Waktu itu kami sowan ke Gus Sholah di ndalem kasepuhan Tebuireng yang adem dan asri. Kami menyimak banyak hal dari beliau. Salah satu yang masih saya ingat adalah keengganan Gus Sholah untuk jadi Bendahara PBNU di era Gus Dur.
Oleh Hayyik Ali Muntaha Mansur*
Tidak hanya kepada Gus Dur, saya juga sangat rindu pada adiknya, Gus Sholah. Kakak-beradik ini manusia langka, belum tentu seratus tahun ke depan akan ada manusia Indonesia selevel keduanya. Keduanya konsisten memperjuangkan demokrasi. Dan keberpihakannya pada yang lemah, tak perlu disangsikan.
Kalau tokoh tokoh yang mengklaim menghidupkan Gus Dur, banyak, tak perlu menunggu seratus tahun lagi. Meski lambat laun klaim beberapa tokoh itu justru terbaca sebaliknya, "Memunggungi Gus Dur". Ya, semoga saja tidak!
Ketika menjadi Presiden, Gus Dur menunjukkan kelasnya sebagai seorang demokrat tulen. Pernah satu waktu, jubir kepresidenan era Gus Dur, Yahya Kholil Staquf (Gus Yahya), menemukan pemandangan yang kurang sedap di sekitaran istana presiden. Para wartawan berserak seperti perabotan tak terpakai di pelataran atau emperan istana. Mereka tak ada ruang dan fasilitas khusus.
Menemukan pemandangan ganjil seperti itu, Sang Jubir lantas mengusulkan kepada Gus Dur untuk memberi fasilitas khusus kepada para wartawan. Selain karena kasihan, Gus Yahya mencoba merayu Gus Dur bahwa wartawan adalah profesi terhormat. Tak layak mereka diperlakukan seperti bukan siapa-siapa di muka istana.
Apa coba jawaban Gus Dur?
Dengan tegas Gus Dur menolak. Menurut Gus Dur, pemberian fasilitas khusus dapat merusak independensi para awak media yang sedang memberitakan seorang Presiden, yang tak lain adalah Gus Dur sendiri. Pemberian fasilitas ditakutkan membebani para wartawan untuk menulis berita dengan perasaan canggung. Sikap Gus Dur itu, malah sangat menghormati profesi insan pers. Bukan menelantarkan.
Sepenggal cerita ini saya baca di buku "Menghidupkan Gus Dur", karya As Laksana, beberapa bulan lalu, menjelang muktamar PBNU. Tentu, waktu itu saya membacanya dengan suka cita, serupa anak kecil yang disodori majalah Bobo. Pikir saya, setidaknya akan ada sosok yang mengobati kerinduan atas Gus Dur. Eh, ternyata!
Ada juga cerita tentang Gus Sholah, tapi bukan dari buku tipis itu.
Waktu itu kami sowan ke Gus Sholah di ndalem kasepuhan Tebuireng yang adem dan asri. Kami menyimak banyak hal dari beliau. Salah satu yang masih saya ingat adalah keengganan Gus Sholah untuk jadi Bendahara PBNU di era Gus Dur.
Kebetulan, terjadi kekosongan kepengurusan kala itu. Beberapa orang lantas merayu Gus Sholah untuk mengisi posisi bendahara. Gus Sholah menolak diplomatis, dan mengatakan: "Coba ditanyakan ke Mas Dur. Saya manut saja". Tentu, Gus Sholah sudah faham watak kakak kandungnya itu.
Dan benar saja, Gus Dur langsung menolak usulan tersebut. Tak etis ketika dirinya sedang menjadi ketua, lantas memilih adik kandungnya sendiri untuk dijadikan bendahara.
"Jangan. Kayak tidak ada orang lain saja," tegas Gus Dur.
Apakah dengan begitu Gus Sholah kecewa? Tentu tidak. Justru keduanya ingin menunjukkan bahwa kekuasaan itu harus dibatasi. Bukan diumbar semaunya.
Meski aturan membolehkan dan tidak ada pasal-pasal dalam AD/ART organisasi yang dilanggar, tapi ada kepatutan, ada etika, dan ada prinsip yang harus dijaga dan dihormati. Hukum yang tidak tertulis dan hidup dalam sanubari setiap orang jauh lebih banyak dibanding yang tertulis dalam pasal per pasal.
Kecuali jika satu masyarakat, mulai terbiasa dengan: "Ndasmu Etik!!!" Yaa, tunggu saja kehancurannya.
Wallahu a'lamu bisshowaab.
*)Penulis adalah Owner Jam'iyah Mucoffe
MAKLUMAT
Jawa Pos Radar Lawu menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, opini, esai dan resensi di kolom Sosial-Budaya pada portal radarlawu.jawapos.com. Naskah berupa file Microsoft Word, khusus puisi maksimal lima judul.
Adapun kiriman merupakan karya orisinal, bukan hasil plagiasi karya orang lain, serta belum pernah dipublikasikan. Karya menjadi tanggung jawab penulis. Cantumkan uraian singkat identitas diri, karya dapat dikirim melalui surel ke alamat wachidradarmadiun@gmail.com. Kunjungi juga Instagram @jawapos.radarlawu. Salam.