Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Persinga vs Sang Maestro Ricuh, Wasit Dituding Berat Sebelah, Pemain Jadi Korban Kekerasan

Muhammad Aditya Pangestu • Rabu, 14 Mei 2025 | 21:50 WIB
Laga Persinga vs Sang Maestro ricuh, skor berkesudahan 0-0.
Laga Persinga vs Sang Maestro ricuh, skor berkesudahan 0-0.

Jawa Pos Radar Lawu – Laga lanjutan Grup C babak 16 besar Liga 4 Nasional 2024/2025 antara Persinga Ngawi vs Sang Maestro diwarnai insiden yang mencoreng sportivitas.

Bertanding di Lapangan Kota Barat, Surakarta, pada Selasa (13/5), pertandingan yang berakhir imbang 0-0 tersebut berubah menjadi kericuhan setelah peluit panjang dibunyikan.

Alih-alih menyudahi laga dengan damai, para pemain Persinga justru mengejar dan mengintimidasi wasit asal Sumatera Barat yang memimpin laga. 

Bahkan, beberapa pemain tampak mendorong sang pengadil dalam aksi yang terekam jelas oleh kamera.

Hasil imbang ini membuat Persinga Ngawi baru mengoleksi 1 poin dari dua laga, menempatkan mereka di posisi ketiga klasemen sementara Grup C. 

Sementara itu, Sang Maestro berada di urutan kedua dengan 2 poin, dan Tri Brata Rafflesia FC telah memastikan diri lolos ke babak 8 besar serta promosi ke Liga 3 usai mengantongi 6 poin. Di dasar klasemen, Celebest FC Palu juga mengantongi 1 poin.

Dengan sisa satu laga, peluang Persinga untuk lolos masih terbuka, namun kini sangat bergantung pada hasil pertandingan tim lain.

Laga ini sejatinya berlangsung dalam tensi tinggi.

Namun sejumlah keputusan wasit yang dinilai merugikan Persinga memicu kemarahan besar dari pemain dan ofisial tim. 

Beberapa insiden mencolok antara lain:

Peluit akhir ditiup ketika Persinga baru saja mendapatkan sepak pojok, menyulut emosi seluruh tim.

Baca Juga: Pajak Tahunan BYD Seal Berapa? Ketahui Keringanan dalam Peraturan Mendagri Nomor 8 Tahun 2024

Kericuhan tak berhenti di situ. Dalam video yang beredar, pemain Persinga Kristiyono terlihat dicekik oleh seorang aparat saat hendak memprotes keputusan wasit. 

Tindakan represif ini memicu kecaman publik karena tidak sesuai dengan Perpol Nomor 10 Tahun 2022, yang menyebutkan bahwa pengamanan di dalam lapangan seharusnya dilakukan oleh steward, bukan aparat bersenjata.

Kehadiran aparat di dalam lapangan tanpa alasan darurat menjadi sorotan, terlebih ketika kontak fisik berlebihan terjadi terhadap pemain.

Selain mencederai rasa keadilan, hal ini juga berpotensi menimbulkan trauma bagi pemain.

Insiden ini menjadi catatan kelam dalam pelaksanaan Liga 4 Nasional.

Ketidakpuasan terhadap keputusan wasit memang kerap terjadi, namun tindakan kekerasan dan pelanggaran prosedur justru memperburuk citra sepak bola nasional.

PSSI dan pihak penyelenggara kompetisi perlu bertindak tegas dan profesional agar kejadian serupa tidak terulang. (*)

Editor : Riana M.
#ricuh #Sang Maestro FC #keputusan wasit #memicu kemarahan #persinga ngawi