Jawa Pos Radar Lawu - Eropa kembali mencatat sejarah besar di bidang komputasi.
Tim ilmuwan di Jülich Supercomputing Centre, bekerja sama dengan NVIDIA, berhasil mencapai prestasi yang sebelumnya dianggap hampir mustahil: mensimulasikan komputer kuantum universal dengan 50 qubit secara penuh.
Pencapaian ini adalah yang pertama di dunia dan dilakukan melalui superkomputer exascale terbaru Eropa, JUPITER, yang baru dioperasikan pada September lalu di Forschungszentrum Jülich, Jerman.
Menurut laporan Scitech Daily (25/11/2025), capaian ini sekaligus melampaui rekor sebelumnya, yakni simulasi 48 qubit pada tahun 2019 yang dilakukan dengan K computer di Jepang.
Dengan keberhasilan ini, Eropa menegaskan diri berada di barisan terdepan dalam lomba global menuju era kuantum.
Simulasi kuantum pada superkomputer klasik menjadi langkah penting sebelum hadirnya hardware kuantum yang benar-benar stabil dan reliabel.
Melalui JUPITER, para peneliti dapat menguji berbagai algoritma kuantum seperti Variational Quantum Eigensolver (VQE) untuk penelitian molekul dan material, serta Quantum Approximate Optimization Algorithm (QAOA) yang banyak digunakan di sektor logistik, keuangan, hingga kecerdasan buatan.
Namun pencapaian ini tidak mudah.
Setiap tambahan satu qubit saja menggandakan kebutuhan komputasi dan memori.
Untuk 50 qubit, diperlukan memori sekitar 2 petabyte, atau setara dengan dua juta gigabyte.
“Hanya superkomputer terbesar di dunia yang mampu menopang kapasitas sebesar ini,” jelas Prof. Kristel Michielsen, Direktur Jülich Supercomputing Centre.
Tidak hanya kapasitas memori yang ekstrem, setiap operasi kuantum pada simulasi ini memengaruhi lebih dari 2 kuadriliun nilai numerik kompleks yang harus disinkronkan secara presisi di ribuan node komputasi.
Keberhasilan ini dimungkinkan oleh arsitektur superchip terbaru NVIDIA GH200, yang mengintegrasikan CPU dan GPU sehingga beban data dapat ditangani tanpa penurunan performa signifikan.
Tim Jülich dan NVIDIA kemudian menciptakan JUQCS-50, versi terbaru simulator kuantum yang mampu menjalankan operasi kuantum secara efisien meski sebagian data dipindahkan ke memori CPU.
Berbagai teknik inovatif digunakan, termasuk byte-encoding yang menekan kebutuhan memori hingga delapan kali lipat serta algoritma dinamis yang mengoptimalkan pertukaran data di antara lebih dari 16.000 superchip GH200.
“Kami berhasil meniru komputer kuantum universal dengan fidelitas tinggi dan menjawab pertanyaan yang bahkan belum bisa dijawab prosesor kuantum masa kini,” ujar Prof. Hans De Raedt, pemimpin studi tersebut.
Ke depannya, JUQCS-50 akan tersedia melalui JUNIQ (Jülich Unified Infrastructure for Quantum Computing), membuka kesempatan bagi peneliti dan industri untuk memanfaatkan simulasi ini sebagai alat eksperimen dan tolok ukur komputasi masa depan.
Proyek ini merupakan bagian dari program JUPITER Research and Early Access Program (JUREAP) yang menggabungkan perancangan perangkat keras dan lunak sejak tahap awal pembangunan.
“Kolaborasi ini memungkinkan co-design hardware dan software sehingga potensi penuh sistem exascale bisa dicapai,” jelas Dr. Andreas Herten.
Pendanaan JUPITER berasal dari EuroHPC JU, Kementerian Riset dan Teknologi Jerman, serta Pemerintah North Rhine-Westphalia melalui Gauss Centre for Supercomputing.
Pencapaian simulasi 50 qubit ini menegaskan bahwa meski teknologi kuantum terus berkembang, superkomputer klasik tetap menjadi fondasi penting dalam persiapan menuju masa depan komputasi kuantum global di tengah dominasi tokoh teknologi seperti Elon Musk, Jeff Bezos, dan Mark Zuckerberg. (fin)
Editor : AA Arsyadani