Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Puisi-puisi Damay Ar-Rahman

Nur Wachid • Senin, 29 Januari 2024 | 00:32 WIB

 

(ILUSTRASI: DANI ERWANTO/JAWA POS RADAR CARUBAN)
(ILUSTRASI: DANI ERWANTO/JAWA POS RADAR CARUBAN)

Seberapa Panjang Perjalanan

Oleh: Damay Ar-Rahman

 

Daun-daun itu gugur

Diterpa hujan ringan

Tidak memiliki tangkai

Hanya tempias rumah lama

 Baca Juga: Pak Ogleng: Sudah Dijelaskan, Kok Malah Tanya Cari Jawaban

Samar-samar suara gerak di semak belukar

Suasana masih dalam mesra

Lantunan biduan angin menerka

Mencium paras pencinta sunyi

 Baca Juga: Puntung Rokok

 

Jalan basah terbasuhi langkah pengelana

Memberi jejak kepergian sementara

Meski pulang tanpa rarah

Akan ditemui tujuan

Yang turun itu adalah sebuah kata janji penantian 

 

Pembantaian di Persimpangan Tahta

Oleh: Damay Ar-Rahman

 

Mereka di atas bukit sana

Menghabiskan pelor untuk membantai para kerdil

Menyebarkan  virus-virus traumatik

Membunuh dengan tikai kelut

Tanpa ampun

Tanpa nurani

Ketika prajurit tiba di seberang

Ruang tertutup ditebas hingga memuncratkan darah si wajah bisu

Gas-gas berisi kotoran mayat

Menakhlukkan halaman merdeka

Pengkejaman telah membocorkan dada perikemanusiaan

Kain rongsokkan bekas bercak tanah hujan menjadi bukti keberanian

 

Mereka tanpa kurang bermohon pada Tuhan

Mempertahankan tanah adalah pengabdian

Yakin akan kekuasaan sang gagah perkasa

Pembela takkan luput sebelum menang

Ini di tempat yang berpuluh tahun dengan cerita sama ditanah perjuangan

 Baca Juga: Abimanyu Silakan Gugur

 

Pagi di Rumah Ibu

Oleh: Damay Ar-Rahman

 

Ritmis terdengar manis

Dalam lantunan di pagi gerimis

Seduhan teh hangat menemani kesendirian diantara mereka yang pergi berjuang

Rumah tidak berukuran lebar

Sebuah kereta tua terparkir di teras

Juga vas bunga berukuran daun selasih

 

Dekat radio 1990 an tergambar foto lama dengan bingkai yang pudar

Terdapat gorden merah muda diterpa-terpa kipas

Suara orang memasak dari balik dapur terdengar tangkas menyajikan hidangan yang menggiurkan

Ini adalah pagi yang penuh cerita

Berbahasa jiwa yang menggunggah

Sebuah Petapa

Oleh: Damay Ar-Rahman

 

Kelopak sayap berwarna biru muda

Mengembang membahana

Mengarungi sungai di hutan pinus belantara

Membawa rasa cinta suci

Megahnya samudra, dilintasi hingga menepis waktu malam

 

Suara riuh para burung yang berburu penghidupan, menggambarkan suasana penuh gairah

Batu kerikil berderai disapu air karang

Pasir menangkis air di ujung tepian

Gelombang awan di tengah laut berpusar memperistirahatkan petang

Di dalam alam membentang, banyak keragaman untuk didiamkan

Sebuah Petapa II

Oleh: Damay Ar-Rahman

 

Kutidurkan engkau adik

Selepas membaca tauhid

Mengeja bacaanmu, masih banyak kesalahan dituntut

Beda kau ucap, maka arti juga tak sama

Seperti kata ibu kita

Kelancaran membaca bukan pedoman keberhasilan

 Baca Juga: SEHAT MENTAL MELALUI KATA

Adik, perlahan-lahan lebih baik

Lantunkan pada ruhmu

Bawa dengan penuh perasaan

Tatap sedalam hati

Dengarkan....

Ini adalah nasihat ringan

Pikullah sebelum berat

bahwa,

Perjalanan tidak hanya soal keindahan

Tetapi pelajaran untuk keselamatan

Abadi dan pantang diingkar

 

Lhokseumawe, Januari 2024

Baca Juga: Satire Pendidikan Merdeka

BIODATA PENULIS: Damay Ar-Rahman atau Damayanti, alumni Universitas Malikussaleh dan IAIN Lhokseumawe. Penulis merupakan pengajar dan penulis buku puisi Aksara Kerinduan 2017,  Serpihan Kata, Senandung Kata, Cerpen Bulan di Mata Airin 2018, Dalam Melodi Rindu 2019, novel Akhir Antara Kisah Aku dan Kamu 2020, Di Bawah Naungan Senja, dan Musafir 2022. Tulisannya  dimuat oleh  surat kabar lokal, nasional, dan termasuk dalam jurnal internasional Malaysia. Pernah mengisi kelas menulis, bedah buku diselenggarakan oleh lembaga pendidikan dan dinas. Tinggal di Lhokseumawe dapat di hubungi melalui 082274515668, dan media sosial @damayarrahman.


MAKLUMAT

Jawa Pos Radar Lawu menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, opini, esai dan resensi di kolom Sosial-Budaya pada portal radarlawu.jawapos.com. Naskah berupa file Microsoft Word, khusus puisi maksimal lima judul.

Adapun kiriman merupakan karya orisinal, bukan hasil plagiasi karya orang lain, serta belum pernah dipublikasikan. Karya menjadi tanggung jawab penulis. Cantumkan uraian singkat identitas diri, karya dapat dikirim melalui surel ke alamat wachidradarmadiun@gmail.com. Kunjungi juga Instagram @jawapos.radarlawu. Salam. 

Editor : Nur Wachid
#Pagi di Rumah Ibu #Pembantaian di Persimpangan Tahta #Damay #puisi #Seberapa Panjang Perjalanan #damayanti