Seberapa Panjang Perjalanan
Oleh: Damay Ar-Rahman
Daun-daun itu gugur
Diterpa hujan ringan
Tidak memiliki tangkai
Hanya tempias rumah lama
Baca Juga: Pak Ogleng: Sudah Dijelaskan, Kok Malah Tanya Cari Jawaban
Samar-samar suara gerak di semak belukar
Suasana masih dalam mesra
Lantunan biduan angin menerka
Mencium paras pencinta sunyi
Baca Juga: Puntung Rokok
Jalan basah terbasuhi langkah pengelana
Memberi jejak kepergian sementara
Meski pulang tanpa rarah
Akan ditemui tujuan
Yang turun itu adalah sebuah kata janji penantian
Pembantaian di Persimpangan Tahta
Oleh: Damay Ar-Rahman
Mereka di atas bukit sana
Menghabiskan pelor untuk membantai para kerdil
Menyebarkan virus-virus traumatik
Membunuh dengan tikai kelut
Tanpa ampun
Tanpa nurani
Ketika prajurit tiba di seberang
Ruang tertutup ditebas hingga memuncratkan darah si wajah bisu
Gas-gas berisi kotoran mayat
Menakhlukkan halaman merdeka
Pengkejaman telah membocorkan dada perikemanusiaan
Kain rongsokkan bekas bercak tanah hujan menjadi bukti keberanian
Mereka tanpa kurang bermohon pada Tuhan
Mempertahankan tanah adalah pengabdian
Yakin akan kekuasaan sang gagah perkasa
Pembela takkan luput sebelum menang
Ini di tempat yang berpuluh tahun dengan cerita sama ditanah perjuangan
Baca Juga: Abimanyu Silakan Gugur
Pagi di Rumah Ibu
Oleh: Damay Ar-Rahman
Ritmis terdengar manis
Dalam lantunan di pagi gerimis
Seduhan teh hangat menemani kesendirian diantara mereka yang pergi berjuang
Rumah tidak berukuran lebar
Sebuah kereta tua terparkir di teras
Juga vas bunga berukuran daun selasih
Dekat radio 1990 an tergambar foto lama dengan bingkai yang pudar
Terdapat gorden merah muda diterpa-terpa kipas
Suara orang memasak dari balik dapur terdengar tangkas menyajikan hidangan yang menggiurkan
Ini adalah pagi yang penuh cerita
Berbahasa jiwa yang menggunggah
Sebuah Petapa
Oleh: Damay Ar-Rahman
Kelopak sayap berwarna biru muda
Mengembang membahana
Mengarungi sungai di hutan pinus belantara
Membawa rasa cinta suci
Megahnya samudra, dilintasi hingga menepis waktu malam
Suara riuh para burung yang berburu penghidupan, menggambarkan suasana penuh gairah
Batu kerikil berderai disapu air karang
Pasir menangkis air di ujung tepian
Gelombang awan di tengah laut berpusar memperistirahatkan petang
Di dalam alam membentang, banyak keragaman untuk didiamkan
Sebuah Petapa II
Oleh: Damay Ar-Rahman
Kutidurkan engkau adik
Selepas membaca tauhid
Mengeja bacaanmu, masih banyak kesalahan dituntut
Beda kau ucap, maka arti juga tak sama
Seperti kata ibu kita
Kelancaran membaca bukan pedoman keberhasilan
Baca Juga: SEHAT MENTAL MELALUI KATA
Adik, perlahan-lahan lebih baik
Lantunkan pada ruhmu
Bawa dengan penuh perasaan
Tatap sedalam hati
Dengarkan....
Ini adalah nasihat ringan
Pikullah sebelum berat
bahwa,
Perjalanan tidak hanya soal keindahan
Tetapi pelajaran untuk keselamatan
Abadi dan pantang diingkar
Lhokseumawe, Januari 2024
Baca Juga: Satire Pendidikan Merdeka
BIODATA PENULIS: Damay Ar-Rahman atau Damayanti, alumni Universitas Malikussaleh dan IAIN Lhokseumawe. Penulis merupakan pengajar dan penulis buku puisi Aksara Kerinduan 2017, Serpihan Kata, Senandung Kata, Cerpen Bulan di Mata Airin 2018, Dalam Melodi Rindu 2019, novel Akhir Antara Kisah Aku dan Kamu 2020, Di Bawah Naungan Senja, dan Musafir 2022. Tulisannya dimuat oleh surat kabar lokal, nasional, dan termasuk dalam jurnal internasional Malaysia. Pernah mengisi kelas menulis, bedah buku diselenggarakan oleh lembaga pendidikan dan dinas. Tinggal di Lhokseumawe dapat di hubungi melalui 082274515668, dan media sosial @damayarrahman.
MAKLUMAT
Jawa Pos Radar Lawu menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, opini, esai dan resensi di kolom Sosial-Budaya pada portal radarlawu.jawapos.com. Naskah berupa file Microsoft Word, khusus puisi maksimal lima judul.
Adapun kiriman merupakan karya orisinal, bukan hasil plagiasi karya orang lain, serta belum pernah dipublikasikan. Karya menjadi tanggung jawab penulis. Cantumkan uraian singkat identitas diri, karya dapat dikirim melalui surel ke alamat wachidradarmadiun@gmail.com. Kunjungi juga Instagram @jawapos.radarlawu. Salam.
Editor : Nur Wachid