Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Refleksi Ramadhan dan Beban Ganda Perempuan: Antara Spiritualitas, Patriarki, dan Perdebatan Teori Mubadalah

Mizan Ahsani • Kamis, 19 Februari 2026 | 16:08 WIB

Photo
Photo

Jawa Pos Radar Lawu – Ramadhan selalu menjadi bulan yang dinanti umat Islam. Momentum ini identik dengan peningkatan ibadah, refleksi diri, serta penguatan hubungan keluarga.

Namun di balik suasana keagamaan tersebut, muncul wacana yang terus berulang setiap tahun: benarkah perempuan mengalami beban ganda selama bulan Ramadhan?

Isu ini mengemuka dalam sejumlah tulisan opini, salah satunya yang dimuat di Mubadalah.id dan Narasiliterasi.id , yang sama-sama membahas hubungan domestik suami-istri di bulan puasa, namun dengan sudut pandang berbeda.

Peran Ganda Perempuan di Bulan Ramadhan

Dalam praktik sehari-hari, perempuan terutama berperan sebagai istri dan ibu sering memikul tanggung jawab domestik lebih besar.

Mulai dari menyiapkan sahur, berbuka puasa, menjaga kebersihan rumah, hingga memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi.

Di sisi lain, Ramadhan juga menjadi ruang bagi peningkatan spiritualitas pribadi. Artinya, perempuan tidak hanya menjalankan ibadah puasa, tetapi juga tetap menjalankan tugas domestik yang justru bisa menambah intensitasnya.

Fenomena inilah yang kemudian disebut sebagai “beban ganda perempuan”.

Sebagian kalangan menilai kondisi tersebut bukanlah sesuatu yang bersifat fitrah, melainkan hasil konstruksi budaya patriarki yang masih mengakar dalam masyarakat Indonesia.

Dalam pandangan ini, pembagian peran domestik seharusnya bersifat kolaboratif.

Baca Juga: Anak Perempuan Pertama Memiliki 5 Sifat Istimewa Menurut Psikologi, Jarang Orang Tua Tahu!

Refleksi Ketimpangan Gender atau Pembagian Peran?

Tulisan di Mubadalah.id mengangkat konsep kesalingan (mubadalah), yaitu hubungan setara antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga.

Dalam perspektif ini, Ramadhan seharusnya menjadi momentum refleksi untuk membangun keadilan peran, agar perempuan juga memiliki ruang yang optimal untuk meningkatkan kualitas ibadahnya.

Sebaliknya, tulisan di Narasiliterasi.id memandang narasi “beban ganda” sebagai cara pandang yang kurang tepat.

Dalam perspektif ini, peran domestik perempuan bukan bentuk subordinasi, melainkan bagian dari tanggung jawab yang bernilai ibadah dan sesuai dengan ketetapan syariat.

Perbedaan sudut pandang tersebut menampilkan bahwa diskursus beban ganda perempuan di bulan Ramadhan bukan sekadar persoalan teknis pembagian tugas, melainkan menyentuh aspek ideologis, teologis, dan sosiologis.

Teladan Rasulullah dalam Urusan Domestik

Dalam sejumlah riwayat hadis disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW turut membantu pekerjaan rumah tangga.

Riwayat dari Aisyah RA yang tercantum dalam Shahih Bukhari menyebutkan bahwa Rasulullah biasa membantu keluarganya dalam urusan domestik.

Teladan ini sering dijadikan referensi bahwa keterlibatan laki-laki dalam pekerjaan rumah tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Bantuan tersebut tidak menghapus peran, tetapi menunjukkan sikap empati, kerja sama, dan kasih sayang dalam keluarga.

Baca Juga: Apakah Menyentuh Perempuan Membatalkan Wudhu? Ini Jawaban Lengkap Menurut 4 Mazhab Fikih!

Ramadhan sebagai Momentum Keselingan

Terlepas dari teorinya, Ramadhan sejatinya adalah bulan untuk memperkuat nilai:

Pembagian tugas rumah tangga dapat berbicara secara musyawarah. Suami bisa membantu menyiapkan sahur, anak-anak bisa merapikan ikut meja makan, dan seluruh anggota keluarga bisa saling meringankan.

Yang terpenting, setiap aktivitas—baik domestik maupun publik—diniatkan sebagai bagian dari ibadah.

Baca Juga: 7 Karakteristik Wanita Bernilai Tinggi, Inspirasi Bagi Generasi Perempuan Masa Kini

Membangun Harmoni Keluarga di Bulan Suci

Isu beban ganda perempuan di bulan Ramadhan pada akhirnya kembali sadar pada bersama dalam keluarga.

Apakah peran dijalankan dengan keterpaksaan, atau dengan kesepahaman?

Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tapi juga tentang membangun hubungan yang lebih adil, penuh kasih, dan saling mendukung.

Dengan dialog yang sehat dan pemahaman yang jernih, bulan suci ini dapat menjadi ruang pertumbuhan spiritual bagi seluruh anggota keluarga—tanpa kecuali. (*)

*Nizaria Kusumastuti, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Mizan Ahsani
#hadis rasullullah #ramadhan #peran #umat islam #perempuan #refleksi