Jawa Pos Radar Lawu - Jelang Lebaran, masyarakat dikejutkan dengan temuan belasan ton cincau dan agar-agar mengandung formalin di Serang, Banten.
Temuan mengejutkan ini berhasil diungkap oleh tim gabungan dari BBPOM Serang bersama Ditkrimsus Polda Banten, Satpol PP, dan Diskoumperindag Kabupaten Serang.
Tak tanggung-tanggung, total 12,9 ton atau setara 12.920 kilogram produk berbahaya ini langsung dimusnahkan.
Proses pemusnahan dilakukan langsung di area pabrik di Desa Kadugenep, Kecamatan Petir, Kabupaten Serang, pada Rabu (26/3).
Petugas dengan hati-hati mengeluarkan ratusan kaleng dan bak berisi cincau dan agar-agar dari wadahnya, lalu mencacah dan menguburnya di lubang besar yang telah disiapkan.
Terbukti Mengandung Formalin, Siapapun Wajib Waspada
Kepala BBPOM Serang, Mojaza Sirait menegaskan, hasil uji laboratorium menunjukkan semua produk positif mengandung formalin.
"Baik hasil rapid test maupun uji lab, seluruhnya terbukti mengandung formalin. Karena itu, wajib kita musnahkan," tegas Mojaza.
Diketahui, barang yang dimusnahkan terdiri dari 700 kaleng dan 32 bak besar berisi cincau hitam dan agar-agar. Jika diuangkan, nilainya ditaksir mencapai Rp. 51 juta.
Pabrik Sudah Beroperasi 2 Tahun, Pemilik Akui Kesalahan
Menariknya, pabrik ini sudah beroperasi selama dua tahun dan mempekerjakan sekitar 40 orang.
Pemilik pabrik, Markum (61), dinilai kooperatif selama proses pemeriksaan dan mengaku siap bertanggung jawab secara hukum.
"Kami tetap jalankan proses hukumnya, walaupun pemilik kooperatif," jelas Mojaza.
Tak Cuma Dimusnahkan, Pabrik Bakal Dibina
Meski berstatus pelanggar, pabrik ini akan mendapat pendampingan dari BBPOM bersama Diskoumperindag dan Dinas Kesehatan.
Harapannya, pabrik tersebut bisa tetap beroperasi namun sesuai dengan aturan dan memproduksi cincau yang aman.
“Kami ingin agar ke depan pabrik ini bisa menjadi lebih baik, memproduksi cincau dalam jumlah besar tapi sesuai standar keamanan pangan,” tambahnya.
Temuan ini menjadi pengingat bagi masyarakat agar lebih selektif saat membeli takjil dan makanan jelang Lebaran, terutama produk-produk olahan yang berpotensi mengandung bahan berbahaya. (*)
Editor : Riana M.