Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Ponorogo Creative Festival : Simbolis Budaya Pernikahan dalam Reog Ponorogo

Nosa Retno Palupi Utami • Jumat, 17 Mei 2024 | 21:59 WIB
Jadwal Ponorogo Creative Festival 2024. (DISBUDPARPORA PONOROGO)
Jadwal Ponorogo Creative Festival 2024. (DISBUDPARPORA PONOROGO)

Jawa Pos Radar Lawu - Sugiri Sancoko Bupati Ponorogo resmi membuka Ponorogo Creative Festival pada Rabu, 15 Mei 2024 lalu.

Acara dari Ponorogo Creative Festival yang sudah berlangsung adalah Pentas Seni Gajah-Gajahan, Literasi Digital Kolaborasi Musik, Reog Obyog, dan dibukanya Pameran dan Bazaar Ekonomi Kreatif serta Rono Rene Ngopi Berbudaya yang akan berlangsung hingga penutupan Ponorogo Creative Festival nanti di tanggal 18 Mei 2024.

Puncak acara nanti akan diselenggarakan Gebyar Seni Tari oleh para Pelajar Ponorogo untuk memeriahkan Ponorogo Creative Festival. Acara ini diselenggarakan untuk memperkuat pengajuan Hak Milik Warisan Budaya Tak Benda Ponorogo di UNESCO.

Lalu bagaimanakah budaya Reog itu sendiri hadir di dalam masyarakat Ponorogo dan kaitannya pada simbolisme pernikahan di Ponorogo?

Kesenian Reog sendiri memiliki sejarah dimana Raja Klono Sewandono ingin menikahi sang Putri Kerajaan Daha, Dewi Songgolangit.

Tak hanya Prabu Klono Sewandono yang bermaksud menikahinya, tetapi Raja Singa Barong juga berniat mempersunting Dewi Songgolangit.

Karena diperbutkan dan diinginkan banyak pihak, Dewi Songgolangit memberikan prasyarat kepada siapa saja yang ingin menikahinya.

Syarat pernikahannya yaitu ia meminta adanya pertunjukkan yang belum ada sebelumnya.

Pertunjukkan ini harus memiliki unsur 1000 kuda putih yang nantinya disebut sebagai Jathil, 1000 pendekar hebat yang disebut Warok, adanya hewan berkepala dua yang belum pernah ada di dunia ini yang ikut menari, dan ditarikan dengan iringan gamelan.

Pertunjukkan ini adalah cikal bakal dari Reog Ponorogo, dimana tarian ini menceritakan bagaimana perseteruan antara Prabu Klono Sewandono dengan Singo Barong.

Singo Barong pun kalah dengan menjadi hewan berkepala dua karena hewan Merak yang selama ini ada di kepalanya untuk membersihkan kutu-kutu di rambutnya menyatu dengan kepalanya setelah terkena Pecut Samandhiman dari Prabu Klono Sewandono.

Baca Juga: Viral Kurir Antar Paket COD Pupuk Booster Kelengkeng, Rumah Dipasang Garis Polisi, Ternyata Pemesannya Korban Ledakan Mercon Balon Udara di Ponorogo

Dengan adanya sejarah Reog yang berawal dari niat Prabu Klono Sewandono dan juga Raja Singa Barong untuk menikahi Dewi Songgolangit.

Meskipun pada akhirnya Dewi Songgolangit tetap menolak keduanya, tarian ini tetap lestari dan diadakan untuk menghibur Prabu Klono Sewandono yang bersedih.

Budaya penyelanggaraan Reog Ponorogo pun juga merambah di kalangan masyarakat Ponorogo sebagai ritual dan adat ketika diadakannya sebuah pernikahan khas Jawa.

Reog Ponorogo pun menjadi simbolis tersendiri akan perjuangan menggapai cinta dan perjuangan dalam pernikahan. (*)

Editor : Riana M.
#festival seni #budaya pernikahan #jawa timur #pertunjukan #kesenian #tradisi #Tradisi dan Budaya #Ponorogo Creative Festival #ponorogo #reog ponorogo