"Bulking" dan "Cutting" di Dunia Gym
Oleh" Ainur Rofiq, Fatimatus Zahroh, Dr Nensy Simanjuntak, MPd *)
DALAM komunitas olahraga fitness atau yang sering kita kenal dengan istilah gym, sering mendengar istilah "bulking" dan "cutting". Istilah tersebut sering muncul tidak hanya di komunitas gym, tetapi industri fitness.
"Bulking" adalah fase meningkatkan massa otot dengan surplus kalori dan latihan beban berat, sedangkan "cutting" adalah fase memangkas lemak tubuh melalui defisit kalori sambil mempertahankan otot. Keduanya adalah siklus pembentukan tubuh untuk mencapai proporsi otot yang maksimal dan kadar lemak rendah.
Dengan berkembangnya teknologi, para komunitas gym dan industri fitness lebih sering terdengar dan ramainya promosi, baik konten di media sosial seperti TikTok, instagram dan lain-lain. Di zaman digital ini istilah bulking dan cutting tak luput dari tren media sosial, khususnya yang paling viral dan ramai, yaitu aplikasi TikTok. Lewat media ini, anggota komunitas gym sering kali live, workout dan berbagi ilmu latihan membentuk otot melalui media live TikTok.
Baca Juga: Rekomendasi Kafe Hits di Madiun 2026: Tempat Nongkrong Estetik, WFC Friendly, dan Favorit Anak Muda
Istilah "bulking" dan "cutting" dalam pandangan Analisis Wacana Kritis (AWK) model Norman Fairclough melihat wacana tersebut dalam 3 dimensi, yaitu dimensi teks, praktik diskursif dan praktik sosial.
Dimensi teks berfolus pada bahasa yang digunakan, yaitu "bulking" sering diasosiasikan dengan besar, masif dan naik, sedangkan "cutting" sering diasosiasikan dengan lean, kering dan shredded.
Praktik diskursif adalah bagaimana istilah itu dipakai di gym, media sosial, dan komunitas fitness. Dalam praktik sosial, istilah "bulking" dan "cutting", kaitannya dengan industri fitness, standar tubuh ideal, dan kapitalisme.
Dalam struktur sosial yang lebih luas, baik dari segi seseorang yang dalam anggota komunitas maupun orang yang memiliki program gym, istilah bulking dan cutting menjadi seperti suplemen, meal plan. Program cutting dan bulking dijual, baik dari merk yang terkenal sampai dengan yang harganya ekonomis, dengan sejumlah contoh merk.
Baca Juga: 4 Tempat WFC di Madiun dengan WiFi Kencang dan Nyaman, Cocok untuk Kerja Remote & Meeting Online
Standar tubuh ideal, tubuh berotot dan lean menjadi simbol sukses dan disiplin. Kapitalisme atau relasi kuasa, yakni trainer atau pemengaruh memiliki otoritas menentukan "cara yang benar". Jadi istilah "bulking" dan "cutting" bisa dianalisis sebagai konstruksi tubuh ideal (berotot, lean), yang kemudian menjadi bagian dari ideologi fitness dan konsumsi (suplemen, program diet, dan lain-lain).
Jika kita masuk ke tempat gym, maka hal pertama yang didengar adalah kata "bulking" dan "cutting". Istilah tersebut sering muncul di percakapan antarmember gym, konten fitness di media sosial, dan promosi program diet dan suplemen.
Istilah ini bukan sekadar teknis, tapi membentuk cara orang memandang tubuh ideal. Pola yang sering muncul pada pemula maupun member tetap gym yaitu "Harus bulking dulu baru cutting", "Kalau nggak cutting, badan nggak jadi". Artinya ada "aturan tidak tertulis" dalam komunitas gym yang mana pengetahuan ini direproduksi terus-menerus.
Dalam media sosial TikTok sering kali menjadi media live promosi dan juga sekadar workout pamer otot serta menyediakan tantangan pada penonton, entah itu push up, squad, dumble, dan lain-lain yang juga menghasilkan dari saweran penonton.
Baca Juga: Bukan Duduk atau Berdiri, Ini Kunci Utama Menjaga Kesehatan Saat Kerja Menurut Ahli
Hal itu lah yang membuat orang-orang pada tertarik untuk pergi ke tempat gym, selain untuk tujuan sehat, juga untuk membentuk badan yang ideal.
Menurut penuturan Ilham, salah seorang member gym di Bangkalan, Madura, selain minum susu protein, dia juga mengonsumsi alpukat dan dada ayam, mengurangi makanan berminyak dan istirahat yang cukup, dengan tujuan untuk regenerasi otot.
Ilham mengakui bahwa dalam latihan pasti ada rasa capek (lelah) karena latihan beban yang berat. Meskipun demikian, ia mengutip motivasi dari pelatihnya bahwa kata capek hanyalah ilusi. Maka, capek bukan menjadi pengahalang untuk terus berlatih.
Dalam pandangan analisis wacana kritis, istilah "bulking" dan "cutting" bisa menekan individu untuk mengikuti standar tertentu dan tubuh menjadi objek yang "diatur" oleh norma sosial dan pasar.
Baca Juga: Kasus Penahanan Ijazah Terulang di Madiun, Disnakerin Ancam Sanksi Tegas hingga Pencabutan Izin
Karena itu, dapat disimpulkan bahwa dengan pendekatan analisis wacana kritis aliran Fairclough, "bulking" dan "cutting" bukan sekadar istilah fitness, tapi menjadi bagian dari wacana yang membentuk realitas mengenai tubuh ideal.
Wacana ini terkait dengan ideologi (tubuh ideal), kekuasaan (pemengaruh, industri), dan ekonomi (bisnis fitness). Oleh karena itu kita pun juga harus menyadari bahwa kita tidak hanya mengenal dan menggunakan istilah atau bahasa tersebut, tetapi juga sedang dibentuk olehnya, disitulah pentingnya kita dalam menyadari makna dan kritis dalam menyerap setiap kata yang kita dengar.
BIODATA SINGKAT PENULIS
*) Ainur Rofiq dan Fatimatus Zahroh adalah mahasiswa S2 Program MPd Unitomo. Dr Nensy Megawati Simanjuntak, MPd adalah dosen Pascasarjana Universitas DR Soetomo Surabaya.
Editor : Nur Wachid