Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Anak Mama Tak Menolak Tua

Nur Wachid • Senin, 12 Agustus 2024 | 18:57 WIB
Arfinanto Arsyadani. (JAWA POS RADAR MADIUN)
Arfinanto Arsyadani. (JAWA POS RADAR MADIUN)

Oleh : Arfinanto Arsyadani*

PEPE duduk sendiri di studio. Menghadap layar besar yang memutar kembali perjalanan karirnya di dunia sepak bola. Berulang kali, eks punggawa timnas Portugal itu mengusap air mata dengan lengannya. Mengharukan.

Pemain bernama lengkap Kepler Laveran de Lima Ferreira itu resmi gantung sepatu di usia 41 tahun. Seusia Paolo Maldini ketika pensiun sebagai bek AC Milan, 2009 silam.

Jawa Pos Radar Lawu mencatat Pepe tak hanya sebagai bek yang tangguh. Juga, kerap berkontribusi di depan gawang.

Pepe memungkasi karirnya dengan catatan 737 pertandingan profesional, 42 gol, dan 36 assist. Kelak, setelahnya masih ada Cristiano Ronaldo, sahabat karibnya yang sampai hari ini masih on fire (menyala). 

Sebagai pesepakbola profesional, Pepe paham bagaimana cara memaksimalkan performa sampai pada puncaknya.

The degree of accomplishment (Rue and Byars, 1985). Ibarat bus antar kota antar provinsi, Pepe tidak berhenti pada sebuah terminal kecil dengan sedikit trayek.

Dia mengawali karir profesionalnya di CS Maritimo lalu bergabung dengan Porto. Puncak karirnya ketika memperkuat Real Madrid selama satu dekade (2007-2017).

Bersama klub raksasa Spanyol itu, Pepe berhasil memenangkan tiga gelar La Liga, tiga trofi Liga Champion UEFA serta dua Piala Dunia Antarklub FIFA. Selepas dari Real Madrid, Pepe memperkuat Besiktas dan kembali ke Porto pada 2019.

Dua bulan lalu, dia masih mencatatkan diri sebagai pemain tertua di Piala Eropa 2024.

Kiprah suami Ana Sofia Moreira ini patut diteladani. Dedikasinya untuk tetap berdiri di lapangan sepakbola bukan proses asal jadi.

Laku hidup sebagai atlet profesional dipegang teguh sejak remaja hingga usia senja. Ratusan bahkan ribuan pelatihan dan pertandingan berat dijalani dengan ketabahan hati.

Hingga usia empat dasawarsa, pemain yang menoreh banyak prestasi ini tetap sulit dikolongi. Kuda-kudanya selalu berhasil membuat lawan kelabakan.

Publik akan terus mengingat bagaimana garangnya Pepe saat menjaga barisan pertahanan Real Madrid.

Duet badass-nya bersama Sergio Ramos berhasil membuat striker pemain kelas dunia ketar-ketir. Cuplikan aksinya ketika menghempaskan Daniel Alves saat beradu di laga El Clasico masih kerap berseliweran di media sosial.

Sejarah membuktikan tidak banyak atlet yang sanggup menjalani perannya dalam waktu panjang. Sepak bola bukan semata sorak bergembira.

Di balik selebrasi kemenangan tersimpan strategi matang dan eksekusi jempolan.

Dia selalu menganggap setiap pertandingan itu yang terakhir. I fight for every ball as if it was the last, katanya. 

Pada akhirnya, Pepe, seperti kita, hanyalah manusia biasa. Yang tak kuasa melawan kehendak usia.

Anak mama yang sampai usia 17 tahun masih tidur di ranjang ibunya itu berhasil membuktikan kepada dunia. Berjuang di lapangan sampai tetes keringat penghabisan. (*)

 

*) Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Madiun

 

 

Editor : Nur Wachid
#kepler #pertandingan #cristiano ronaldo #timnas #menolak #tua #pepe #portugal #sergio ramos #fifa #mama #gantung sepatu #anak #liga champion #pensiun #real madrid #Catatan #spanyol #ac milan