Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Mengapa Maksiat Masih Terjadi Saat Ramadhan Padahal Setan Dibelenggu? Ini Penjelasan Ulama

Mizan Ahsani • Minggu, 1 Maret 2026 | 04:35 WIB

Photo
Photo

Jawa Pos Radar Lawu - Ramadhan dikenal sebagai bulan suci penuh rahmat dan ampunan.

Dalam sejumlah hadis sahih disebutkan bahwa pintu surga terbuka, pintu neraka tertutup, dan setan-setan dibelenggu.

Namun, kenyataannya masih saja ada perbuatan maksiat yang terjadi di bulan Ramadhan. Lalu, mengapa hal itu bisa terjadi?

Berikut penjelasan para ulama berdasarkan dalil hadis dan pandangan keilmuan Islam.

Dalil tentang Setan Dibelenggu Saat Ramadhan

Dalil utama tentang setan yang dibelenggu saat Ramadhan berasal dari hadis sahih yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila Ramadhan tiba, pintu-pintu surga terbuka, pintu-pintu neraka tertutup, dan setan-setan dibelenggu.”

(HR Bukhari No. 1899 dan Muslim No. 1079)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa pintu-pintu rahmat terbuka dan setan-setan dirantai.

Hadis ini berstatus sahih muttfaq 'alaih dan juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan An-Nasa'i. Para ulama sepakat tentang kekuatan sanadnya.

Menurut Al-Qadhi Iyadh , hadis tersebut dapat dipahami secara hakiki sebagai tanda kemuliaan Ramadhan.

Artinya, gangguan setan terhadap orang beriman memang jauh berkurang.

Ia menjelaskan bahwa terbukanya pintu surga adalah simbol kemudahan Allah SWT dalam memberikan peluang ibadah seperti puasa, shalat tarawih, membaca Al-Qur'an, dan zikir.

Baca Juga: Sengaja Tidak Puasa Ramadhan Tanpa Alasan? Ini Hukumnya dalam Islam, Dosa Besar yang Tak Bisa Dianggap Sepele!

Mengapa Maksiat Tetap Terjadi di Bulan Ramadhan?

Meski hadis menyebut setan dibelenggu, para ulama menjelaskan bahwa pembelengguan tersebut tidak berarti setan hilang sepenuhnya.

1. Kekuatan Setan Hanya Dilemahkan

Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani , maksud setan dibelenggu adalah kekuatan mereka tidak sebebas bulan lainnya.

Godaan tetap ada, tetapi lebih lemah karena umat Islam sedang fokus beribadah.

Sebagian ulama juga menjelaskan bahwa yang dibelenggu adalah setan-setan yang kuat, bukan seluruhnya tanpa kecuali.

2. Nafsu Manusia Tidak Ikut Dibelenggu

Selain setan, faktor terbesar maksiat adalah hawa nafsu manusia sendiri.

Dalam Al-Qur'an, tepatnya QS Yusuf ayat 53 disebutkan:

“Sejujurnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan.”

Hal ini diperkuat oleh penjelasan Al-Qurthubi yang menyatakan bahwa setan bisa terikat, tetapi nafsu manusia tidak.

Jika seseorang terbiasa bermaksiat sebelum Ramadhan, maka kebiasaan itu tidak otomatis hilang hanya karena setan dibelenggu.

3. Niat yang Tidak Tulus

Pandangan mendalam juga disampaikan oleh Ibnu Taimiyyah dalam karya-karyanya seperti Majmu' al-Fatawa .

Menurutnya, pembelengguan setan bersifat relatif dan terkait dengan pengendalian syahwat. Maksiat tetap terjadi karena:

Ibnu Taimiyyah menegaskan, jika seseorang berhenti bermaksiat hanya sementara dengan niat kembali setelah Ramadhan, maka itu belum disebut taubat sejati.

4. Kebiasaan yang Sudah Mengakar

Ulama seperti Ibnu Rajab menjelaskan bahwa maksiat di bulan Ramadhan sering kali berasal dari kebiasaan yang telah mengakar selama sebelas bulan sebelumnya.

Ramadhan memang membantu, tapi perubahan membutuhkan kesungguhan.

Ibarat ladang kering, hujan saja tidak cukup. Tanah tetap perlu dibersihkan dan dicangkul.

Momentum Ramadhan Melawan Nafsu

Ramadhan bukan sekedar menahan lapar dan haus. Ia adalah latihan menahan amarah, menjaga lisan dari ghibah, serta menundukkan pandangan dari hal yang haram.

Jika maksiat masih terjadi, itu menjadi pengingat bahwa musuh manusia bukan hanya setan, tetapi juga nafsu dalam dirinya.

Justru dengan dibelenggunya setan, peluang untuk taat lebih lebar terbuka. Maka jika masih bermaksiat, introspeksi diri menjadi langkah yang lebih bijak dibandingkan terus menyalahkan setan.

Baca Juga: Lupa Baca Niat Puasa Ramadhan setelah Imsak, Apakah Puasanya Sah? Ini Penjelasan Lengkapnya

Kesimpulan

Maksiat masih terjadi di bulan Ramadhan karena:

  1. Setan dilemahkan, bukan dihilangkan sepenuhnya

  2. Hawa nafsu manusia tidak ikut terikat

  3. Niat yang tidak tulus dalam bertaubat

  4. Kebiasaan dosa yang telah mengakar

Ramadhan adalah momentum perbaikan diri. Keberhasilan bukan hanya sekedar menahan makan dan minum, namun juga menundukkan hawa nafsu.

Semoga Ramadhan kali ini menjadi titik balik untuk memperbaiki diri dan meraih derajat takwa. (*)

*Nizaria, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Mizan Ahsani
#setan #maksiat #bulan suci #nafsu #Ramdhan