Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Waspada Krisis BBM, Purbaya: Kalau Suplai Berhenti, Itu yang Saya Takut!

Nur Wachid • Senin, 30 Maret 2026 | 12:00 WIB
Ilustrasi potensi krisis energi global yang dapat berdampak pada pasokan BBM di Indonesia. (ANTARA)
Ilustrasi potensi krisis energi global yang dapat berdampak pada pasokan BBM di Indonesia. (ANTARA)

Jawa Pos Radar Lawu – Pemerintah menegaskan Indonesia belum masuk fase darurat energi di tengah eskalasi konflik global. Namun, ancaman terbesar justru bukan harga minyak, melainkan potensi terhentinya pasokan.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, kondisi fiskal nasional masih cukup kuat menahan tekanan kenaikan harga minyak dunia.

“APBN kita masih tahan. Saya enggak akan ubah APBN atau subsidi yang ada,” ujarnya di Jakarta, Rabu.

Baca Juga: Hemat BBM, Pemerintah Siapkan WFH 1 Hari Seminggu, Begini Penjelasan Tito Karnavian

Ancaman Bukan Harga, tapi Suplai

Purbaya menekankan, indikator darurat energi bukan semata lonjakan harga minyak, melainkan terganggunya distribusi energi.

“Darurat energi itu bukan di APBN. Maksudnya kalau suplainya berhenti, itu yang saya takut,” tegasnya.

Baca Juga: Viral Kontrakan di Tangsel Penuh Sampah, Pemilik Rumah Sempat Tak Curiga dengan Penyewa: 7 Tahun Ngontrak, Orangnya Jarang Interaksi

Menurutnya, selama pasokan BBM masih tersedia, kondisi tersebut belum bisa dikategorikan sebagai krisis energi.

“Bukan harganya, tapi kalau suplainya nggak ada. Sekarang ini masih ada suplai,” lanjutnya.

Baca Juga: Antrean Kendaraan Membludak di SPBU Jelang Kenaikan Harga BBM, Konsumsi Energi Diprediksi Melonjak

Indonesia Masih Aman

Pemerintah memastikan hingga saat ini belum ada kebutuhan untuk mengubah postur APBN 2026 maupun kebijakan subsidi energi.

Langkah penyesuaian baru akan dilakukan jika harga minyak melonjak signifikan di luar batas asumsi.

Saat ini, harga minyak mentah Indonesia (ICP) berada di kisaran 74 dolar AS per barel, sedikit di atas asumsi APBN sekitar 70 dolar AS.

“Kalau naiknya tinggi, baru kita hitung lagi,” kata Purbaya.

Belajar dari Filipina

Purbaya juga menyinggung kondisi Filipina yang telah menetapkan status darurat energi nasional akibat gangguan pasokan BBM.

Baca Juga: Antrean Kendaraan Membludak di SPBU Jelang Kenaikan Harga BBM, Konsumsi Energi Diprediksi Melonjak

Menurutnya, kasus tersebut menjadi pengingat penting bahwa stabilitas suplai jauh lebih krusial dibanding sekadar fluktuasi harga.

Pemerintah Pilih Waspada

Meski belum ada tanda darurat, pemerintah tetap memantau ketat dampak konflik di Timur Tengah terhadap rantai pasok energi global.

“Kita harus siap-siap terus ke depan,” ujarnya.

Pemerintah juga memastikan kebijakan subsidi BBM masih tetap dipertahankan tanpa perubahan dalam waktu dekat.

“Jangan diganggu dulu anggaran. Ini masih terlalu dini,” tegas Purbaya.

Editor : Nur Wachid
#darurat energi #Purbaya Yudhi Sadewa #krisis bbm #harga minyak dunia #subsidi bbm #konflik timur tengah