Jawa Pos Radar Lawu - Bulan Ramadhan sering menjadi ujian fisik sekaligus mental. Cuaca panas, tenggorokan kering, dan perut keroncongan membuat banyak orang mencari cara agar waktu terasa lebih cepat.
Salah satu yang paling populer adalah bermain game berjam-jam, bahkan sejak usai Subuh hingga menjelang Maghrib.
Lalu muncul pertanyaan penting: apakah bermain game seharian saat puasa membatalkan ibadah?
Mari kita bahas secara fiqih dan spiritual.
Apakah Bermain Game Membatalkan Puasa?
Secara hukum fiqih, bermain game tidak membatalkan puasa.
Yang membatalkan puasa adalah hal-hal yang secara jelas disebutkan dalam syariat, seperti makan, minum, hubungan suami istri, atau tindakan lain yang merusak esensi puasa. Selama seseorang tidak melakukan hal-hal tersebut, puasanya tetap sah meskipun ia bermain game.
Jadi, dari sisi hukum dasar: boleh.
Namun, hukum boleh tidak selalu berarti dianjurkan.
Boleh, Tapi Ada Syaratnya
Bermain game saat Ramadhan diperbolehkan selama:
Tidak mengandung unsur haram
Tidak melalaikan kewajiban seperti shalat
Tidak membuat lalai dari ibadah utama
Dilakukan secara wajar, bukan berlebihan
Jika game membuat seseorang meninggalkan shalat, berkata kasar, marah-marah, atau melupakan kewajiban keluarga, maka hukumnya bisa berubah menjadi makruh bahkan haram.
Ramadhan Bukan Bulan Duniawi
Ulama besar Abdullah Al-Haddad dalam kitab Nashaihud Diniyah mengingatkan agar umat Islam tidak terlalu sibuk dengan urusan dunia di bulan Ramadhan.
Beliau menjelaskan:
وَمِنْ آدَابِهِ أَنْ لَا يُكْثِرَ التَّشَاغُلَ بِأُمُورِ الدُّنْيَا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ بَلْ يَتَفَرَّغُ عَنْهَا لِعِبَادَةِ اللَّهِ وَذِكْرِهِ مَا أَمْكَنَهُ وَلَا يَدْخُلُ فِي شَيْءٍ مِنْ أَشْغَالِ الدُّنْيَا إِلَّا إِنْ كَانَ ضَرُورِيًّا فِي حَقِّهِ أَوْ حَقِّ مَنْ يُلْزِمُهُ الْقِيَامُ بِهِ مِنَ الْعِيَالِ وَنَحْوِهِ
Artinya:
“Di antara adab yang dianjurkan adalah tidak terlalu sibuk dengan urusan dunia di bulan Ramadhan, tetapi sebaiknya mengosongkan diri untuk beribadah kepada Allah dan banyak mengingat-Nya sebisa mungkin…”
Ramadhan, kata beliau, seperti hari Jumat dalam satu pekan, istimewa dan penuh keberkahan. Maka seyogianya lebih difokuskan untuk akhirat.
Jangan Sampai Puasa Hanya Lapar dan Haus
Rasulullah SAW bersabda:
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْع وَالْعَطْش
Artinya:
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.”
(HR An-Nasa'i)
Beliau juga menegaskan:
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنْ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ فَقَطْ الصِّيَامُ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ
Artinya:
"Puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum saja, puasa adalah menahan diri dari perkataan sia-sia dan keji," (HR Al-Baihaqi)
Jika bermain game dilakukan secara berlebihan hingga melupakan zikir, Al-Qur’an, atau interaksi sosial, maka ia bisa masuk kategori laghwi (perbuatan sia-sia). Secara hukum sah, tetapi secara kualitas ibadah bisa berkurang.
Bijak Mengatur Waktu di Bulan Ramadhan
Solusi terbaik bukan berhenti total, melainkan mengatur porsi.
Game bisa menjadi hiburan ringan atau hadiah setelah menyelesaikan target ibadah, seperti: Setelah membaca satu juz Al-Qur’an, setelah shalat sunnah, setelah kajian atau belajar.
Dengan begitu, game menjadi selingan, bukan aktivitas utama.
Bermain game selama Ramadhan:
Tidak membatalkan puasa
Diperbolehkan secara fiqih
Sah selama tidak melanggar syariat
Namun:
Tidak dianjurkan jika berlebihan
Bisa mengurangi kualitas spiritual puasa
Ramadhan adalah momentum pengendalian diri, bukan sekadar menahan lapar. Gunakan waktu sebaik mungkin agar puasa tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga bernilai di sisi Allah SWT. Waallahu a’lam. (fin)
Editor : AA Arsyadani