Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Perbedaan Awal Puasa Ramadan 2026, Ketua Umum MUI Minta Jangan Jadi Sumber Perpecahan 

Nur Wachid • Rabu, 18 Februari 2026 | 13:33 WIB
Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar.
Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar.

Jawa Pos Radar Lawu -  Pemerintah resmi menetapkan awal Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Penetapan tersebut diumumkan melalui Sidang Isbat yang digelar Kementerian Agama RI di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa (17/2/2026).

Menanggapi keputusan tersebut, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Iskandar meminta umat Islam di Indonesia untuk memahami dan memaklumi adanya kemungkinan perbedaan dalam penetapan awal Ramadan.

Menurutnya, perbedaan merupakan hal yang wajar dalam kehidupan beragama di Indonesia, terutama karena banyaknya organisasi masyarakat (ormas) Islam yang memiliki metode dan rujukan masing-masing.

MUI Ingatkan Potensi Beda Awal Puasa dan Akhir Puasa

KH Anwar Iskandar menyebut, kemungkinan adanya perbedaan awal puasa maupun akhir puasa adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari.

“Kemungkinan ada yang memulai puasa dan mengakhiri puasa berbeda. Jadi keniscayaan yang harus kita pahami, maklumi, tapi paling penting keutuhan sebagai umat Islam senantiasa kita jaga,” kata Kiai Anwar dalam konferensi pers penetapan awal Ramadan.

Ia menegaskan, perbedaan dalam amaliyah ubudiyah di Indonesia memang mungkin terjadi seiring keberagaman ormas Islam.

Anwar Iskandar: Indonesia Harus Terbiasa dengan Perbedaan

Kiai Anwar juga mengingatkan bahwa Indonesia sebagai bangsa demokratis harus membiasakan diri dengan perbedaan.

Ia menekankan, perbedaan diperbolehkan selama tidak menyangkut prinsip utama dalam akidah.

Dalam konteks penetapan awal Ramadan, ia menyebutnya sebagai dinamika khazanah keilmuan yang perlu dihormati.

Baca Juga: Hukum Puasa bagi Orang Sakit: Batasan, Qadha, dan Fidyah Menurut Islam

Perbedaan Bisa Melahirkan Harmoni Jika Dikelola dengan Baik

Menurut Ketum MUI, perbedaan yang dikelola secara dewasa dan bijak justru bisa melahirkan harmoni.

“Perbedaan yang bisa dikelola dengan baik akan melahirkan harmoni, indah, sesuatu yang penting bagi persatuan Indonesia,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa persatuan sangat penting untuk menciptakan stabilitas nasional.

MUI: Stabilitas Penting agar Pemerintah dan Rakyat Bisa Berbuat Lebih Banyak

Kiai Anwar menilai stabilitas menjadi kunci agar pemerintah dan masyarakat dapat melakukan lebih banyak hal untuk masa depan Indonesia.

Karena itu, ia mengajak seluruh umat Islam untuk tidak menjadikan perbedaan awal Ramadan sebagai pemicu perpecahan.

Ajakan MUI untuk Menyempurnakan Ibadah Ramadan

Menutup pernyataannya, Ketua Umum MUI mengajak umat Islam menyambut Ramadan dengan semangat memperbaiki kualitas ibadah.

“Oleh karena itu, MUI mengajak semuanya untuk berusaha sekuat-kuatnya menyempurnakan ibadah sebulan ini sehingga akan melahirkan insan yang sempurna, paripurna, derajat tinggi, kualitas iman dan takwa kepada Allah SWT,” imbuhnya.

Editor : Nur Wachid
#kemenag #pemerintah #Perbedaan Awal Puasa #hilal #nu #mui #muhammadiyah