Menulislah Masa Depan yang Lebih Baik
Oleh: Rusmin Sopian
Penulis yang tinggal di Toboali
"Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang. (Seno Gumira Ajidarma)
Kamis (12/2( malam, penulis dihubungi Ketua PWI Bangka Selatan Dedy Irawan.
"Ada undangan dari Ustad Bachtiar untuk mengisi klas menulis bagi para guru dan tenaga pendidik di sekolah Islam Terpadu (IT) Cahaya ," jelas Dedy Irawan lewat handphone.
Ustad Bachtiar adalah Sekretaris Yayasan Islam Terpadu ( IT) Cahaya, Toboali Bangka Selatan. Seorang penulis buku.
Jumat siang (13/2) bersama Dedy Irawan dan penulis buku " Lawang Uma "Rapi Pradipta, kami berdiskusi dan berbagi cerita tentang budaya menulis bagi para guru dan tenaga pendidikan yang mengabdi di Sekolah IT Cahaya Toboali.
Budaya menulis pada dasarnya adalah budaya yang sudah ada sejak zaman prasejarah, dan generasi muda di negeri ini harus bisa meningkatkan dan mengembangkan budaya tersebut agar tercipta generasi yang cerdas dan kreatif.
Pada sisi lain, tidak ada istilah terlambat dalam menulis. Andrea Hirata yang bukunya menjadi “best seller” misalnya, mulai menulis pada usia 40 tahun.
Bukunya yang banyak bercerita tentang nilai-nilai luhur dan perjuangan anak bangsa di Belitong kemudian diangkat ke layar lebar dengan judul “Laskar Pelangi.”
Bung Karno dan Bung Hatta bisa membuat tulisan yang bernilai sejarah, karena karya tulis mereka memberikan inspirasi, motivasi, dan harapan bagi banyak orang, khususnya generasi muda di negeri ini, justru ketika kedua proklamator itu dipenjara serta berada dalam banyak keterbatasan.
Pada tahun 1929, Bung Karno dijebloskan ke penjara Banceuy di Bandung, selama 9 bulan. Jeruji penjara, tidak membuat Bung Karno bungkam.
Justru dari bilik penjara, Presiden pertama RI itu membuat buku fenomenal, “Indonesia Menggugat”, sebuah pledoi (pembelaan) yang berisi tentang keadaan politik internasional dan kerusakan masyarakat Indonesia di bawah penjajah. Pidato pembelaan ini kemudian menjadi suatu dokumen politik menentang kolonialisme dan imperialisme.
Kisah Bung Hatta, senada dengan Bung Karno. Pada tahun 1928 Bung Hatta menulis pembelaan dengan tulisan judul “Indonesie Vrij” atau “Indonesia Merdeka”.
Dua tahun sebelum Indonesia Menggugat ditulis oleh Bung Karno, Bung Hatta terlebih dahulu menggelorakan tuntutan ke kemerdekaan. Bung Hatta menulis pidato pembelaan ini saat menjalani masa tahanan di Rotterdam, Belanda.
Budaya menulis dan membaca sangat membantu proses belajar dan mengajar di sekolah pada khususnya, dan di masyarakat pada umumnya.
Kita belajar untuk menjadi pandai tidak lepas dari kegiatan membaca dan menulis, meskipun banyak metode lain yang juga bisa digunakan agar seseorang menjadi pandai dan cerdas.
Budaya menulis bahkan sangat membantu memperlancar hubungan dan interaksi sosial antar-individu dan kelompok masyarakat, sehingga akan dapat memperlancar hubungan kerjasama dalam menyelesaikan segala persoalan, termasuk bahkan menyelesaikan sengketa antar-bangsa.
Melalui tulisanlah kita bisa memberikan sumbangan kepada perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, dan sebagainya demi peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat.
Pada era teknologi informasi yang maju pesat dewasa ini pun, tulisan tetap merupakan media komunikasi yang efektif dan dapat diandalkan dalam menyampaikan pesan dan informasi kepada publik.
Saat ditanya apa motivasi Founding Fathers itu dalam membuat karya tulis yang kemudian menjadi warisan bersejarah tersebut?
Keduanya menjawab dengan lantang bahwa “bangsa Indonesia ke depan harus menjadi lebih.
Untuk menjadikan bagian dari negeri ini lebih baik sebagaimana pesan Founding Fathers kita Bung Karno dan Bung Hatta, maka bergegaslah untuk menulis.
Baca Juga: 10 Tradisi Tahun Baru Imlek dan Filosofi Keberuntungan yang Sarat Makna Kehidupan
Sebab menulis adalah bekerja untuk keabadian sebagaimana dituliskan Pramoedya Ananta Toer.
" Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian". (Pramoedya Ananta Toer)
BIODATA SINGKAT PENULIS:
Rusmin Sopian, penulis aktif asal Toboali, Bangka Selatan.
Editor : Nur Wachid