Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Jembatan Apung Cijeruk Ambruk, Warga Nyaris Jadi Korban: Siapa Bertanggung Jawab?

Indi Wardani • Selasa, 27 Mei 2025 | 14:15 WIB
Jembatan apung saat roboh
Jembatan apung saat roboh

Jawa Pos Radar Lawu - Sebuah insiden mengejutkan terjadi Jumat malam (23/5) saat jembatan apung Cijeruk yang menjadi penghubung utama antara Kampung Cijeruk (Bojongsoang) dan Kampung Mekarsari (Baleendah) ambruk mendadak ke Sungai Citarum.

Jembatan yang dibuat dari kayu dan drum plastik sebagai pelampung itu mendadak terbalik saat dilintasi belasan sepeda motor, menyebabkan sembilan kendaraan tercebur ke sungai.

Beruntung tak ada korban jiwa, tapi publik mempertanyakan: sampai kapan solusi darurat seperti ini dibiarkan jadi jalan utama warga?

Jalur Alternatif ‘Murah’ yang Jadi Titik Krisis

Jembatan apung ini dibangun oleh warga sebagai jalur alternatif saat jalan utama sering terendam banjir.

Dengan panjang sekitar 20 meter dan lebar 3 meter, jembatan ini hanya ditopang drum plastik dan papan kayu, tanpa struktur permanen.

Tak adanya pengawasan jumlah kendaraan atau sistem pembatasan beban menjadi celah fatal yang akhirnya terbukti memakan korban.

Menurut saksi mata, Deden Hermawan, insiden terjadi sekitar pukul 19.25 WIB, saat jembatan penuh oleh pengendara yang hendak pulang setelah hujan deras.

“Awalnya tenang-tenang saja. Tapi karena banyak motor masuk bersamaan dan arus sungai deras, jembatan goyang dan tiba-tiba terbalik,” ujarnya.

Video Viral Picu Kecaman: Infrastruktur Asal Jadi?

Rekaman video detik-detik ambruknya jembatan langsung menyebar luas di media sosial, memunculkan banyak pertanyaan: mengapa jalur tak layak ini masih digunakan secara massal?

Netizen menyoroti minimnya perhatian dari pemerintah daerah. Tak sedikit yang menyebut kondisi ini sebagai “bom waktu” yang sudah lama menunggu meledak.

Beberapa komentar menyebut jembatan apung itu lebih cocok disebut ‘perangkap maut’ daripada sarana transportasi.

Pemerintah Dinilai Lalai: Di Mana Jembatan Permanen?

Meski jembatan dibangun secara swadaya, warga menilai pemerintah seharusnya turun tangan sejak lama.

Setiap tahun, kawasan ini langganan banjir dan jalur utama tak bisa dilalui. Jembatan apung pun menjadi satu-satunya jalan yang bisa diandalkan, meski sangat berisiko.

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Pemkab Bandung mengenai rencana pembangunan jembatan permanen.

Beberapa tokoh masyarakat meminta agar insiden ini menjadi titik balik untuk membangun infrastruktur yang aman dan tahan cuaca ekstrem, bukan sekadar solusi tambal sulam.

Beruntung Tanpa Korban Jiwa, Tapi Trauma Mendalam

Menurut laporan dari pihak kepolisian, tidak ada korban jiwa maupun luka serius. Namun, sembilan sepeda motor rusak akibat tercebur ke sungai, dan sebagian besar warga mengalami trauma.

Evakuasi berlangsung cukup cepat. Enam motor berhasil diselamatkan dari arah Bojongsoang, sementara tiga lainnya ditarik dari sisi Baleendah. Jembatan kini ditutup total demi alasan keselamatan.

Insiden ini mencerminkan betapa krusialnya peran infrastruktur dasar dalam kehidupan warga.

Ketika solusi darurat seperti jembatan apung dijadikan sarana utama karena minimnya akses yang layak, risiko seperti ini hanya tinggal menunggu waktu.

Masyarakat menuntut agar pemerintah daerah tidak menunggu korban jiwa untuk bergerak.

Dibutuhkan tindakan nyata, bukan sekadar penutupan sementara atau janji pembenahan. (*)

Editor : Riana M.
#jembatan ambruk #jawa barat #baleendah #bojongsoang