Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Menyambung Semangat Kartini di Era AI dan Coding: Dari Pingitan ke Algoritma

Mizan Ahsani • Selasa, 21 April 2026 | 14:35 WIB
Ilustrasi Menyambung Semangat Kartini di Era AI dan Coding
Ilustrasi Menyambung Semangat Kartini di Era AI dan Coding

Jawa Pos Radar Lawu - Peringatan Hari Kartini tak lagi cukup dimaknai sebatas kebaya dan sanggul.

Di balik romantisme simbolik itu, terdapat gagasan besar yang masih relevan hingga kini: pentingnya pendidikan bagi perempuan sebagai jalan menuju kemajuan.

Gagasan tersebut kini menemukan bentuk baru di era kecerdasan buatan (AI) dan algoritma.

Dalam salah satu suratnya kepada Nyonya Van Kool pada Agustus 1901, R.A. Kartini menekankan bahwa pendidikan adalah kunci kebahagiaan perempuan sekaligus kemajuan masyarakat.

Lebih dari seabad kemudian, pada 2026, semangat itu kembali bergema melalui kebijakan pendidikan yang mulai mengintegrasikan AI dan coding ke dalam kurikulum nasional.

Baca Juga: 30+ Ucapan Hari Kartini 2026 Penuh Makna, Inspiratif dan Cocok untuk Caption Media Sosial

Transformasi Pendidikan: Dari Tidak Tahu Menjadi Bisa

Pada masa kecilnya, Kartini pernah menjawab “tidak tahu” ketika ditanya cita-citanya.

Jawaban tersebut bukan mencerminkan ketidakmampuan, melainkan keterbatasan akses dan ruang imajinasi bagi perempuan saat itu.

Tradisi dan sistem sosial membatasi mereka untuk bermimpi lebih jauh.

Kini, kondisi tersebut mulai berubah. Program pendidikan berbasis teknologi membuka peluang baru bagi generasi muda, khususnya perempuan, untuk bercita-cita menjadi data scientist, software engineer, hingga inovator teknologi di berbagai sektor.

Digitalisasi pembelajaran juga diperkuat dengan kehadiran papan interaktif digital (PID) yang memungkinkan proses belajar lebih interaktif dan eksploratif.

Guru pun mengalami transformasi peran, dari sekadar pengajar menjadi fasilitator yang membimbing siswa dalam memahami dunia yang semakin kompleks.

Namun, tantangan utama tetap pada pemerataan akses. Tanpa distribusi yang adil, digitalisasi justru berpotensi menciptakan kesenjangan baru antara siswa di perkotaan dan di daerah terpencil.

Baca Juga: 10 Puisi RA Kartini Terbaik 2026 untuk Mengenang Perjuangan Perempuan Indonesia

Peran Guru di Era Digital

Perjalanan intelektual Kartini menunjukkan pentingnya peran guru sebagai jembatan pengetahuan.

Sosok seperti Mbah Sholeh Darat tidak hanya mengajarkan teks, tetapi juga makna di baliknya.

Dalam konteks saat ini, peran tersebut menjadi semakin krusial. Guru tidak hanya dituntut menguasai teknologi, tetapi juga mampu menanamkan nilai dan etika dalam penggunaannya.

Mengajarkan coding tanpa membangun kesadaran moral berisiko melahirkan generasi yang cakap teknologi, namun minim empati.

Karena itu, pelatihan guru secara berkelanjutan menjadi kunci keberhasilan transformasi pendidikan digital.

Kehadiran guru perempuan yang kompeten di bidang teknologi juga penting untuk menginspirasi siswi agar percaya diri memasuki dunia yang selama ini didominasi laki-laki.

Menjaga Nilai di Tengah Kebisingan Algoritma

Kemajuan teknologi membawa tantangan baru, termasuk meningkatnya polarisasi di media sosial akibat algoritma.

Dalam situasi ini, nilai-nilai yang diperjuangkan Kartini, seperti kasih sayang dan kemanusiaan, menjadi semakin relevan.

Kartini pernah menulis bahwa agama yang paling indah adalah kasih sayang.

Pesan ini menjadi pengingat bahwa teknologi seharusnya digunakan untuk memperkuat hubungan antarmanusia, bukan sebaliknya.

Program pendidikan berbasis AI dan coding perlu diimbangi dengan pendidikan karakter.

Tujuannya agar generasi muda tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan empati.

Baca Juga: Hari Kartini 2026, Khofifah Ajak Kolaborasi Nasional Turunkan Angka Kematian Ibu di Jawa Timur

Warisan Kartini di Era Digital

Kartini tidak pernah meminta untuk dikenang sebagai simbol semata. Ia ingin gagasannya diwujudkan dalam tindakan nyata.

Hari ini, upaya tersebut tercermin dalam berbagai program digitalisasi pendidikan yang bertujuan memperluas akses belajar.

Namun, pekerjaan ini belum selesai. Tantangan pemerataan pendidikan, khususnya di daerah 3T, masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Setiap anak perempuan di pelosok negeri harus memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan menciptakan inovasi.

Semangat Kartini kini tidak lagi terbatas pada perjuangan melawan tradisi, tetapi juga melawan kesenjangan digital.

Dari yang dulu hanya menulis surat, kini perempuan memiliki peluang untuk “menulis” masa depan melalui kode dan teknologi.

Pada akhirnya, makna “habis gelap terbitlah terang” menemukan relevansi baru.

Terang itu bukan hanya metafora, melainkan juga hadir dalam layar digital yang membuka jendela pengetahuan selama akses dan kesempatan diberikan secara merata.

Selamat Hari Kartini 2026. Kini saatnya menyambung surat-surat perjuangan itu, bukan hanya dengan tinta, tetapi juga dengan algoritma.(*)

*Nizaria Kusumastuti, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Mizan Ahsani
#Menyambung Semangat Kartini di Era AI dan Coding #peran pendidikan AI #dan digitalisasi sekolah #akses perempuan menuju masa depan #coding