MADIUN, Jawa Pos Radar Lawu - Tidak hanya di Jepang, boneka Amigurumi juga digandrungi di Kabupaten Madiun.
Bu Bidan Hutami salah seorang perajinnya. Saking cintanya, meski jam padat menjadi bidan di salah satu rumah sakit swasta di Kota Madiun, Warga Desa/Kec. Balerejo, Kab. Madiun itu tetap meluangkan waktunya membuat boneka Amigurumi.
Selain ahli mengoperasikan jarum suntik, pemilik nama lengkap Hutami Widya Pratiwi itu juga terampil menggunakan jarum rajut guna membuat kerajinan Amigurumi.
"Bahannya selain jarum rajut itu ada benang rajut, dan dacron untuk isian bonekanya," kata perempuan 28 tahun tersebut.
Hutami mengatakan, untuk membuat boneka Amigurumi ini kuncinya pada penguasaan pola merajut karakter boneka yang ingin dibuat.
“Waktu itu iseng buat strap masker, lalu pas cari pola justru ketemu Amigurumi. Belajar otodidak melalui Youtube, coba dua kali bisa. Eh, keterusan sampai sekarang,” ujarnya sembari menyebut telah gandrung dengan boneka Amugurumi sejak SD.
Boneka amigurumi buatannya itu kemudian diposting di media sosial (medsos) untuk promosi. Sejak itu banyak orang yang berminat dan order boneka amiguruminya.
Tak hanya menerima karakter amigurumi, dia juga menerima request lain seperti boneka kelinci, jerapah, kartun macan hingga Lotso.
“Selain boneka juga ada bunga tulip bertangkai, gantungan kunci, dan jepit rambut,” paparnya.
Sementara itu pelanggannya mayoritas dari kalangan calon ibu yang sedang menantikan kelahiran buah hatinya.
Mayoritas orderan datang dari berbagai daerah. Mulai Kabupaten Madiun, hingga paling jauh Lampung dan Nusa Tenggara Barat (NTB).
“Pemasaran via medsos dan marketplace, jadi bisa terima orderan dari luar daerah juga,” terangnya.
“Sebulan rata-rata 8 hingga 10 orderan, bulan ini sudah masuk 6 orderan dengan jumlah per orderan 1 sampai 2 piecies,” lanjut Hutami.
Satu buah kerajinannya dibanderol dengan variasi harga sesuai kerumitan dan ukuran Amiguruminya.
Paling kecil dan simpel dihargai Rp 10 ribu hingga Rp 70 ribu, atau bisa lebih untuk ukuran besar dan cukup kompleks pembuatannya.
Sedangkan untuk proses produksi sendiri membutuhkan waktu sekitar enam hari hingga dua minggu per kerajinan tergantung panjang antrean orderan.
“Sistemnya preorder, dan biasanya saya kerjakan disela kerja sift dinas di rumah sakit,” tandasnya. (ryu/kid)
Editor : Dian Rahayu