Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Kultum Ramadhan Terbaru: Cara Menghidupkan Hati di Akhir Ramadhan agar Tetap Istiqamah

Mizan Ahsani • Selasa, 17 Maret 2026 | 14:40 WIB
Kultum Ramadhan tentang menghidupkan hati
Kultum Ramadhan tentang menghidupkan hati

Jawa Pos Radar Lawu - Bulan suci Ramadhan sebentar lagi akan berlalu, digantikan dengan datangnya bulan Syawal yang ditandai dengan perayaan Idulfitri.

Di penghujung Ramadhan, semangat ibadah yang sejak awal begitu terasa, kerap mulai menurun seiring meningkatnya kesibukan menyambut hari raya.

Aktivitas seperti mudik, berbelanja kebutuhan lebaran, hingga persiapan keluarga sering kali menyita perhatian.

Namun di balik itu semua, ada satu hal penting yang kerap terabaikan: kondisi hati kita.

Ramadhan sejatinya bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan menjadi madrasah ruhani untuk menghidupkan hati (ihyaul qalb) yang mungkin selama ini lalai dan tertutup dosa.

Antara Hati yang Hidup dan Hati yang Mati

Di tengah gemerlap suasana menjelang lebaran, penting bagi setiap Muslim untuk bertanya pada diri sendiri: apakah hati ini benar-benar hidup, atau hanya suasana di sekitar yang tampak hidup?

Al-Qur’an memberikan gambaran jelas tentang perbedaan antara hati yang hidup dengan cahaya iman dan hati yang mati dalam kegelapan:

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya... serupa dengan orang yang berada dalam gelap gulita?” (QS Al-An’am: 122).

Ayat ini menegaskan bahwa kematian yang paling mengerikan bukanlah kematian fisik, melainkan padamnya cahaya iman dalam hati.

Ramadhan hadir sebagai momentum untuk menyirami hati yang kering agar kembali hidup dan mampu membedakan antara yang benar dan yang batil.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Cara Menggapai Lailatul Qadar di 10 Malam Terakhir Ramadhan

Hati sebagai Pusat Kehidupan

Rasulullah SAW menegaskan bahwa hati adalah pusat dari seluruh perilaku manusia.

Baik atau buruknya amal seseorang sangat bergantung pada kondisi hatinya.

“Dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya...” (HR Bukhari dan Muslim).

Di penghujung Ramadhan, menjaga hati menjadi kunci agar nilai-nilai ibadah tidak hilang begitu saja setelah bulan suci berakhir.

Tanda Hati yang Hidup di Akhir Ramadhan

Salah satu tanda hati yang hidup adalah munculnya rasa takut amal tidak diterima, serta rasa sedih karena akan berpisah dengan Ramadhan.

Para ulama salaf memberikan teladan luar biasa dalam hal ini. Mereka tidak bangga dengan banyaknya ibadah, tetapi justru khawatir apakah amal tersebut diterima oleh Allah.

Bahkan, terdapat ungkapan menyentuh:

“Bagaimana mungkin seorang mukmin tidak menangis saat berpisah dengan Ramadhan, sementara ia tidak tahu apakah masih bisa bertemu kembali dengannya?”

Perasaan ini menunjukkan adanya kepekaan hati yang hidup dan penuh kesadaran spiritual.

Baca Juga: Ramadhan dan Sains: Momentum Umat Islam Membangun Inovasi dan Ketakwaan di Era Teknologi

Kewaspadaan Hati Setelah Ramadhan

Sering kali, hati yang terasa lembut selama Ramadhan kembali keras setelah memasuki bulan Syawal.

Hal ini terjadi karena kurangnya penjagaan terhadap amal dan perilaku.

Imam Al-Ghazali mengibaratkan hati seperti cermin. Ketaatan adalah alat pemolesnya, sementara dosa adalah asap yang menutupinya.

Jika setelah Ramadhan seseorang kembali pada kebiasaan buruk, maka hati yang sebelumnya bersih akan kembali tertutup.

Inilah yang disebut matinya hati: bukan karena berhenti berdetak, tetapi karena kehilangan cahaya iman.

Jangan Biarkan Cahaya Ramadhan Padam

Menghidupkan hati tidak berhenti saat Ramadhan berakhir. Justru, tantangan sesungguhnya adalah menjaga cahaya tersebut agar tetap menyala dalam kehidupan sehari-hari.

Di akhir Ramadhan, penting untuk melakukan muhasabah diri secara jujur.

Luangkan waktu untuk merenung, berdoa, dan memohon kepada Allah agar hati tetap hidup dalam ketaatan.

Sebagaimana doa yang dianjurkan:

“Ya Tuhan kami, terimalah amalan kami… dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

Ramadhan mungkin akan pergi, namun semangat dan cahaya yang ditinggalkannya harus terus dijaga.

Selamat tinggal Ramadhan, semoga cahaya iman yang telah tumbuh tetap menyala hingga akhir hayat.

Wallahu a’lam bisshawab.(*)

*Nizaria, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Mizan Ahsani
#menghidupkan hati #cahaya ramadhan #ramadhan #umat islam #lebaran 2026 #bulan suci #Kehidupan #idul fitri