Jawa Pos Radar Lawu - Jagat maya dihebohkan oleh beredarnya video yang memperlihatkan pemasangan alat menyerupai eskalator di area Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Dalam unggahan yang viral di media sosial, tampak tangga candi legendaris itu dipasangi semacam rel logam dan kursi bergerak, yang memicu berbagai reaksi warganet mulai dari kritik keras hingga kekhawatiran akan pelestarian warisan budaya dunia tersebut.
Namun, pihak Istana langsung memberikan klarifikasi.
Dalam pernyataan resmi yang disampaikan oleh Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), Hasan Nasbi, dijelaskan bahwa alat tersebut bukan eskalator, melainkan stairlift sementara yang dipasang khusus untuk kunjungan kenegaraan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang akan datang pada akhir Mei ini.
Apa Itu Stairlift dan Mengapa Dipasang di Borobudur?
Stairlift adalah alat bantu mobilitas berbentuk kursi yang bisa naik turun mengikuti rel di sepanjang tangga.
Alat ini biasanya digunakan untuk lansia atau orang dengan keterbatasan mobilitas agar bisa berpindah dari satu lantai ke lantai lain dengan aman.
Menurut Hasan Nasbi, stairlift dipasang guna memfasilitasi kunjungan Presiden Macron yang didampingi Presiden Prabowo Subianto agar bisa mengakses tingkat atas Candi Borobudur dalam waktu yang efisien.
“Presiden Prancis tentu dalam kunjungan kenegaraan waktunya terbatas. Karena itu juga disiapkan fasilitas untuk memudahkan agar beliau bisa menapaki setiap tingkat yang ada di Borobudur,” kata Hasan, Senin (26/5/2025).
Hasan juga menegaskan bahwa pemasangan alat ini tidak merusak struktur candi, karena tidak menggunakan bor atau paku.
Stairlift tersebut juga dapat dibongkar kembali dengan mudah usai kunjungan berakhir.
Mengapa Menjadi Kontroversial?
Warganet dan sebagian pegiat pelestarian warisan budaya mempertanyakan keputusan ini.
Sebagian menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk pengabaian terhadap nilai historis dan kesakralan Candi Borobudur, yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia sejak 1991.
Banyak yang menyayangkan jika situs sejarah digunakan secara berlebihan untuk kepentingan seremoni politik.
Namun, Istana menanggapi bahwa penggunaan fasilitas sementara seperti ini bukan hal baru dalam kunjungan kenegaraan, terutama untuk menjamin kenyamanan tamu negara dan efisiensi waktu.
Pemerintah juga menjamin bahwa semua tindakan dilakukan di bawah pengawasan ahli konservasi dan mengikuti prosedur ketat dari Balai Konservasi Borobudur (BKB).
Penutupan Candi untuk Wisatawan Selama Kunjungan Macron
Kunjungan resmi Presiden Macron dijadwalkan pada 28–29 Mei 2025. Selama waktu tersebut, akses wisatawan ke zona I Candi Borobudur akan ditutup.
Masyarakat umum dan turis baru diperbolehkan kembali mengakses candi setelah kunjungan kenegaraan selesai.
Balai Konservasi Borobudur dalam keterangannya menambahkan bahwa tidak akan ada perubahan struktur tetap pada bangunan candi, dan seluruh elemen tambahan akan dibongkar segera setelah digunakan.
Kesimpulan: Apakah Pemasangan Stairlift Diperlukan?
Meski pemanfaatan alat bantu mobilitas di situs budaya sensitif seperti Borobudur menuai polemik, pihak Istana menyebut langkah ini sebagai bentuk diplomasi dan keramahan tuan rumah dalam menyambut pemimpin negara sahabat.
Namun, pemerintah tetap dituntut untuk berhati-hati dan transparan dalam semua kebijakan yang menyangkut situs warisan budaya, agar tetap menjaga keseimbangan antara modernitas, aksesibilitas, dan konservasi sejarah. (*)
Editor : Riana M.