Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Mengapa Haji Disebut Ibadah Paripurna? Ini Tiga Kuncinya

AA Arsyadani • Jumat, 6 Juni 2025 | 00:57 WIB
Khairul Fahmi Dasuki, Ketua Gerakan Pemuda Silaturrahim Haji Indonesia
Khairul Fahmi Dasuki, Ketua Gerakan Pemuda Silaturrahim Haji Indonesia

Oleh: Khairul Fahmi Dasuki*

JUTAAN manusia dari berbagai penjuru dunia hari ini berkumpul di Padang Arafah, berzikir kepada Allah SWT.

Ada yang menangis tersedu-sedu mengingat segala dosa, ada yang mengadu tentang ruwetnya kehidupan, ada yang merenung sambil memutar tasbih, dan ada pula yang tak henti-hentinya membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Momentum ibadah haji tidak terlepas dari tiga kunci utama kemabruran itu sendiri.

Setidaknya ada tiga hal yang menjadi perhatian utama bagi jamaah selama menjalankan prosesi ibadah di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina):

  1. Menahan diri dari pembicaraan bersifat seksual (fala rofats),
  2. Menghindari segala bentuk maksiat (wala fusuq),
  3. Menjauhi perdebatan dan perselisihan (wala jidal).

Inilah sebabnya mengapa rukun Islam yang terakhir adalah ibadah haji—bukan yang lain.

Karena pelaksanaannya mencakup esensi dari empat rukun sebelumnya.

Maka wajar jika haji disebut sebagai ibadah paripurna.

Hanya mereka yang ditakdirkan oleh Allah SWT-lah yang diperkenankan menunaikannya.

Al-Qur’an menyebut syaratnya dengan frasa manisthaṭā‘a ilaihi sabīlā.

Yakni, mereka yang memiliki kemampuan dan kecakapan.

Bukan hanya secara finansial, melainkan juga spiritual dan sosial.

Baca Juga: Ini Daftar Barang Wajib Dibawa Jemaah Haji saat Wukuf di Arafah, Jangan Sampai Terlewat!

Oleh karena itu, oleh-oleh dari Tanah Suci seharusnya bukan hanya kurma, kacang Arab, sajadah, atau parfum.

Melainkan juga oleh-oleh spiritual dan sosial: pribadi yang lebih arif, bijaksana, dan menjadi teladan di tengah masyarakat.

Gelar “Pak Haji” dan “Bu Haji” bukan sekadar sapaan, tetapi harapan agar mereka menjadi sosok yang mencerminkan Islam yang paripurna.

Tiga kunci kemabruran haji kembali ditegaskan: menjaga diri dari fala rofats, wala fusuq, dan wala jidal.

Inilah napas utama yang harus dipegang selama puncak ibadah di Armuzna.

Karena haji bukan hanya ritual fisik, tetapi juga penyucian batin.

Bagi Anda yang tahun ini belum berkesempatan menjadi jamaah haji, tidak perlu berkecil hati.

Masih ada waktu dan kesempatan di tahun-tahun mendatang.

Mantapkan niat dan mulai menabung sejak sekarang.

Ironisnya, banyak orang mampu mengganti kendaraan atau merenovasi rumah agar tampak mewah, tetapi ketika bicara soal mendaftar haji, tiba-tiba merasa tidak mampu atau bahkan berpura-pura tidak mampu.

Mari optimalkan titipan rezeki yang ada untuk beribadah ke Tanah Suci.

Selebihnya, serahkan kepada Zat Yang Mahakaya.

Semoga seluruh jamaah haji dari berbagai belahan dunia tahun ini dimudahkan dalam menjalankan rukun-rukunnya dan meraih predikat haji mabrur. (*)


*) Penulis adalah Ketua Kepemudaan DPP SAHI (Silaturrahim Haji Indonesia)

Editor : AA Arsyadani
#haji mabrur #haji 2025 #jemaah haji indonesia