Jawa Pos Radar Lawu — Pemerintah Indonesia tengah mengkaji kemungkinan pembatasan terhadap game PlayerUnknown’s Battlegrounds (PUBG) setelah munculnya kekhawatiran mengenai dampak permainan tersebut terhadap perilaku pelajar, terutama pascainsiden ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Rencana pembatasan ini muncul setelah sejumlah pihak menilai bahwa konten kekerasan dalam game dapat mempengaruhi psikologis remaja. Pemerintah melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menyatakan tengah melakukan koordinasi lintas kementerian untuk mencari solusi yang berpihak pada perlindungan anak.
“Kami sedang membahas berbagai opsi, termasuk pembatasan usia pemain, durasi bermain, dan peningkatan literasi digital bagi anak serta orang tua,” ujar Menteri PPPA dalam keterangannya kepada media, Selasa (12/11).
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, menegaskan bahwa kebijakan yang diambil harus berbasis data dan analisis yang objektif. Ia mengingatkan agar pemerintah tidak langsung menyalahkan game tertentu tanpa penelitian yang jelas.
“Tidak semua game aksi berdampak negatif. Perlu ada verifikasi usia dan pengawasan orang tua yang lebih ketat, bukan sekadar pelarangan,” kata Dave. Hingga saat ini, belum ada peraturan resmi yang dikeluarkan terkait pembatasan PUBG.
Namun, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) disebut telah berkoordinasi dengan asosiasi industri game serta platform digital untuk membahas regulasi baru mengenai batas usia dan sistem pengawasan konten.
Sejumlah kalangan masyarakat turut memberikan tanggapan beragam. Ada yang mendukung langkah pemerintah sebagai bentuk perlindungan moral bagi generasi muda, namun sebagian lainnya menilai pembatasan tersebut berpotensi membatasi kebebasan hiburan dan kreativitas industri game nasional.
Pemerintah memastikan bahwa pembahasan ini masih bersifat awal dan akan melibatkan berbagai pihak, termasuk pengembang game, psikolog, lembaga pendidikan, hingga komunitas gamer. “Kami ingin langkah yang diambil bukan hanya reaktif, tetapi benar-benar memberikan dampak positif bagi anak-anak Indonesia,” tutup Menteri PPPA. (hamid-mg-uinpo/kid)
Editor : Nur Wachid