Jawa Pos Radar Lawu - Kabar duka dari dunia pendidikan kembali menyita perhatian publik.
Seorang siswa SMK Negeri 4 Samarinda, Kalimantan Timur, Mandala Rizky Saputra (16), meninggal dunia setelah mengalami penurunan kondisi kesehatan yang diduga berkaitan dengan penggunaan sepatu sekolah yang terlalu sempit.
Peristiwa ini menjadi sorotan nasional karena tidak hanya menyangkut kesehatan siswa, tetapi juga menyingkap persoalan ekonomi keluarga dan sistem perlindungan peserta didik.
Kronologi Siswa SMK Meninggal di Samarinda
Berdasarkan keterangan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Timur, Mandala sempat mengikuti program praktik kerja lapangan (PKL) pada 9 Februari hingga 20 Maret 2026 di salah satu pusat perbelanjaan di Samarinda.
Program tersebut sesuai dengan jurusan yang diambilnya, yakni pemasaran.
Selama menjalani PKL sebagai pramuniaga, Mandala dituntut untuk berdiri dalam waktu lama, yang diduga memperparah kondisi kakinya.
Setelah menyelesaikan PKL, Mandala kembali ke sekolah pada 30 Maret 2026.
Namun sehari kemudian, pihak sekolah menyarankan agar ia beristirahat di rumah karena kondisi fisiknya menurun.
Sejak saat itu, Mandala tidak lagi mengikuti kegiatan belajar mengajar dan lebih banyak beristirahat di rumah.
Kondisi Kesehatan Menurun dan Kaki Membengkak
Memasuki April 2026, kondisi Mandala semakin memburuk. Ia mengalami gejala seperti pusing, lemas, serta pembengkakan pada kaki.
Pada 10 April 2026, ibu Mandala mendatangi pihak sekolah untuk meminta bantuan biaya pengobatan.
Sekolah kemudian memberikan bantuan sebesar Rp1,1 juta untuk pengobatan nonmedis.
Kunjungan pihak sekolah ke rumah Mandala pada 21 April 2026 menemukan kondisi kaki yang membengkak, namun tidak terdapat luka terbuka.
Guru kemudian menyarankan agar Mandala segera dibawa ke fasilitas kesehatan.
Namun, keterbatasan ekonomi keluarga menjadi kendala utama. BPJS yang dimiliki keluarga diketahui tidak aktif karena tunggakan, sehingga pengobatan medis belum dapat dilakukan.
Fakta Sepatu Kekecilan Baru Terungkap
Fakta bahwa Mandala menggunakan sepatu kekecilan baru diketahui menjelang akhir hayatnya.
Menurut keterangan keluarga, ia terpaksa memakai sepatu ukuran 40, sementara ukuran kakinya mencapai 43 hingga 44.
Untuk mengurangi rasa sakit, Mandala bahkan menyelipkan pembungkus buah di dalam sepatu agar lebih nyaman saat digunakan.
Kondisi tersebut diduga memperparah pembengkakan pada kaki, terlebih dengan aktivitas yang menuntutnya berdiri lama selama PKL.
Baca Juga: Passing Grade Koperasi Merah Putih 2026: Nilai Minimal, Sistem CAT, dan Strategi Lolos Seleksi
Upaya Sekolah dan Kabar Duka
Pihak sekolah sebenarnya telah melakukan berbagai upaya pendampingan.
Mulai dari pemberian bantuan, kunjungan ke rumah, hingga membantu proses pengaktifan BPJS.
Pada 23 April 2026, sekolah berencana membelikan sepatu baru sesuai ukuran serta membawa Mandala berobat. Namun, rencana tersebut tidak sempat terlaksana.
Kabar duka datang pada 24 April 2026. Mandala dinyatakan meninggal dunia, dan pihak sekolah turut membantu proses pemulasaraan hingga pemakaman.
Penjelasan Resmi Disdikbud Kaltim
Meski banyak pihak mengaitkan kematian Mandala dengan sepatu kekecilan, Disdikbud Kalimantan Timur menegaskan belum ada diagnosis medis yang memastikan penyebab pasti kematian.
Pihaknya menyatakan bahwa tanpa pemeriksaan medis yang lengkap, tidak dapat disimpulkan bahwa sepatu menjadi penyebab utama meninggalnya siswa tersebut.
Baca Juga: Heboh Kasus Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius, WHO Pastikan Risiko Pandemi Global Masih Rendah
Alarm bagi Dunia Pendidikan
Kasus ini memicu keprihatinan berbagai pihak, termasuk anggota DPR yang menilai kejadian ini sebagai alarm serius bagi dunia pendidikan di Indonesia.
Selain aspek akademik, sekolah dinilai perlu lebih peka terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan kesehatan siswa.
Deteksi dini terhadap keterbatasan yang dialami peserta didik menjadi hal penting agar kejadian serupa tidak terulang.
Tragedi ini menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya soal pembelajaran di kelas, tetapi juga tentang memastikan kesejahteraan dan kelayakan hidup setiap siswa.(*)
*Nizaria Kusumastuti, Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya
Editor : Mizan Ahsani