ILUSTRASI PINTEREST Pada tahun 2018, salah satu Mahasiswa Unsri ditemukan tewas gantung diri di Kamar mandi. Di tahun 2019, Salah satu Mahasiswa S2 ITB ditemukan tewas bunuh diri di kamar indekosnya. Masih di tahun yang sama, salah satu mahasiswa jurusan Geofisika ITERA ditemukan tewas setelah melakukan usaha percobaan bunuh diri dengan meloncat dari gedung Transmart Lampung. Lalu, yang paling parah terjadi di tahun 2023.
Oleh: Nadia Yasmin Dini
SELAMA ini IQ (Intelligence Quotient) kerap kali dijadikan sebagai standar kecerdasan dan kesuksesan seseorang . Semakin tinggi nilai IQ seseorang, maka semakin besar juga kesuksesan yang akan ia raih.
Setidaknya itulah anggapan dari kebanyakan orang selama ini. Sehingga, mereka hanya mementingkan nilai IQ saja. Padahal, manusia juga memiliki berbagai jenis kecerdasan lainnya yang tak kalah penting. Salah satunya ialah EQ ( Emotional Quotient).
Jika IQ ( Intelligent Quotient) berfokus pada kecerdasan intelektual atau kemampuan kognitif akademis seseorang, lain dengan EQ ( Emotional Quotient) yang lebih berfokus pada kecerdasan emosional seseorang.
Bagaimana kemampuan seseorang dalam mengelola stres, mengendalikan emosi serta mengatasi konflik?
IQ memanglah penting. Tetapi, bukan satu-satunya yang paling penting dan utama. Sehingga, dengan mengandalkan IQ saja tentu tidak cukup.
Karena pada faktanya, kecerdasan emosional juga tak kalah penting dan harus dimiliki oleh setiap individu terutama pada Gen-Z. Hal itu dibuktikan dari banyaknya kasus bunuh diri yang telah menimpa beberapa mahasiswa di Indonesia dari tahun ke tahun.
Pada tahun 2018, salah satu Mahasiswa Unsri ditemukan tewas gantung diri di Kamar mandi. Di tahun 2019, Salah satu Mahasiswa S2 ITB ditemukan tewas bunuh diri di kamar indekosnya.
Masih di tahun yang sama, salah satu mahasiswa jurusan Geofisika ITERA ditemukan tewas setelah melakukan usaha percobaan bunuh diri dengan meloncat dari gedung Transmart Lampung.
Lalu, yang paling parah terjadi di tahun 2023. Di mana tiga orang mahasiswa di tiga kampus berbeda ditemukan meninggal dunia karena bunuh diri. Ketiga Mahasiswa tersebut berasal dan Unika, Udinus, dan Unair.
Menariknya, semua Mahasiswa diatas, Sama-sama dikenal sebagai seorang Mahasiswa yang pintar secara akademik di kampus. Hal tersebut tentu telah cukup membuktikan jika memiliki IQ yang tinggi saja tidak cukup. Perlu diimbangi juga dengan kecerdasan emosional.
Secara umum, tindakan bunuh diri kebanyakan disebabkan karena faktor depresi atau stress. Ketidakmampuan seseorang dalam mengelola serta mengontrol segala emosi-emosi yang ada di dalam dirinya.
Kondisi tersebut menunjukkan jika orang tersebut tidak memiliki kecerdasan secara emosional yang baik.
Karena orang dengan tingkat kecerdasan emosional tinggi akan secepat mungkin mengatasi masalah yang menimpanya. Tidak menyalahkan keadaan, yang pada akhirnya hanya akan berdampak pada pikiran yang stress dan kacau.
Kondisi seperti ini tidak bisa kita anggap sepele. Karena ketika seseorang mengalami stress yang berkelanjutan, orang tersebut tidak akan bisa berpikir secara jernih, dan kondisi seperti ini yang pada akhirnya menjadi pemicu niat untuk bunuh diri.
Kecerdasan emosional yang baik juga membantu kita untuk tidak mudah iri dengan segala pencapaian orang lain. Karena seperti yang kita tahu, kebiasaan buruk Gen-Z sekarang adalah suka membanding-bandingkan diri mereka dengan orang lain.
Seseorang yang memiliki kecerdasan emosional yang baik tidak akan mudah terpengaruh dengan pencapaian orang lain. Mereka malah malah akan ikut senang dan merasa termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi.
Mengajarkan kecerdasan emosional sangat penting bagi Gen Z karena mereka kelak akan menghadapi tantangan dan tekanan yang unik.
Dunia yang serba cepat dan selalu berubah dapat membuat mereka kewalahan, dan tanpa alat emosional yang diperlukan, mereka mungkin akan kesulitan untuk menavigasi jalan mereka melalui dunia tersebut.
Dengan membekali diri dengan kecerdasan emosional, kita dapat memberdayakan diri kita sendiri dalam menangani stres, membuat keputusan yang tepat, dan mengembangkan ketahanan dalam menghadapi kesulitan.
Intinya, baik IQ dan EQ sebenarnya memiliki peran yang sama penting dan harus berjalan seimbang. []
BIODATA SINGKAT: Nadia Yasmin Dini, lahir di Probolinggo, 13 Desember 2004, saat ini berdomisili di Kota Surabaya, menempuh pendidikan di Universitas Airlangga.
MAKLUMAT
Jawa Pos Radar Lawu menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, opini, esai dan resensi di kolom Sosial-Budaya pada portal radarlawu.jawapos.com. Naskah berupa file Microsoft Word, khusus puisi maksimal lima judul.
Adapun kiriman merupakan karya orisinal, bukan hasil plagiasi karya orang lain, serta belum pernah dipublikasikan. Karya menjadi tanggung jawab penulis. Cantumkan uraian singkat identitas diri, karya dapat dikirim melalui surel ke alamat wachidradarmadiun@gmail.com. Kunjungi juga Instagram @jawapos.radarlawu. Salam.