Jawa Pos Radar Lawu - Banjir yang melanda Kali Mayang di Dusun Krajan, Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu, kembali menghancurkan jembatan kayu sepanjang 50 meter yang menjadi satu-satunya akses petani dan warga sekitar.
Peristiwa ini terjadi Minggu (9/11/2025) kemarin, setelah hujan deras mengguyur wilayah hulu selama tiga hari berturut-turut. Debit air meningkat tajam dan menghanyutkan struktur jembatan yang baru saja diperbaiki dua bulan sebelumnya.
Jembatan tersebut merupakan fasilitas swadaya masyarakat yang dibangun dari kayu dan bambu, menghubungkan lahan pertanian dengan permukiman warga. Sejak jembatan itu hancur, puluhan petani terpaksa menggunakan getek (rakit bambu) untuk menyeberang setiap hari. Risiko keselamatan meningkat, terutama saat arus sungai deras dan angin kencang melanda kawasan tersebut.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Kerusakan jembatan tidak hanya mengganggu mobilitas petani, tetapi juga berdampak langsung pada distribusi hasil panen. Komoditas seperti pisang, singkong, dan jagung yang biasanya diangkut menggunakan sepeda motor kini harus dipikul secara manual melintasi sungai. Biaya angkut meningkat, waktu tempuh bertambah, dan potensi kerugian ekonomi pun tak terhindarkan.
Beberapa warga menyebutkan bahwa anak-anak sekolah juga terdampak karena jembatan tersebut menjadi jalur utama menuju sekolah dasar di seberang sungai. Dalam kondisi darurat, warga menggunakan getek secara bergantian, namun hal ini tidak cukup aman bagi anak-anak dan lansia.
Riwayat Kerusakan Berulang
Jembatan kayu Kali Mayang bukan kali pertama rusak diterjang banjir. Dalam lima tahun terakhir, struktur ini telah hancur sebanyak empat kali. Setiap kali diperbaiki, jembatan hanya bertahan beberapa bulan sebelum kembali hanyut. Hal ini menunjukkan bahwa konstruksi kayu tidak lagi memadai untuk menghadapi intensitas banjir yang semakin tinggi.
Menurut laporan Radar Jember, banjir kali ini terjadi akibat curah hujan ekstrem di wilayah hulu Kali Mayang sejak Jumat (7/11/2025). Debit air meningkat tajam dan menghantam bagian tengah jembatan yang paling rentan. Warga sekitar menyebutkan bahwa suara gemuruh air terdengar sejak dini hari, dan menjelang pagi, jembatan sudah tidak terlihat lagi.
Harapan Warga: Jembatan Permanen
Warga Dusun Krajan dan sekitarnya telah lama mengusulkan pembangunan jembatan permanen berbahan beton kepada pemerintah kabupaten. Namun, hingga kini belum ada realisasi. Mereka berharap agar pemerintah segera turun tangan, mengingat jembatan tersebut bukan hanya akses pertanian, tetapi juga jalur vital untuk pendidikan, kesehatan, dan ekonomi lokal.
Pembangunan jembatan beton dinilai lebih tahan terhadap banjir dan bisa bertahan hingga puluhan tahun. Beberapa tokoh masyarakat telah mengajukan proposal ke Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Jember, namun masih menunggu tindak lanjut.
Potensi Solusi dan Inisiatif Lokal
Sebagai langkah darurat, warga berencana membangun jembatan gantung sementara dari tali baja dan papan kayu. Namun, biaya yang dibutuhkan cukup besar dan memerlukan dukungan dari berbagai pihak. Beberapa komunitas lokal dan organisasi sosial mulai menggalang dana melalui platform digital dan kegiatan sosial.
Selain itu, ada usulan untuk membentuk tim relawan desa yang bertugas memantau kondisi sungai dan memberikan peringatan dini saat debit air meningkat. Sistem ini diharapkan bisa mencegah korban jiwa dan meminimalkan kerusakan infrastruktur.
Peran Pemerintah dan Mitra Pembangunan
Pemerintah Kabupaten Jember diharapkan segera melakukan survei teknis dan mengalokasikan anggaran untuk pembangunan jembatan beton di Kali Mayang. Selain itu, kolaborasi dengan mitra pembangunan seperti CSR perusahaan lokal dan lembaga donor bisa menjadi solusi percepatan.
Pembangunan jembatan tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga menyangkut hak dasar warga untuk mobilitas yang aman dan layak. Dalam konteks perubahan iklim dan intensitas hujan yang meningkat, pendekatan pembangunan harus berbasis ketahanan dan keberlanjutan.
Refleksi: Infrastruktur dan Ketahanan Desa
Peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa desa-desa di Jember membutuhkan perhatian serius dalam hal infrastruktur dasar. Ketahanan terhadap bencana alam harus menjadi prioritas, terutama di wilayah yang rawan banjir seperti Ambulu.
Jembatan kayu yang terus-menerus rusak adalah simbol ketidaksetaraan akses dan perlunya intervensi yang lebih kuat dari pemerintah. Warga telah menunjukkan ketangguhan dan solidaritas, namun tanpa dukungan struktural, mereka akan terus berada dalam siklus kerentanan. (husnul-mg-uinpo/kid)
Editor : Nur Wachid