Jawa Pos Radar Lawu - Pemerintah kembali memperkuat fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pembukaan Program Pemagangan Lulusan Perguruan Tinggi Batch ke-2, yang digelar di Plaza Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta Selatan, pada Rabu, 26 November 2025.
Momentum ini sekaligus menjadi pengingat bahwa lulusan baru tidak hanya membutuhkan pengetahuan akademik, tetapi juga soft skill dan kompetensi yang relevan agar mampu bersaing di pasar kerja yang terus berubah.
Acara pembukaan diawali dengan laporan resmi dari Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan, Prof. Anwar Sanusi Ph.D., yang menegaskan bahwa program ini dirancang sebagai jembatan antara dunia pendidikan dan dunia industri.
“Program ini diselenggarakan untuk meningkatkan kompetensi, pengalaman kerja, dan membuka peluang kerja bagi lulusan perguruan tinggi agar mampu berkompetisi di dunia kerja yang dinamis,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa angkatan kerja muda merupakan modal penting untuk meningkatkan daya saing dan produktivitas nasional.
Prof. Anwar juga menekankan bahwa program ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto dalam paket stimulus ekonomi kuartal IV tahun 2025, yang bertujuan mempercepat transisi lulusan perguruan tinggi memasuki pasar kerja.
“Kita ingin memastikan bahwa kompetensi tidak hanya dipelajari tapi benar-benar dipraktikkan di lingkungan kerja nyata. Dunia usaha, industri, serta instansi pemerintah menjadi mitra strategis, sehingga program ini merupakan gerakan nasional, bukan hanya inisiatif pemerintah,” tegasnya.
Antusiasme Gen Z terlihat dari tingginya minat pendaftar. Sejak dibuka pada 24 Oktober hingga 11 November 2025, tercatat 4.669 perusahaan terdaftar dan mengajukan kuota lebih dari 42 ribu peserta.
Untuk Batch 2, program ini menggandeng 47 instansi kementerian/lembaga dan lebih dari 2.500 satuan kerja sebagai penyelenggara. Seleksi dilakukan masing-masing instansi pada 12–20 November, hingga akhirnya 62.704 peserta dinyatakan lolos sebagai peserta magang.
Menteri Ketenagakerjaan, Prof. Yassierli Ph.D., menegaskan kembali pentingnya kesiapan kompetensi lulusan baru dalam memasuki dunia kerja.
“Tujuan pemagangan ini adalah memberikan persiapan nyata bagi lulusan perguruan tinggi untuk masuk ke pasar kerja. Ini sangat relevan dengan kondisi saat kebutuhan industri tidak selalu selaras dengan capaian pendidikan,” ujarnya.
Ia menyoroti isu mismatch yang sering dibahas para pakar, sehingga program magang dianggap sebagai solusi strategis.
Pemerintah berharap para peserta mendapatkan pemahaman langsung mengenai lingkungan kerja, sekaligus belajar menerapkan teori kampus ke praktik lapangan.
Selain itu, peserta memperoleh manfaat berupa uang saku. Untuk Batch 1, sebagian besar sudah menerima, sementara beberapa masih dalam proses verifikasi rekening dan kehadiran oleh mentor masing-masing.
Yassierli juga menekankan prinsip STAR: Santun, Tangguh, Adaptif, dan Respect sebagai karakter dasar yang harus dimiliki peserta.
Ia meminta perusahaan menyediakan mentor yang mampu membimbing peserta selama enam bulan program berlangsung.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan pentingnya inovasi, inisiatif, dan kemampuan membangun jejaring selama proses magang.
Menurutnya, pengalaman ini tidak hanya memperkuat kompetensi pribadi, tetapi juga membawa nama baik perguruan tinggi dan kementerian yang menyelenggarakannya.
Airlangga menilai program ini akan terus dievaluasi agar lebih optimal pada batch berikutnya di tahun 2026.
Dengan meningkatnya kepercayaan perusahaan setelah keberhasilan Batch 1 dan 2, pemerintah yakin program ini dapat menjadi salah satu pilar penguatan SDM nasional, termasuk persiapan menghadapi perkembangan ekonomi digital, geek economy, startup, hingga teknologi berbasis AI di masa mendatang.(rafli-mg-uinpo/kid)
Editor : Nur Wachid