Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Dedi Mulyadi Soroti Dugaan Eksploitasi Eks Pemain Sirkus OCI: Siap Bantu Lacak Identitas dan Ungkap Luka Lama

Indi Wardani • Jumat, 9 Mei 2025 | 00:44 WIB
Dedi mulyadi saat berpidato
Dedi mulyadi saat berpidato

Jawa Pos Radar Lawu – Kasus dugaan eksploitasi terhadap mantan pemain sirkus Oriental Circus Indonesia (OCI) yang pernah tampil di Taman Safari Indonesia kembali mencuat ke permukaan dan menuai sorotan publik.

Cerita pilu tentang masa lalu para mantan pemain sirkus ini tidak hanya menggugah empati masyarakat, tetapi juga menarik perhatian Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Dalam sebuah pertemuan yang difasilitasi sebagai forum kekeluargaan, Dedi Mulyadi mempertemukan 12 eks pemain sirkus OCI dengan Direktur Taman Safari Indonesia, Aswin Sumampau.

Pertemuan tersebut berlangsung penuh haru dan emosional, khususnya saat para mantan pemain sirkus membuka kisah hidup mereka—kisah yang selama puluhan tahun disimpan rapat.

Kisah Luka dari Masa Kecil

Beberapa dari eks pemain sirkus OCI mengaku diambil paksa dari keluarga mereka pada era 1970-an dan tidak pernah tahu siapa orangtua kandung mereka.

Mereka menyatakan tidak diberi akses pendidikan, tidak memiliki dokumen identitas, dan bahkan mengalami kekerasan fisik maupun mental selama menjadi bagian dari pertunjukan sirkus.

“Waktu itu saya kecil, saya tidak tahu di mana ibu saya, bapak saya. Saya disuruh tampil, disuruh kerja. Kami tidur di kandang hewan, Pak,” ungkap salah satu mantan pemain, terbata-bata.

Dugaan eksploitasi ini tidak hanya menyangkut aspek perlakuan semasa kecil, tetapi juga menyentuh persoalan hak dasar manusia seperti identitas, pendidikan, dan kebebasan.

Dedi Mulyadi: Akan Lacak Identitas Mereka Secara Pribadi

Dedi Mulyadi, yang selama ini dikenal dengan pendekatan humanisnya dalam menangani masalah sosial, menunjukkan keprihatinan mendalam.

Ia tidak hanya hadir sebagai pejabat, tetapi tampil sebagai seorang mediator yang ingin menyelesaikan persoalan ini dengan cara kekeluargaan.

“Saya akan jalankan sendiri untuk mencari asal-usul mereka. Saya akan bantu sampai cari alternatif teknologi untuk melacak identitas mereka,” ujar Dedi dalam pertemuan itu, sebagaimana dilansir dari kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel, Kamis (8/5/2025).

Ia menyebut pertemuan tersebut bukan forum hukum, melainkan ruang empati dan rekonsiliasi.

Namun, Dedi juga menegaskan bahwa fakta-fakta yang muncul tetap akan menjadi pertimbangan bagi langkah hukum jika diperlukan di kemudian hari.

Saat Dedi menanyakan, “Berapa yang tidak tahu asal-usulnya?” salah satu peserta menjawab, “Ada 20-an orang, Pak Dedi.”

Jawaban itu membuat suasana semakin emosional.

Taman Safari Indonesia Beri Tanggapan

Direktur Taman Safari Indonesia, Aswin Sumampau, yang turut hadir dalam pertemuan tersebut, menerima keluhan para eks pemain dan menyampaikan keterbukaan untuk duduk bersama dan menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan.

Ia menyebut bahwa pihaknya juga akan menelusuri data dan catatan masa lalu terkait hubungan antara OCI dan lembaga mereka, meski secara resmi Oriental Circus dan Taman Safari Indonesia adalah entitas yang terpisah.

Namun, fakta bahwa sebagian eks pemain OCI menghabiskan masa kecil mereka tampil di Taman Safari tetap menjadi titik kritis dalam persoalan ini.

Desakan Publik dan Potensi Langkah Hukum

Sejumlah aktivis dan lembaga bantuan hukum kini mulai menyoroti kasus ini lebih serius.

Mereka menyebut kisah ini bukan hanya soal moralitas, tetapi juga kemungkinan adanya pelanggaran hak asasi manusia dan eksploitasi anak di masa lalu.

Desakan agar pihak berwenang membuka investigasi lebih luas pun mulai bermunculan.

Publik juga mulai mempertanyakan, bagaimana bisa selama puluhan tahun keberadaan anak-anak ini luput dari perhatian negara, dan mengapa kisah seperti ini baru muncul setelah sekian lama?

Harapan: Penelusuran, Keadilan, dan Pemulihan

Di tengah segala hiruk-pikuk tersebut, kehadiran Dedi Mulyadi memberikan sedikit harapan.

Ia menegaskan komitmennya untuk membantu para eks pemain menemukan asal-usul mereka dan mendukung langkah pemulihan baik dari sisi administratif, psikologis, maupun sosial.

“Ini bukan soal menyalahkan masa lalu. Ini tentang menyelamatkan masa depan orang-orang yang pernah kehilangan haknya,” tutup Dedi.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa sejarah tidak selalu indah, dan sering kali, keadilan datang terlambat.

Namun, selama masih ada kepedulian dan upaya, harapan itu tak pernah benar-benar padam. (*)

Editor : Riana M.
#gubernur jabar #dedi mulyadi