Sedari zaman orde baru sampai sekarang pengumpulan massa mungkin masih disangka efektif oleh para politikus. Mempengaruhi publik dengan jumlah pendukung, riuh teriakan dan parade pawai sebagai unjuk kuantitas sangat rawan perseteruan.
Penulis: Ajar Putra Dewantoro, M.Pd
KITA generasi old mesti tidak asing dengan lagu mars Pemilu. Karya asli dari komponis seriosa lulusan sastra Prancis Universitas Indonesia, Mochtar Embut. Karena masa kanak kanak saya masih didominasi bersama siaran TVRI dan RRI.
Zaman dimana bangsa yang masyarakatnya didominasi media negara. Setelah orde penguasa tumbang pada tahun 1998, kita nyaris tak mendengarkan lagi.Lagu ini dipopulerkan kembali oleh group band SLANK dengan nuansa pop-rock.
Setiap orang memiliki kenangan perihal pesta demokrasi di negeri ini. Mulai dari arak arakan massa, mobilitas manusia dengan sepeda motor penuh riuh, gas buang knalpot membumbung mengiringi yel yel dukungan.
Sedari zaman orde baru sampai sekarang pengumpulan massa mungkin masih disangka efektif oleh para politikus. Mempengaruhi publik dengan jumlah pendukung, riuh teriakan dan parade pawai sebagai unjuk kuantitas sangat rawan perseteruan.
Antar pendukung bisa terlibat bentrok, saling ejek dan bisa memunculkan hal yang mempengaruhi kamtibmas. Apakah pemilu selalu identik dengan keresahan? Keresahan masyarakat yang merasa terganggu dengan adanya pengumpulan massa.
Harusnya, dengan era yang semakin maju dan berkembangnya dunia media, kampanye bertransformasi. Berubah menjadi saling adu visi misi dan gagasan para legislator yang akan ikut berkompetisi dalam gelanggang luber jurdil. Masyarakat hari ini dipertontonkan dengan banyaknya baliho para pendulang suara. Mulai dengan selogan nyentrik, sampai gambar foto diri teredit total dan maximal demi menarik simpati.
Sekali lagi, rutinan lima tahunan terjadi lagi. Kita masyarakat harusnya semakin paham. Pemilu merupakan ajang seleksi eloknya muka, isi kepala dan kualitas pribadi manusia pendulang suara yang akan mewakii aspirasi kita. Ajang penting arah kemajuan, penyaluran ide mimpi dan gagasan dalam kecenderungan simpati ideologi.
Semoga Pemilu kali ini kita mampu memilih wakil yang dapat dipercaya, tapi dengan cara apa? Nyatanya penyelengara pemilu kurang memiliki terobosan baru dalam mengenalkan para calon legislatif yang kelak mewakili aspirasi masyarakat yang memilihnya.
Alhasil, rutinan tanpa terobosan terlanggengkan. Bagaimana masyarakat bisa mengenal, dan memahami kualitas wakil kita? Apakah tetap sama seperti yang lalu lalu? Masyarakat tidak pernah tahu siapa yang mewakili aspirasinya karena hanya mengenal gambar di baliho saja.
Oleh karena itu, jangan heran ketika coblosan tiba. Amplop amplop degan dalih uang ganti tidak bekerja sehari berterbangan. Karena meskipun zaman berganti, masyarakat masih disajikan tontonan baliho berjajar dipinggir jalan umum sampai pelosok persawahan, tanpa mengetahui kualitas kinerja serta kemampuan pikir manusia dalam baliho tersebut. []
BIODATA SINGKAT: Penulis merupakan pecinta budaya dan sejarawan asal Kabupaten Madiun.
MAKLUMAT
Jawa Pos Radar Lawu menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, opini, esai dan resensi di kolom Sosial-Budaya pada portal radarlawu.jawapos.com. Naskah berupa file Microsoft Word, khusus puisi maksimal lima judul.
Adapun kiriman merupakan karya orisinal, bukan hasil plagiasi karya orang lain, serta belum pernah dipublikasikan. Karya menjadi tanggung jawab penulis. Cantumkan uraian singkat identitas diri, karya dapat dikirim melalui surel ke alamat wachidradarmadiun@gmail.com. Salam.
Editor : Nur Wachid