PONOROGO, Jawa Pos Radar Lawu - Teror ulat bulu ternyata tidak hanya menyerang Lingkungan Mayak, Kelurahan Ronowijayan, Ponorogo, Jawa Timur hingga menyebabkan belasan warga mengungsi.
Ulat bulu lebih dulu mewabah di Probolinggo pada 2011 lalu. Selain mengganggu pertanian, teror ulat bulu juga meresahkan warga lantaran membuat gatal.
Hal itu sebagaimana diugkap Mukhamad Fatoni dari Yayasan Pondok Pesantren Nurul Huda Mts Nurul Huda Sukaraja Oku Timur.
Kejadian itu diungkap dalam penelitiannya berjudul Analisis Ilmiah Wabah Ulat Bulu di Probolinggo.
Dalam penelitian tersebut, Liang Kaspe, Ketua Unit RS Hewan dan Pendidikan Setail menjelaskan bahwa wabah ulat bulu terjadi karena tidak adanya keseimbangan ekosistem dalam rantai makanan di suatu wilayah.
Seperti populasi burung pemakan ulat dan semut keranggang yang biasa memangsa ulat bulu, kini jumlahnya banyak berkurang.
''Selama ini banyak burung yang ditangkap dan ditembak dan semut keranggang yang masih berupa kroto (telur) sudah diambil warga untuk dijual,'' tulisnya
''Sehingga ketidakseimbangan ekosistem dalam rantai makanan ini membuat populasi ulat bulu terus meningkat,'' tambahnya.
Sementara itu, Rosichon Ubaidillah, Peneliti Serangga Bidang Parasit LIPI, berpandangan bahwa jika mendasar teori entomologi atau ilmu yang mempelajari serangga, dinamika populasi dipengaruhi oleh faktor abiotik dan biotik.
''Faktor biotik adalah adanya musuh alam dari ulat bulu dan ngengat, yakni berupa predator, parasit dan patogen atau agen biologis yang menyebabkan penyakit pada inangnya. Sedangkan faktor abiotik adalah musuh yang bukan berasal dari alam,'' tulis Risichon. (kid)
Editor : Nur Wachid