Jawa Pos Radar Lawu – Harapan baru menyala di jantung Timur Tengah.
Pada malam 13 Mei, Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi mencabut sanksi ekonomi terhadap Syria.
Sebuah langkah dramatis yang disambut sorak sorai di Damaskus.
Langkah ini menjadi titik balik penting setelah lebih dari satu dekade permusuhan dan embargo ketat antara kedua negara.
Trump bahkan disebut tengah merancang pembangunan Trump Tower di pusat ibu kota Syria.
Langkah ini bukan tanpa syarat.
Pemerintah AS menetapkan 12 ketentuan, termasuk perlindungan terhadap kelompok minoritas dan kebebasan beragama.
Meskipun negosiasi dengan pemerintah baru Syria yang beraliran sayap kanan masih berlangsung, Trump melangkah sepihak sebagai bentuk komitmen untuk mendukung stabilitas dan rekonstruksi negara tersebut.
Damaskus Menari, Syria Menggenggam Asa dari Reruntuhan
Ribuan warga turun ke jalan, menari dan menyanyikan lagu tradisional.
“Puji Tuhan, syukur kepada Tuhan ribuan kali,” seru Omar al-Nafa, warga Damaskus yang larut dalam perayaan.
Lebih dari 90 persen rakyat Syria hidup dalam kemiskinan akibat konflik berkepanjangan.
Dengan dicabutnya sanksi, Syria kini punya peluang untuk membuka kembali akses ke sistem ekonomi global.
Jaringan internasional seperti SWIFT kembali terbuka, memberi ruang bagi pembangunan dan pemulihan.
Baca Juga: Berani! Zelensky Tolak Tegas Kesepakatan Tanah Jarang, Donald Trump Beri Peringatan Keras
Ketegangan Belum Usai: Israel Tetap Siaga
Namun, tidak semua pihak menyambut positif.
Israel menyatakan penolakan dan akan tetap menggempur wilayah Syria selatan yang dianggap mengancam keamanan nasional mereka.
Meski badai belum benar-benar reda, angin perubahan mulai bertiup.
Syria perlahan bangkit dari luka dan dunia mulai kembali membuka mata. (fin)
Editor : AA Arsyadani