Jawa Pos Radar Lawu - Kasus keracunan massal MBG (makanan bergizi gratis) kembali menyita perhatian publik.
Kali ini, dua cucu Mahfud MD keracunan MBG usai menyantap menu MBG di sekolah di Yogyakarta.
Mahfud menyebut, kedua cucunya ikut keracunan bersama enam murid lain di kelas yang sama. “Cucu ponakan ya. Satu kelas itu delapan orang langsung muntah-muntah,” ungkap Mahfud.
Satu Dilarikan ke RS, Satunya Pulang
Dari dua cucunya, salah satunya hanya mengalami muntah-muntah dan diperbolehkan pulang usai dirawat sehari.
Namun, satu cucu lainnya mengalami kondisi lebih berat hingga kejang-kejang dan harus dirawat di rumah sakit selama empat hari.
“Ada dua, iya bersaudara, beda kelas. Kakaknya habis muntah-muntah sehari disuruh pulang. Tapi adiknya sampai empat hari di rumah sakit,” jelas Mahfud.
Sentil Presiden Prabowo Soal “Angka Kecil”
Mahfud juga menyinggung pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut korban keracunan MBG hanya 0,0017 persen dari total penerima.
Ia menilai persoalan ini tidak bisa dipandang sekadar angka.
“Meskipun betul hanya 0,0017 persen dan kecil sekali, tapi ini menyangkut nyawa. Jutaan pesawat terbang lalu lalang tiap hari, kecelakaan satu saja tidak sampai 0,001 persen, orang ribut. Karena ini soal kesehatan,” tegas Mahfud.
Perlu Evaluasi Program MBG
Mahfud menegaskan program MBG sejatinya mulia karena bertujuan menyediakan makanan bergizi bagi siswa, terutama dari keluarga kurang mampu.
Namun, ia menekankan perlunya evaluasi menyeluruh, termasuk kualitas makanan, distribusi, hingga tata kelola.
“Ini bukan persoalan angka, ini harus diteliti lagi apa masalahnya,” tandas Mahfud. (kid)
Editor : Nur Wachid