukup efektif membuat nama dan karakter tokoh selalu melekat pada pembaca. Dengan begitu, pembaca tidak perlu repot-repot menginput nama dan karakter baru dari setiap cerita. Pengulangan nama-nama itu ada pada beberapa cerita yakni; Meruwat Laut, Suara di Telinga Karabaong, Mendengar Marauleng Bercerita, Karabaong Menyaru Burung, Tamasya Para Hantu, Permen Itu Lezat Sekali, Tikar Itu Merah, Jenderal!, dan Tando.Ada pun nama-nama yang diulang adalah; Marauleng, Karabaong, Sentot Mugali, dan Badri.Selain memberikan nama tokoh yang sama, Nanda juga menciptakan karakter tokoh yang nyaris mirip pada masing-masing cerita yang namanyasama.

Mari kita awali cerpen ini dengan cerpen Suara di Telinga Karabaong. Karabaong di cerpen Suara di Telinga Karabaong, dihadirkan oleh Nanda pada tokoh Karabaong aspek kejiwaanseorang perokok yang mengalami depresi. Karakter Karabaong dalam cerpen ini menunjukkan seseorang yang lemah dan tak berdaya dengan satu persoalan. Namun,  dalam cerpen Meruwat Laut Karabaong berperan sebagai tokoh pembantu yang memiliki sifat bijak, tetapi tidak juga menjadi "penjual" agar cerita ini layak disantap. Sementara di cerpen terakhir, Karabaong Menyaru Burung, Karabaong menjadi tokoh tertindas dan peran utama yang menjadikan cerita ini bergerak. Nanda, menyisipkan lagi aspek psikologi pada Karabaong dalam cerpen ini. Tokoh Karabaong bertingkah selayaknya hewan, kelainan ini ada sejak tokoh Karabaong kecil sehingga ia harus dipasung ayahnya.

Baca Juga: Ikan Dewa

Dari 3 cerpen, Suara di Telinga Karabaong, Meruwat Laut, Karabaong Menyaru Burung, Nanda sangat memperhitungkan karakter dalam menyamakan nama tokoh. Seperti halnya, Marauleng.Pada cerpen Meruwat Laut, Marauleng digambarkan sebagai sosok yang patuh dengan tradisi. Ia melarungkan diri ke laut demi menjaga tradisi meruwat laut yang sebenarnya bertentangan dengan peraturan agama.

Seorang pemuka agama memberi fatwa bahwa meruwat laut dengan cara lama, cara yang dulu dilakukan ayahnya yakni memberikan sesaji kepada laut berupa kepala kebo bule dianggap menduakan Tuhan. Maka Marauleng tak ingin menduakan Tuhan. Akan tetapi, Marauleng masih ingin berterima kasih kepada laut dengan memberikan benda-benda yang dilarung ke laut termasuk dirinya sendiri. Dan, jika dibandingkan cerita lain yang tokohnya bernama Marauleng, Marauleng ini merupakan tokoh yang malang. Ia lahir tanpa ayah, seperti Isa yang dilahirkan dari rahim Maryam. Dia juga pendongeng yang mahir. Kisah itu terangkum dalam cerpen Mendengar Marauleng Bercerita.

Lalu untuk tokoh Sentot Mugali, Nanda juga menciptakan karakter yang mirip. Dalam cerpen Tamasya Para Hantu Sentot Mugali berperan sebagai tukang tenung yang memutuskan menghabiskan seluruh sisa hidupnya pada pekerjaan itu. Dan pada cerita Permen Itu Lezat Sekali Sentot Mugali ialah tokoh yang ditakuti tokoh utama karena dianggapnya Sentot Mugali akan menghabisi nyawanya. Begitu pula nama Badri dalam cerpen Tikar Itu Merah, Jenderal! dan Tando. Badriialah seorang bocah yang hanya bermain-main. Dari karakter-karakter itu, tampaknya Nanda sudah mengelompokkan termasuk pemilihan nama yang sama pada tokoh yang karakternya mendominasi cerita.

Namun, nama ini hanya sekelumit kelir yang ada di buku ini. Selebihnya ialah aksi-aksi heroik untuk mengenang pertempuran pada masa kolonial dihadirkan dengan cara yang pendek.Pada cerpen Pemuda Malang dan Persembunyian Terakhir Ilyas Hussein aksi heroik seorang pemuda misteriusyang menurut beberapa rujukan merupakan kisah Tan Malaka. Cerpen ini mengingatkan kembali memori pembangunan Anyer-Panarukan. Pun potret kisah muram yang mungkin saja terlupakan oleh sejarah di buku-buku pelajaran. Tentang kerja paksa yang sesungguhnya melibatkan tokoh pribumi, dan sehimpun luka di dalamnya.

Baca Juga: Selamat Datang 2024, What's Next?

Kemudian, tragedi partai komunis 65 juga digarap Nanda menjadi cerita yang main-main. Lewat cerpennya, Tikar Itu Merah, Jenderal!Tokohnya hanya kakak beradik yang memainkan lakon para pemberontak setelah menonton film dan mendapat pelajaran PMP. Ditambah, pembumbuan cerpen ini dengan mitos-mitos seperti Lulun Samak, hantu berwujud tikar pemandian jenazah yang bisa menggulung manusia bersama ombak, membuat cerpen ini kaya dan tak hanya duplikat cerita sejarah belaka.

Satu lagi, aksi heroik yang ia sulap jadi cerpen menarik ialah Aksi Terakhir Rudy Palkam.Pada cerpen ini diceritakan bagaimana Rudy Palkam selalu membantu napi lainnya untuk memeroleh hak manusianya dari pengawasan sipir. Diceritakan suasana tahanan ini dengan apik oleh Nanda, termasuk bagaimana Barrabas mengambil kesempatan bercinta dengan istrinya ketika menjadi tahanan dan itu karena aksi Rudy Palkam.

Dalam sel itu juga diceritakan persetubuhan sesama jenis yang dilakukan oleh para napi dan salah seorang napi bernama Anggoro disemburit sipir karena aksinya, inilah yang menjadikan cerpen Aksi Terakhir Rudy Palkam begitu heroik.Salah satunya karena Rudy Palkam membunuh sang sipir akibat perlakuannya kepada Anggoro. Bukan hanya soal kriminalitas, sebenarnya jika pembaca cermat, dalam cerpen ini digambarkan keadilan yang patut diperjuangkan.

Baca Juga: TIPUAN TENTANG CINTA

Kelir cerita di kumcer Nanda ini tak sampai ke situ saja, mitos berbau magis dan politik juga menjadi kudapan yang lezat bagi pembaca. Nanda dengan piawai menyelipkan mitos, lokalitas, dan budaya. Pada cerpen Kutuk Banaspati: Empat Cerita dalam Satu Malam ini merupakan cerita lokalitas bernapas magis yang populer di kalangan masyarakat Banten. Lalu pada cerpen Dendam dan Dua Ember Kalajengking ini merupakan cerita klasik yang nyaris populer di berbagai kampung yakni perjodohan paksa sang kembang desa.

Kemudian ada juga cerpen berjudul Tando yang sebenarnya ialah gambaran cara kerja politik tapi dikemas dengan hal kecil, karena cerita dibuka dengan tokoh yang memasak burung Tando. Disitulah ada buntut-buntut ancaman soal kekuasaan dan Sulaiman Jango memilih mencari aman.

Ada dua kelir lagi yang disembunyikan Nanda dalam buku ini, yakni soal pelecehan seksual berkedok perdukunan pada cerpen Nekromansi. Ada juga kasus pengeboman berkedok jihad yang sempat viral dalam cerpen Kau atau Topengmu yang Menjadi Pembunuh Malam ini?dalam cerpen ini Nanda mengemas cerita dengan model pergolakan budaya dan sisi religiusitas.

Kepiawaian Nanda dalam mengemas pelbagai cerita, mulai dari lokalitas asalnya sendiri hingga mengimpor lokalitas lainnya yang ia eksplor dengan ciamik, menumbuhkan daya pikat pembaca ketika menginginkan sebuah kumcer yang kompleks.  

 

BIODATA SINGKAT: Peresensi merupakan mahasiswi STKIP PGRI Ponorogo berdomisili asli Madiun.

 


MAKLUMAT

Jawa Pos Radar Lawu menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, opini, esai dan resensi di kolom Sosial-Budaya pada portal radarlawu.jawapos.com. Naskah berupa file Microsoft Word, khusus puisi maksimal lima judul.

Adapun kiriman merupakan karya orisinal, bukan hasil plagiasi karya orang lain, serta belum pernah dipublikasikan. Karya menjadi tanggung jawab penulis. Cantumkan uraian singkat identitas diri, karya dapat dikirim melalui surel ke alamat wachidradarmadiun@gmail.com. Salam.

Editor : Nur Wachid
#kumcer #MUHAMMAD NANDA FAUZAN #resensi buku #cerpen #persembunyian terakhir Ilyas Hussein #Solu Erika Herwanda