Jawa Pos Radar Lawu - Banjir Aceh Utara kembali menjadi sorotan setelah air merendam 7 kecamatan dalam hitungan jam.
Sebanyak 1.444 warga dievakuasi ke pos pengungsian karena kondisi yang makin kritis.
Peningkatan debit sungai, hujan ekstrem, dan tanggul yang tergerus menjadi pemicu utama Banjir Aceh Utara ini.
Berikut ini adalah kronologi lengkap terjadinya peristiwa yang mengungkap bagaimana banjir berkembang begitu cepat.
Fakta Utama
Banjir besar melanda Kabupaten Aceh Utara yang kini telah menenggelamkan hingga 7 kecamatan dan memaksa sebanyak 1.444 warga dievakuasi ke lokasi pengungsian.
Hujan deras yang berlangsung selama beberapa hari membuat sungai-sungai utama seperti
Krueng Jambo Aye, Krueng Arakundo dan Krueng Pase meluap serta menyeret tebing sungai yang kemudian menyebabkan rumah amblas.
Pemerintah daerah masih mengerahkan tim tanggap darurat dan alat berat untuk menanggulangi dampak yang makin serius.
Penyebab & Kronologi
Hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Aceh Utara sejak 22 November 2025, mulai sekitar pukul 07.15 WIB, yang memicu peningkatan debit air di sungai utama.
Air sungai yang meluap kemudian menggenangi permukiman dengan ketinggian mencapai 80 sentimeter di beberapa titik, contohnya di Gampong Matang Arongan, Kecamatan Tanah Jambo Aye.
Wilayah Terdampak & Jumlah Pengungsi
Tujuh kecamatan dilaporkan terluka parah akibat banjir: Tanah Jambo Aye, Seunuddon, Baktya, Langkahan, Syamtalira Aron, Muara Batu, dan Samudera.
Beberapa laporan menyebut enam kecamatan terlebih dahulu terdampak sebelum menyebar ke yang ketujuh.
Hingga Sabtu malam, lebih dari 1.444 jiwa (jumlah tepat pengungsi bisa berbeda antar kecamatan) telah dikosongkan dari rumah mereka ke lokasi aman.
Dampak & Kondisi Lapangan
Tebing sungai terkikis, beberapa tanggul kritis, dan satu rumah dilaporkan amblas ke sungai menunjuk pada kerusakan lanjutan yang lebih parah dari genangan biasa.
Ruas jalan desa terputus, aliran listrik terancam, dan aktivitas warga sangat terbatas di daerah terdampak utama.
Tindakan Pemerintah & Kesiapsiagaan
Tim BPBD Kabupaten Aceh Utara bersama instansi terkait telah membuka pos pengungsian dan menyebar bantuan logistik seperti makanan, air bersih, selimut, dan perlengkapan darurat.
Namun mereka menyebut masih perlu alat berat untuk membersihkan alur sungai dan memperkuat tanggul yang terkikis.
Kesimpulan
Banjir yang melanda Kabupaten Aceh Utara menunjukkan bahwa potensi bencana kombinasi antara hujan ekstrem, luapan sungai, dan kondisi tebing yang labil tidak bisa diabaikan.
Baca Juga: Pronojiwo: Desa Kecil di Lumajang yang Menyimpan Berbagai Keindahan Alam yang Menawan.
Dengan tujuh kecamatan terdampak dan lebih dari seribu warga mengungsi, situasi saat ini memerlukan respon cepat, koordinasi antarlembaga, serta mitigasi jangka panjang untuk memperkuat sungai dan tanggul.
Masyarakat dihimbau untuk waspada dan mengikuti arahan resmi demi keselamatan bersama. (ghiska-mg-pnm/kid)
Editor : Nur Wachid