Mendobrak Tradisi Koncoisme dalam Komersialisasi Sastra Digital
Redaksi• Senin, 19 Mei 2025 | 02:31 WIB
Endah Emawati, pemateri dari PKM Unesa saat memberikan materi “Komersialisasi Sastra Digital” di Ponorogo.
“Koncoisme ini justru membantu redaktur seperti saya dalam menyeleksi naskah yang masuk.”
Oleh : Mualif Hida
BAGAIMANA mendobrak tradisi koncoisme dalam platform sastra digital? Rangga, anggota Himpunan Mahasiswa Penulis bertanya pada Endah Emawati, pemateri “Komersialisasi Sastra Digital” saat kegiatan PKM UNESA, Sabtu (17/5/2025).
Salah satu tantangan para penulis muda dalam memperjualbelikan karyanya, di samping plagiarisme.
Pertanyaan ini menyeruak dalam rangkaian kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) UNESA bertajuk “Pelatihan penulisan sastra kreatif berbasis budaya lokal untuk meningkatkan publikasi karya sastra bagi anggota komunitas SSC (Sutejo Spektrum Center) Ponorogo” bertempat di STKIP PGRI Ponorogo.
“Koncoisme ini justru membantu redaktur seperti saya dalam menyeleksi naskah yang masuk,” terang Endah.
Dengan redaktur mengenal si penulis, dia akan hafal pada gaya kepenulisan, rekam jejak, dan kedalaman isi tulisan-tulisannya.
“Jadi, semisal si penulis tadi mengirim karyanya, saya sudah tau kalau karyanya memang layak untuk ditayangkan,” terang Endah.
Sebenarnya, Koncoisme ini tidak terjadi pada setiap pertemanan antara redaktur dan penulis. Hanya ketika tulisan-tulisan yang dikirim memang berkualitas, jadi tidak sembarangan.
Koncoisme (Patron-Client) justru mengajarkan penulis pemula untuk mempelajari dunia kepenulisan lebih dalam dengan belajar dari para penulis yang karyanya sudah terbit di suatu platform.
Disamping tantangan dalam komersialisasi sastra digital, Redaktur Senior Surya itu juga memaparkan peluang beserta menawarkan solusi.
Menurut mantan ghost writer itu, Peluang adanya komersialisasi digital adalah: (1) Ekspresi diri, (2) Memperkenalkan karya, (3) Dibayar.
Endah menawarkan beberapa solusi untuk menghadapi tantangan dalam memanfaatkan peluang yang ada. Pertama, cek & ricek rekam jejak web.
Saat hendak mengirim naskah ke sebuah platform, pastikan platform digital tersebut aman dan terjamin.
Kedua, pelajari gaya kepenulisan karya-karya yang termaktub dalam platform. Setiap redaktur di masing-masing platform digital, mempunyai kriteria berbeda tentang naskah.
Mempelajari gaya kepenulisan dapat membantu penulis untuk mengetahui kriteria tersebut, sehingga kemungkinan naskah lolos seleksi lebih besar.
Ketiga, perhatikan usia pembaca terbanyak serta gender dalam platform digital. Hal ini berkaitan dengan topik yang sedang trending.
Usia pembaca dalam sebuah platform juga topik yang hangat diperbincangkan dapat menentukan apakah naskah penulis lolos atau tidak.
Keempat, simpan rekam jejak seluruh naskah pribadi. Karya ibarat anak, bukti merawatnya ada pada arsip yang kita buat. Hal ini bisa juga menjadikan tanda bukti perkembangan penulis dari waktu ke waktu.
Kelima, siap mental menghadapi komen. Respons pembaca terhadap sebuah karya pastinya berbeda, tergantung seberapa dalam pemahaman mereka. Penulis harus siap menerima respon yang beragam dari pembaca.
Keenam, berhati-hati dengan tawaran publikasi. Publikasi dalam hal ini adalah penerbitan. Hal ini terjadi seiring dengan banyaknya pembaca sebuah karya pada platform digital.
Tidak sembarangan penerbit melirik karya, namun tidak semua “penerbit” yang menawarkan publikasi adalah terpercaya. Kembali pada solusi pertama, selalu cek & ricek rekam jejak penerbit.
Keenam solusi yang ditawarkan Endah penting untuk dipertimbangkan penulis sebelum mempublikasi karya pada platform digital.
Bagi penulis pemula, banyak membaca penting untuk memahami bagaimana karakteristik masing-masing platform digital. Ingat, koncoisme berbanding lurus dengan kualitas naskah.
“Saya sering juga menemukan seorang penulis mengirim naskahnya berkali-kali, tetap saya buang, karena kualitasnya tidak berubah, bukti bahwa ia tidak belajar dari kesalahan,” pungkasnya. (*)
Kebun Literasi SSC, 18 Mei 2025
BIODATA SINGKAT: Mualif Hidayatulloh, Mahasiswa STKIP PGRI Ponorogo, anggota Himpunan Mahasiswa Penulis dan Komunitas SSC (Sutejo Spektrum Center) Ponorogo.