Dengan mudik
kulewati lagi jalan jalan
saat berangkat merantau
berubah sungguh berubah
bulak sunyi jadi ramai
warung toko penjual bensin
lampu lampu terang.
Yang tidak berubah
hanya rindu pada tanah kelahiran.
Dengan mudik
aku bisa melewati
dekat sekolahku dulu
sederhana menjadi megah
pagar pagat rumah
ada di sepanjang gang kota tempat dulu aku mengirim
kartu lebaran dan kartu pilihan pendengar.
Surau mungil itu
berubah masjid
dengan pengeras suara lantang.
Dengan mudik
aku ketemu kembali.
rumah desa yang dulu luas
kini terasa sempit
karena semua saudara
anak cucu berdatangan
Dengan mudik
aku ketemu sumbet air tempatku dulu
berenang mandi mandi
berubah menjadi tempat wisata.
Dengan mudik
aku ketemu kembali makam desa
makin bersih terawat
pada nama nama
yang terpahat di nisan
aku menemukan siapa diriku
dari mana asalku
menuju ke udik waktu
jelas menjelaskan
yang fana tak berdaya
di depan yang abadi.
2025
*) Mustofa W Hasyim, penulis puisi, cerpen, novel, esai, laporan, resensi, naskah drama, cerita anak-anak, dan tulisan humor sejak era 70-an. Aktif di Persada Studi Klub Malioboro. Pernah bekerja sebagai wartawan. Anggota Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta dan Lembaga Seni Budaya Muhammadiyah DIY, serta Ketua Majelis Ilmu Nahdlatul Muhammadiyin.