Jawa Pos Radar Lawu - Di tengah dinamika yang berkembang di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Riau menyatakan sikap tegas untuk tetap berada dalam koridor organisasi dan menjunjung tinggi otoritas Rais Aam sebagai pemegang mandat tertinggi dalam struktur Syuriyah NU.
Pernyataan ini menjadi penegasan atas posisi PWNU Riau yang memilih untuk tidak terlibat dalam polemik internal yang sedang berlangsung di tingkat pusat.
Sikap tersebut mencerminkan konsistensi PWNU Riau dalam menjaga marwah organisasi serta memperkuat prinsip ahlussunnah wal jamaah yang menjadi fondasi utama Nahdlatul Ulama.
Dalam konteks ini, PWNU Riau menegaskan bahwa dinamika yang terjadi di PBNU merupakan bagian dari proses internal yang harus disikapi dengan bijak dan proporsional oleh seluruh elemen NU di berbagai tingkatan.
PWNU Riau juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas organisasi di tengah berbagai tantangan yang dihadapi umat dan bangsa.
Dalam pandangan mereka, perbedaan pandangan di internal PBNU merupakan hal yang wajar dalam dinamika organisasi besar, selama tetap berada dalam bingkai akhlakul karimah dan tidak mengganggu soliditas kelembagaan.
Lebih lanjut, PWNU Riau menyatakan bahwa seluruh jajaran pengurus wilayah dan cabang di bawahnya tetap berkomitmen untuk menjalankan program-program keumatan dan kebangsaan yang telah dirumuskan bersama.
Fokus utama mereka adalah memperkuat peran NU dalam membina masyarakat, khususnya di wilayah Riau, melalui dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi berbasis pesantren.
Dalam beberapa waktu terakhir, PBNU menjadi sorotan publik setelah munculnya dinamika internal yang melibatkan jajaran pengurus harian Syuriyah dan Tanfidziyah.
Isu tersebut berkembang setelah adanya pertemuan sejumlah pengurus Syuriyah PBNU yang menghasilkan keputusan penting terkait kepemimpinan di tingkat pusat.
Namun, keputusan tersebut memunculkan perbedaan tafsir dan respons dari berbagai pihak, termasuk dari kalangan NU di daerah.
PWNU Riau, dalam menyikapi hal ini, memilih untuk tidak terlibat dalam polemik yang berpotensi memecah belah soliditas organisasi.
Mereka menilai bahwa segala bentuk dinamika yang terjadi di PBNU harus diselesaikan melalui mekanisme internal yang telah diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU. Dengan demikian, tidak ada ruang bagi intervensi dari pihak luar maupun dari struktur di bawah PBNU.
Sikap PWNU Riau ini juga sejalan dengan arahan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar yang menekankan pentingnya menjaga marwah organisasi dan mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan internal.
Dalam beberapa kesempatan, Rais Aam juga telah mengingatkan seluruh jajaran NU untuk tidak terjebak dalam konflik yang dapat merusak citra dan keutuhan organisasi.
PWNU Riau menilai bahwa tantangan yang dihadapi umat saat ini jauh lebih besar dan membutuhkan perhatian serius dari seluruh elemen NU.
Oleh karena itu, mereka mengajak seluruh warga nahdliyin untuk tetap fokus pada penguatan peran sosial keagamaan NU di tengah masyarakat.
Hal ini mencakup penguatan pendidikan pesantren, pemberdayaan ekonomi umat, serta peningkatan literasi keagamaan yang moderat dan inklusif.
Selain itu, PWNU Riau juga menegaskan bahwa mereka akan terus berkoordinasi dengan PBNU dalam menjalankan program-program strategis, termasuk dalam bidang dakwah digital, penguatan kaderisasi, dan pengembangan sumber daya manusia.
Mereka percaya bahwa sinergi antara pusat dan daerah merupakan kunci utama dalam menjaga keberlangsungan dan relevansi NU di tengah perubahan zaman.
Dalam konteks lokal, PWNU Riau juga tengah fokus pada penguatan peran pesantren sebagai pusat peradaban Islam di daerah.
Mereka mendorong agar pesantren tidak hanya menjadi tempat pendidikan agama, tetapi juga pusat pemberdayaan ekonomi dan sosial bagi masyarakat sekitar.
Program-program seperti pelatihan kewirausahaan santri, pengembangan koperasi pesantren, dan digitalisasi pendidikan menjadi prioritas utama dalam agenda kerja mereka.
PWNU Riau juga aktif menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan organisasi masyarakat sipil, untuk memperluas jangkauan dakwah dan pengabdian sosial.
Mereka percaya bahwa NU harus menjadi kekuatan pemersatu dan pencerah di tengah masyarakat yang majemuk.
Sikap PWNU Riau ini mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, terutama karena mampu menunjukkan kedewasaan dalam berorganisasi dan komitmen terhadap nilai-nilai ke NU-an.
Di tengah situasi yang penuh dinamika, keteguhan sikap seperti ini menjadi contoh bagi wilayah dan cabang NU lainnya dalam menjaga harmoni dan stabilitas organisasi.
Sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, NU memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara.
Oleh karena itu, setiap dinamika internal harus disikapi dengan arif dan bijaksana, tanpa mengorbankan kepentingan umat yang lebih luas.
PWNU Riau, melalui pernyataannya, telah menunjukkan bahwa loyalitas terhadap struktur dan nilai-nilai organisasi tetap menjadi prioritas utama di atas kepentingan sesaat. (husnul-mg-uinpo/kid)
Editor : Nur Wachid