Puisi: Warok Sutejo*
Perayaan kemerdekaan menjelma pementasan tari topeng, kaki-kaki politik menginjak kepala kawan
ditendang keluar gelanggang atau terkurung di penjara. Sejak kapan sajak-puisi kemerdekaan kau gubah lirik musik banal nan arogan.
Seorang kakek berjalan lunglai, karena tubuh ringkihnya tak kuasa mengayuh becak. Bukan pemulung ia tetapi peminta-minta, kadang garang
diusir satpol PP. Meradang ia tetapi bisa berbuat apa.
Ia merindu bansos, tapi nama tak ada di daftar penerima desa. Aku menyapa si kakek sebagai wasiat reformasi, tapi dipenuhi air kencing dan kotoran perilaku para petinggi negeri.
Cucu laki-lakinya menginjak remaja, di emper reyot rumah terdengar beriba, "Tidurlah dik, agar tak lagi terasa laparmu. Lupakan Hari Kemerdekaan,
karena memang kita tak PERNAH MERDEKA!"
Sore itu si kakek pulang, usai seharian gerilya lapar di perempatan jalan kota. Ia katam warna warni hiasan kemerdekaan menyala bergantian: merah putih, merah putih. Di antara tiga warna lampu perempatan kota. Tempat ia menggantung nyawa, juga ibadah di hari tua.
Seorang pejabat kota tersesat mata pada delapan penjuru wajah lelaki renta, "Mengotori keindahan kota saja! Kenapa tidak mati saja!" Kakek tua melihat takjub cat mobil mengkilat serupa dahinya. Tersengat terik matahari, terkucur keringat, terengah mulutnya bicara: rasa haus hingga ke pangkal lehernya.
Aku lihat wajah tuanya, mengenang pelajaran sejarah dari rak buku kecil bubrah: ada harum di antara buku berdebu. "Tidur saja cucuku, biar harum darah pahlawan bangsa ini bisa kau cium kembali!" Bola matanya berdansa, membayangkan kedua cucunya jadi abdi negara. "Tapi bagaimana caranya? Di negeriku begitu banyak jalan tikus yang tak pernah aku mengerti."
Aku menghela, nafas duka tiba-tiba memanggil paru-paruku. Di nafasku ada nafas kakek dan cucunya. Di antara, lagu-lagu kemerdekaan tergiang
suara elegi di mana-mana, ke mana-mana. Gelombang pehaka, sampah politik, erosi budaya, dekadensi moral remaja, dan duka birokrasi mengangkang di atas kepala. Semua berkejaran melebihi pacuan kuda, atau karapan sapi Madura.
Cucu Remajanya berkata, "Tidurlah dik di atas perut LAPAR-ku, biar kakak ceritakan indahnya cita-cita PAHLAWAN yang MEMERDEKAKAN kita dari
KESENGSARAAN, agar mimpimu indah tak senista tubuh kita!" Aku melihat mereka, merapal mantra dendam ke langit jingga, bagi penguasa korup penuh topeng aneka warna. Kakek tua sambil berlinang air mata, meraba lengket perutnya yang berdansa.
Baca Juga: Gaji PNS Naik Di Tahun 2025, Segini Besarannya Mulai dari Golongan I Hingga IV
Sebagai pegawai rendah, aku melihat kemilau birokrat beringsut desak. Melipat dan menggunting kursi menjelma aneka bentuk. Aku dengar kakek bercerita tentang cucunya, "Tidurlah dik, agar tak kau dengar lagi rakusnya KORUPTOR melebihi ANJING-ANJING kelaparan!" Aku membayangkan negeriku menjelma hutan bebas, pasal-pasal hukum rimba jelas terbaca. Tetapi, aku mau apa, bisa apa.
"Siapa kamu?" Tanyaku kepada cucu remaja laki-laki itu. Dia menangis, "Aku mahasiswa, penerima KIP yang disunat wakil rakyat." Aku harus bagaimana, ketika dosen dan rektor takut pada negara, pada politikus dan penguasa, aku bernyanyi dengan fals: Indonesia memang tanah air mata ...
Kembali kudengar lelaki mahasiswa itu berkata pada adiknya, "Tidurlah dik, biarkan mereka menghabiskan milyaran di istana untuk perayaan KEMERDEKAAN, entah untuk siapa." Jika pada para pahlawan, ia tak akan lupa tetapi penjahat bernama birokrat negara, untuk apa jika tak dilupa. Agama hanya kata-kata, atau identitas KTP belaka.
Ada bau kayu lapuk di pohon beringin, daun-daunnya tumbuh berwarna kuning tinja. Ada banteng mengendap-endap, berwajah amarah, bermulut ambisi siap menerkam tukang kayu. Orang-orang meratap di dekat ka'bah, karena hilang dari gelanggang Senayan yang dipenuhi busa-bisa politik, entah berhilir-hulu ke mana. Sejumlah rakyat memandang bintang, tetapi beraroma biru muram. Ada kepala garuda senantiasa diam, tak berkata, menyaksikan tukang kayu menari tak berirama.
Seorang nenek tua dengan wajah datar, menghadap kue-kue dagangan sore sambil nembang Jawa: Caping Gunung. Negeri ini menjelma wajan goreng raksasa, di dalamnya: nasib rakyat digoreng, jerit suara mereka memekakkan telinga. Aku bertanya, "Ada apa dengan negeriku? Mengapa pula menjelma tungku penuh bara?"
Ada habib memaki tokoh agama negeriku, ada habib mengaku leluhurnya adalah perintis negeriku. O, negeri huru hara terbiar menjadi hara taman negeriku. Tumbuh subur benih kebencian menjelma pohon-pohon rindang berbuah percikan api. O, kantor Ormas didemo kaki tangan politikus, pemuda Ormas dianiaya atas nama pengawal agama dengan wajah samar tak dikenali oleh negara kamera. Atau memang pura-pura buta. Oh, negeri haha hihi kata Mustofa Bisri.
Eh, bukan tidak tahu para penguasa, tetapi karena mereka telah menjelma cucu-cicit Belanda: devide et empira. Berberai saja rakyatku, maka aku kuasai dirimu. Irama penjajahan berasa getir dan anyir di sudut-sudut media, siapa juga ambil tubuhnya jadi peluru menghantam penguasa. Para dosen dan rektor tiarap di balik kerangkeng politik kuasa atas nama tuhan demokrasi. Atas nama materi dan kursi yang diduduki sambil melihat wajah diri penuh paradoks dan ironi.
____
Sebagian larik-larik puisi adalah larik-larik puitis anonim yang beredar satir menyambut perayaan kemerdekaan.
*) Budayawan, sastrawan, dosen STKIP PGRI Ponorogo
Editor : Nur Wachid