Jawa Pos Radar Lawu - Dalam kehidupan tentu tidak lepas dari yang namanya sosial masyarakat.
Dalam sosial masyarakat begitu banyak kebiasaan masyarakat yang lahir sebagai dampak interaksi sosial.
Kebiasaan itu terekam dalam sebuah wadah bernama budaya. Seiring berkembanganya zaman, tidak semua budaya terjaga kelestariannya, khususnya budaya di daerah-daerah terpencil.
Menanggapi fenomena ini sastra hadir sebagai salah satu media untuk melestarikan budaya dengan cara mengungkapkan atau menggambarkannya dalam karya sastra.
Melalui karya sastra, para sastrawan dapat menyajikan budaya lewat gambaran yang unik dan menarik.
Dengan hal ini penikmat karya sastra dapat mengetahui budaya yang jauh dari jangkauannya sekalipun.
Banyak sekali penulis Indonesia yang menjadikan budaya sebagai tema dalam karyanya, seperti dalam kumpulan cerpen Kembang Selir karya Muna Masyari.
Lewat karya sastra wanita yang sekarang berprofesi sebagai penjahit itu berhasil menyuguhkan cerita yang terkaitan dengan lokalitas orang Madura.
Dalam kumpulan cerpennya tersebut Muna Masyari menyisipkan berbagai budaya Madura yang sampai sekarang masih dipercayai.
Contoh budaya yang ada di dalam kumpulan cerpen Kembang Selir ini Terhitung ada 7 cerpen dari 15 cerpen yang sering penulis temui di budaya Madura, 7 cerpen tersebut yaitu: Kandung Kembar, Tutup Cangkir, Pamengkang, Bubur Sura, Ulat Daun Emas, Jimat Jari, dan Kembang Selir. Mari kita ulik dari cerpen Kandung Kembar.
Cerpen yang satu ini menceritakan tentang keegoisan tokoh perempuan yang menganggap budaya rokat kadung kembar sebagai cara jahiliyah serta kenaifan orang-orang terdahulu yang dilakukan jika dalam satu keluarga ketahuan hamil dalam wantu yang bersamaan.
Dalam cerita dijelaskan bahwa si tokoh perempuan menolak untuk mengikuti peratuaran pertama dari rokat kandung kembar ini, awalnya hal itu dipermasalahkan oleh sang mertua.
Namun, setelah tokoh perempuan tersebut mengancam untuk tidak mengikuti acara hingga selesai, akhirnya si mertua-pun mengalah dan membiarkan menantunya memakai sendal tinggi dengan harapan tidak terjadi apa-apa pada menantunya tersebut.
Konflik terus bergulir, hingga si perempuan terjatuh saat menuruni tangga, dan dia tidak bisa menyeimbangkan posisi tubuhnya karena sandal tinggi yang dipakainya.
Dari kronologi cerita si tokoh perempuan dalam cerpen tergelincir dan perutnya tertusuk runcing sepeda yang tinggal besinya membuat dinding rahimnya robek hingga dia harus dioperasi. Dari kejadian ini dia tidak hanya kehilangan harta berharga berupa anak.
Namun, dia juga sudah kehilangan simpati keluarganya. Dia tidak terima dan terus saja menyalahkan prosesi rokat kandung kembar dengan dalih tanpa rokat itu belum tentu semuanya terjadi.
Padahal si perempuan dalam cerpen tidak mengetahui dan mempelajari makna ajaib dibalik adanya rokat kandung kembar ini.
Bagi sebagian orang Madura terdahulu, berdoa tak cukup sekedar menadahkan tangan ataupun merapalkan ayat suci alquran. Menggunakan kain putih bersih yang merupakan peraturan pertama dalam rokat kandung kembar bersimbol doa agar disucikan dari segala yang buruk.
Dijauhi dari segala perkara yang mengundang petaka. Bertelanjang kaki yang merupakan peraturan keduanya bersimbol agar bisa mengecilkan diri dihadapan gusti yang maha tinggi.
Memakan nasi bersama dalam satu wadah atau periuk yang merupakan peraturan ketiga menyimbolkan bentuk permohonan sekaligus pesan agar senatiasa hidup rukun, damai, dan tentram. Satu rasa mencecap kehidupan tenang dan bahagia sehingga janin yang ada diperutnya ikut senang.
Gambaran budaya Madura selanjutnya yaitu pada cerpen Tutup Cangkir, sudah menjadi hal biasa di warung jika tutup cangkir dibiarkan terlentang maka tidak akan ada tagih-menangih bayaran demi menjaga kehormatan si pembeli.
Cerpen ini bermula saat Madhasim berkonflik dengan
Matrawi perkara harga tembakau yang anjlok. Madhasim berprasangka bahwa Matrawi melakukan sistem kotor dengan para pesortir tembakau di gudang hingga tembakau yang dikirim Madhasim selalu ditolak dan hal itu menimbulkan banyak persoalan dalam hidupnya.
Mulai dari Madhasim harus membayar tukang gulung tembakau di kampungnya hingga bisik-bisik tetangga tentang Matrawi yang sering menelentangkan tutup cangkirnya di warung istri muda Madhasim.
Baca Juga: Innalillahi, Pencari Belut di Ngawi Tewas Kena Setrum Jebakan Tikus Beraliran Listrik
“Meskipun tembakaunya sering masuk gudang, kalau ngopi di warung tutup cangkirnya Matrawi selalu terlentang” (hlm. 18).
Cerpen tutup cangkir ini diakhiri dengan kemarahan Madhasim yang sudah tidak bisa dibendung yang mengakibatkan hadir keinginan buruk untuk membunuh Matrawi di warung istri mudanya, untungnya hal itu tidak sampai terjadi karena Matrawi pulang sebelum Madhasim datang dengan celuritnya.
Konflik tentang budaya juga disinggung Muna dalam 5 cerpen yang berjudul Pamengkang, Bubur Sura, Ulat Daun Emas, Jimat Jari, dan Kembang Selir.
Pada cerpen Pamengkang budaya yang diangkat yaitu tentang pentingnya warisan leluhur, di Madura warisan seperti tanah dan rumah sangat berharga karena menyangkut harga diri keluarganya.
Konflik serupa juga diangkat dalam cerpen Bubur Sura. Dalam budaya Madura setiap bulan sura datang semua orang berbondong-bondong membuat bubur sura yang dianggap sebagai penolak bala.
Pada cerpen lain yang berjudul Ulat Daun Emas bercerita tentang seorang saudagar (H. Sappak) yang memanfaatkan masyarakat desa untuk menjual penenan tambakaunya dengan uang yang tidak pernah lunas, sedangkan dirinya selalu naik haji di musim tembakau itu.
pada cerpen Jimat Jari menceritakan tentang jari anak kecil yang mati bersama ibunya di dalam kandungan bisa dijadikan sebagai penguat ilmu hitam.
Dan terakhir pada cerpen Kembang Selir bercerita tentang seorang anak yang tidak diterima oleh masyarakat sekitarnya karena tidak diketahui siapa ayah kandung sebenarnya.
Terlepas dari konflik yang banyak memvisualkan budaya Madura, buku kumpulan ini memiliki keunikan dari segi pengemasan cerita dengan alur maju mundur yang mendorong pembaca terhadap ingatan-ingatan tentang beberapa peristiwa yang diceritakan secara kreatif dan tidak monoton tak lupa kumpulan cerpen ini juga membuat pembaca ikut merasakan apa yang dialami tokoh dalam setiap ceritanya. (*)
Editor : Riana M.